Senin, 24 Februari 2025

Teologi Kenikmatan

Terlalu sering, Kekristenan dipersempit sebagai iman yang menyangkal dan menekan keinginan, menjauhi kenikmatan. Namun, bagaimana jika kenikmatan, jika dipahami dengan benar, merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk manusia? Bagaimana jika, alih-alih takut akan kenikmatan, kita belajar untuk mengelolanya dengan cara yang memuliakan Tuhan?

Dalam Pengkhotbah 2:1-11, 24-26, Pengkhotbah merenungkan tentang kenikmatan duniawi. Ia menemukan makna kenikmatan duniawi dan mempertimbangkan signifikansinya. Ia menyimpulkan: sia-sia. Artinya tidak ada makna kekal dalam mengejar kenikmatan duniawi (di bawah matahari).

Istilah “kegirangan” (kesenangan/kenikmatan) dalam ibraninya simha dapat berarti kenikmatan surgawi dan kenikmatan duniawi. Kenikmatan surgawi berarti kegembiraan yang timbul dari kegembiraan dalam Tuhan dan menyembah-Nya. Kenikmatan duniawi berarti kesenangan materiil dan inderawi. Pengkhotbah “mengalami kesenangan” (experience pleasure) dan “menikmati kehidupan” (enjoy the good life) untuk memaknai hidupnya. Tetapi pada akhirnya Ia menyimpulkan bahwa usahanya itu sia-sia (hebel) karena hal itu tidak benar-benar mencapai sesuatu yang bernilai.

Pengkhotbah mengeksplorasi kesenangan lebih rinci sebagai sumber makna atau keuntungan dalam hidup. Pertama, kenikmatan melalui minuman (ayat 3). Tindakan “meminum” merupakan tindakan yang terkait dengan kepuasan dan kesegaran (Yohanes 4:9-14; 7:37-39; Wahyu 21:6). Beberapa menafsirkan keadaan pengkhotbah dapat mengendalikan diri (behave) sekalipun sudah banyak minum anggur. Minum anggur, juga, tidak dengan sendirinya merupakan tindakan bodoh (secara eksplisit dipuji dalam Pengkhotbah 9:7). Masalahnya adalah meminum anggur itu tidak “menyelesaikan” apa pun yang diharapkan.

Dalam alkitab, anggur menggambarkan hal positif dan negatif. Secara negatif, anggur bisa disalahgunakan dan menjadi sarana untuk kehilangan pengendalian diri (Amsal 20:1; Hosea 4:11-12; Efesus 5:18). Secara positif, anggur menggambarkan sukacita, perayaan, kelimpahan berkat dari Tuhan Allah, dan bahkan berkat eskatologis (Mazmur 4:7; Lukas 22:7). Pengkhotbah memaknai anggur sebagai sarana sukacita di bawah matahari (Pengkhotbah 9:7).

Kedua, kesenangan melalui membangun bangunan besar: rumah-rumah, taman-taman dan kebun-kebun anggur (ayat 4-6). Dalam hal ini, pengkhotbah tidak membangun sebagai seorang dermawan (philantrophy) atau bangunan publik melainkan untuk kesenangan diri (self-pleasure). Sang “raja” mengubah lingkungannya dan memfasilitasi dirinya untuk mendapatkan kesenangan hidup. Seolah-lah, pengkhotbah mempunyai kuasa mirip dengan Tuhan (godlike). Ini ditegaskan dengan istilah yang digunakan berhubungan erat dengan ciptaan Tuhan di taman Eden (1 Samuel 12:24; Mazmur 126:2-3). Rumah, kebun anggur, kebun, dan taman semuanya disebutkan, kata terakhir dari istilah-istilah pardes berasal dari kata Persia pairi-daeza, “sebuah kandang,” dari mana kita juga akhirnya mendapatkan kata Firdaus (paradise). Pengkhotbah menyombongkan dirinya dan berambisi menciptakan sesuatu seperti Firdaus, namun usahanya gagal.

Ketiga, kesenangan melalui kepemilikan hal-hal materiil: budak, binatang, logam mulia (ayat 7-8a). Dia menggambarkan harta yang dimilikinya. Harta itu adalah hasil dari upeti (harta raja-raja) dan pajak daerah kekuasaannya. Cadangan perak dan emas Salomo disebutkan dalam 1 Raja-raja 10:14-25; 2 Tawarikh 9:27.

Keempat, kesenangan melalui seni (ayat 8b). Pengkhotbah juga menikmati musik dengan menciptakan paduan suara campuran. Ada kemungkinan bahwa paduan suaranya terdiri dari laki-laki dan perempuan membedakannya dari paduan suara ibadah, yang hanya terdiri dari laki-laki suku Lewi.

Kelima, kenikmatan seksual (Ayat 8c). Gundik disebut kesenangan umat manusia. Istilah kesenangan di sini mengacu pada kenikmatan erotis seperti dalam Kidung Agung 7:7.

Ayat 9-11 merupakan kesimpulan refleksi pengkhotbah atas makna kenikmatan. Ayat 7 dan 9 menyatakan bahwa dia menjalani hidup lebih baik dan merayakan hidup lebih daripada orang lain dalam hal kenikmatan ragawi. Ayat 10 menyatakan bahwa ia tidak menahan diri, tidak menyangkal diri dalam mengejar makna dalam kenikmatan indrawi. Ini merupakan hasil dari jerih payahnya. Namun, dalam ayat 11 menyatakan bahwa hasil akhir dari jerih payah ini adalah kesia-siaan. Kerja keras di bawah matahari tidak menghasilkan untung melainkan buntung. Hal ini digambarkan dengan peribahasa: usaha menjaring angin.

Lalu, bagaimanakah seharusnya kita hidup?

Dalam ayat 24-26, pengkhotbah menyatakan jika tidak ada makna tertinggi dapat dicapai dalam kehidupan di bawah matahari, maka seseorang harus tidak kehilangan kesempatan untuk menikmati hidupnya. Jangan menunggu hari esok, jangan kehilangan kenikmatan hidup yang mungkin ada di masa sekarang. Mengapa? Karena kenikmatan sementara ini juga datang dari tangan Tuhan. Ini adalah anugerah umum Allah bagi manusia.

Namun, pengkhotbah mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa menikmati kenikmatan sementara ini kecuali Tuhan mengizinkannya. Itu ada dalam kendali Tuhan dan Tuhan akan membagikannya kepada siapa pun yang Tuhan inginkan. Dia mengizinkan hal-hal baik dan buruk kehidupan kepada orang-orang. Tuhan terlibat dengan segala hal yang terjadi di dunia. Tuhan Allah sebagai Sumber Kenikmatan.

Selasa, 18 Februari 2025

Mengejar Hikmat (2)

Hikmat sebagai sarana memahami Dunia

Pengkhotbah menggunakan “hikmat” di seluruh pasal 2 (Pengkhotbah 2:3), mengakui bahwa hikmat lebih baik daripada kebodohan (Pengkhotbah 2:13, 19, 26). Keuntungan orang berhikmat yaitu dapat mengenali pemahaman atau cara hidup yang tidak tepat dalam dunia. Bahkan, hikmat dapat memberikan solusi dalam waktu tertentu, sekalipun tidak sempurna. Ada banyak hal di dunia ini berusaha mengalihkan fokus kita lepas dari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (mis. kerja, keluarga, materi, dll). Ada banyak propaganda palsu seperti ajaran-ajaran seolah benar dan menyenangkan untuk dijalani (mis. tradisi, self-love, kebebasan, agama, toleransi, cinta uang, hedonism, materialisme, kejahatan untuk kebaikan, dll - lihat juga Kolose 2:8; 2 Petrus 1:16; 2:3). Dunia berdosa juga membawa kita untuk mengabaikan kebenaran. Seseorang berkata: “ada Tuhan”, kita mengantuk dan tidak peduli. Selain itu, kita didorong untuk mengutamakan kebahagiaan. Hal ini sepertinya tidak salah, namun jadi jebakan untuk membuat kita tidak melihat realita secara utuh dan kritis. Kalau Tuhan dan ajaran alkitab tidak membuat kita bahagia (menurut pikiran dan standar dunia), maka kita mencari kebahagiaan apa yang diberikan oleh dunia. Terakhir, subjektivisme yang menekankan bahwa yang penting adalah “kebenaran menurutmu” dan “kebenaran menurutku” yang mengantar pada relativisme. Hikmat membantu mengenali jebakan-jebakan dosa ini.

Hikmat duniawi tidak cukup

Namun, hikmat duniawi tidak cukup. Dengan hikmat, pengkhotbah mengharapkan dapat memahami dan menyelesaikan persoalan dunia. Sebaliknya seperti dalam Pengkhotbah 1:15, ia hanya menemukan “kebengkokan”, sebuah dunia yang sangat menentang kecakapan intelektual raja (Pengkhotbah 7:13). Memahami berarti menciptakan makna dari kekacauan. Hikmat bukanlah instrumen pasif. Hikmat bisa menjadi alat yang ampuh, terutama di tangan raja atau pemimpin, untuk memahami dunia dan bahkan menciptakan makna di tengah kekacauan dunia. Kenyataannya, dunia berdosa tetap kebal terhadap upaya intelektual (Pengkhotbah 1:4b). Seperti pasir di tepi pantai atau bintang-bintang di langit yang tak terhitung banyaknya, kekurangan dunia tidak dapat dihitung (Pengkhotbah 1:15b). Alam semesta dalam dosa pada dasarnya tanpa harapan. Ini tidak bisa diselesaikan dengan tuntas oleh manusia berdosa.

Hikmat Allah, Tuhan Yesus Kristus

Kebijaksanaan konvensional, sebagaimana tercermin dalam sebagian besar kitab Amsal, menyatakan bahwa mengejar hikmat menjamin kebahagiaan dan kemakmuran (Amsal 2:10; 3:13-18), dan mereka yang menyerah pada kebodohan hanya akan menemukan susah hati bahkan merusak diri sendiri (Amsal 5:9-14; Pengkhotbah 7:17). Paulus mengubah ratapan Pengkhotbah menjadi dasar pujian ketika ia menyatakan bahwa kebodohan Allah sebagai “lebih besar hikmatnya dari pada hikmat manusia” (1 Kor. 1:18-25). Firman Tuhan menyatakan bahwa hikmat Allah itu pribadi yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Korintus 1:22-24).

Senin, 10 Februari 2025

Mengejar Hikmat


Kita dapat menemukan banyak buku mengenai kemampuan berpikir manusia yang luar biasa dan peran pentingnya dalam kehidupan manusia. Misalnya buku "Thinking, Fast and Slow" yang ditulis oleh Daniel Kahneman pemenang Nobel Memorial Prize in Economic Sciences (2002). Dalam buku itu dinyatakan terdapat dua sistem berpikir di mana sangat berperan dalam memutuskan sesuatu dan kemudian sangat berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Hikmat memang sangat perlu dan sangat membantu kita menjalani dan memaknai kehidupan ini. Namun, apakah hikmat itu cukup?

Pengkhotbah 1:12-18 masih terkait dengan persoalan Pengkhotbah 1:3. Menyelidiki dunia dan mengejar hikmat merupakan dua hal yang termasuk jerih payah manusia di bawah matahari. Hikmat Salomo adalah sebuah pemberian dari Tuhan yang memberinya kekayaan dan kehormatan, yang menghasilkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyatnya, dan yang menarik kekaguman dan kunjungan dari orang-orang di seluruh dunia kuno (1 Raja-raja 3:12-13, 16-28; 4:21-34; 9:10-10:29). Kebijaksanaan adalah dasar dari kehidupan salah satu raja Israel yang paling sukses dan efektif. Amsal 25:2, kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu. Namun kesaksian orang pertama “Salomo” memberitahu kita kisah yang berbeda dari yang mungkin kita harapkan berdasarkan kisah hidupnya. Dunia adalah ruang kelas raja, laboratoriumnya. Penyelidikan raja meliputi tiga bidang: dunia (Pengkhotbah 1:12-15), hikmat (Pengkhotbah 1:16-18; 2:12-23), dan kesenangan/kenikmatan (Pengkhotbah 2:1-11, 24-26).

Menurut Alkitab, Istilah ḥokmâ (hikmat) mempunyai makna yang luas dan dalam. Ini bisa merujuk pada keterampilan teknis dari mereka yang membuat pakaian untuk imamat (Keluaran 28:3) dan yang membangun tabernakel (Keluaran 31:3, 6). Ini mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian (1 Raja-raja 3:28; Yessaya 11:1–6) dan untuk memimpin orang (Ulangan 34:9). Menurut Bruce Waltke (Waltke 2004: 76–77), hikmat dapat diringkas sebagai kemampuan untuk memahami bagaimana kehidupan berjalan untuk merespons dengan tepat. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengembangkan keterampilan dalam menjalani kehidupan yang bijaksana dengan mampu menavigasi kehidupan untuk mencapai kesuksesan. Memahami karakter berbagai jenis orang diperlukan untuk mengetahui bagaimana menanggapi mereka. Kebijaksanaan juga mencakup pemahaman tentang cara kerja dunia yang Tuhan ciptakan karena Tuhan mencipta dengan hikmat-Nya dan itu nyata dalam ciptaan-Nya (Amsal 3:19). Tindakan atau sikap tertentu dapat menyebabkan hasil tertentu. Hasil ini tidak amoral tetapi mencerminkan keadilan Tuhan karena tatanan ilahi dunia berasal dari karakter Yahweh yang benar. Semakin baik seseorang memahami cara dunia bekerja, semakin baik keputusan yang dapat diambil seseorang dalam mencari jalan kebijaksanaan.

Dalam Pengkhotbah 1:13, Pengkhotbah membulatkan hati menyelidiki dunia dengan hikmat namun menyimpulkan hal itu merupakan aktivitas sia-sia (pointless activity). Hal ini seolah-olah merupakan kesusahan yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia. Jika dibandingkan dengan Pengkhotbah 2:24–26; 3:12–13, maka Pengkhotbah tidak berpandangan bahwa Tuhan Allah yang memberikan kesusahan pada manusia. Pemberian Allah yang baik dapat menjadi beban karena terkait dengan tanggung jawab manusia yang telah berdosa (mis. anak, harta, nama baik, hikmat, dll bdk. Kejadian 3:16-19; Roma 1:18-32).

Pengkhotbah 1:1–11 menyatakan masalah manusia yang mendasar terletak pada ketidakselarasan antara ekspektasi dan realitas. Ayat 14 menyatakan usaha manusia pada dasarnya merupakan penolakan terhadap realitas akan dosa. Usaha ini disebut sebagai menjaring angin. Ayat 17, pengkhotbah membulatkan hati untuk memahami hikmat itu sendiri. Mungkin upaya menyaring apa yang diketahui dan memisahkan kebijaksanaan dari “kegilaan dan kebodohan” adalah jalan penting bagi masa depan manusia. “Kegilaan” mengandung konotasi arogan melawan Tuhan daripada memuji Tuhan; “kebodohan” adalah antitesis dari kebijaksanaan (Pengkhotbah 2:3, 13; 10:1). Mungkin melalui upaya intelektual untuk membedakan hal-hal ini dengan lebih akurat—untuk mempertajam pemahaman seseorang tentang dunia—dan dengan demikian dapat melepaskan diri dari jebakan yang dibuat oleh kehidupan untuk orang biasa.

Namun, hikmat manusia terbatas. Dalam Pengkhotbah 1:15-18 menyatakan ada hal-hal yang membuat hikmat manusia itu terbatas. Ada hal-hal yang tidak sanggup diselesaikan oleh hikmat manusia. Terdapat sesuatu yang telah Tuhan buat “bengkok” tidak dapat diluruskan dengan usaha manusia yang fana. Demikian pula ketika kita mencoba menghitung untung-rugi dari usaha kita, seolah kita dapat memperhitungkan dengan tepat. Namun, ada hal-hal di luar perhitungan kita. Sehingga bisa saja kita hitung untung, berakhir kerugian. Sekalipun hikmat itu lebih baik dari pada kebodohan, hikmat manusia terbatas dan sangat dapat salah. Hikmat dapat menghilangkan ilusi dalam kehidupan namun tidak secara total melepaskan atau menyelesaikan persoalan hidup manusia berdosa.

Selasa, 04 Februari 2025

Ekspektasi dan Realita


Fakta hidup yang seringkali membawa kita pada kesedihan yaitu ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Ini pula yang dinyatakan dalam Pengkhotbah 1:8-11. Inilah arti dari kesia-siaan eksistensi manusia. Hal ini dapat diamati melalui 3 aktivitas manusia sehari-hari yang “tidak mencapai hasil akhir”: berkata, melihat, mendengar. Perkataan manusia tidak pernah mencapai tujuannya. Ini berarti ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan sulit untuk diselesaikan atau digambarkan dengan kata-kata (the incapacity of language to communicate perception and experience). Melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga tidak pernah mencapai hasil akhir. Ini artinya mata dan telinga tidak pernah puas seperti laut yang tidak pernah penuh.

Selanjutnya, pengkhotbah mengamati sejarah manusia di mana terus berulang tanpa ada sesuatu yang baru. Sejarah tidak berjalan maju dan setiap individu menjalani kehidupan yang tidak pernah mencapai harapan atau rencananya. Jika sesuatu dianggap sebagai penemuan (inovasi), itu hanya karena kita lupa akan masa lalu. Apa yang kita lakukan hari ini terlihat baru namun hal itu tidak sungguh baru dan tidak akan diingat di masa depan. Masa sekarang hilang ditelan masa lalu dan masa depan. Misalnya pandemi muncul setiap periode tertentu, perang terus berlanjut, teknologi sekarang hanya pengembangan dari teknologi masa lalu dan bahkan ada yang pengulangan semata. Sejarah manusia “di bawah matahari” direduksi menjadi rutinitas yang melelahkan. Tidak ada keselamatan dari dunia berdosa.

Bagaimana cara pandang “dunia di atas matahari”?

Sejarah dikendalikan dan digerakkan oleh Tuhan Allah untuk mencapai tujuan-Nya. Mazmur 96:1 menyatakan kemungkinan sesuatu yang baru muncul berupa nyanyian baru bagi TUHAN. Yeremia 31:31 menyatakan kemungkinan adanya perjanjian baru. Secara eskatologis, Yessaya 65:17 menyatakan tentang langit dan bumi yang baru. 

Senin, 27 Januari 2025

Dunia yang Membosankan

Pengkhotbah 1:4-7 menyatakan tentang kesia-siaan dalam dunia alamiah, dunia yang membosankan. Ayat 4, dunia sebagai unchanging place (the permanence of the earth). Keberadaan dunia tidak terpengaruh oleh pergantian manusia. Terdapat kontras antara aktivitas di bumi yang bergerak secara cyclical degan bumi yang cenderung tetap (statis).

Selain itu digambarkan pola mekanik yang statis (the rule of regularity and predictability) dalam ayat 5-7: matahari terbit-terbenam, perputaran angin ke selatan-utara, air mengalir sungai-laut. Aktivitas berlimpah; semuanya bergerak terus-menerus, seperti hamster di dalam roda, tetapi tidak ada tujuan yang tercapai. Aktivitas ini “sia-sia” karena tidak menghasilkan sesuatu yang berbeda dari apa yang telah ada. Misalnya: matahari “terburu-buru” terbenam menyatakan tanpa tujuan, air mengalir ke laut tapi laut tidak penuh juga.

Dunia “di bawah matahari” itu seperti jam yang bergerak secara mekanik-statis tanpa tujuan yang lebih tinggi/mulia, ad infinitum. Dunia yang tidak berawal, tidak berakhir, tidak ada sabat (rest). Dalam filsafat Kristen, ini bisa disebut sebagai “kosmos tanpa penciptaan” (cosmos without creation). William P. Brown mengatakan "The cosmos is a corpus or, more accurately, a series of discrete bodies all in motion but without purpose or direction, a universe created in the image of the toiling individual."

Bagaimana cara pandang “dunia di atas matahari”?

Banyak bagian dari Alkitab seperti Kejadian 1-2, Mazmur 19, Mazmur 104 dan Ayub 38-41 menyatakan keterlibatan Tuhan Allah atas ciptaan dari mencipta dan menopang. Ciptaan mempunyai tujuan memancarkan kemuliaan Allah dan memuji Tuhan Allah Sang Pencipta. Mzm. 19:5 menggambar matahari seperti laki-laki perkasa yang memancarkan kemuliaan Allah. Mzm. 104:3-4 menyatakan Tuhan Allah menggerakkan angin sebagai pelayan-Nya untuk menggenapi rencana-Nya. Mzm. 104:10 menyatakan bahwa Tuhan Allah melepas air untuk menjadi minuman bagi binatang dan tumbuh-tumbuhan. 

Rabu, 15 Januari 2025

Kesia-siaan Hidup

Cain Slays Abel (1866) oleh Gustav Dore

Alkitab mengisahkan orang tua pertama di bumi yang mempunyai dua anak setelah kejatuhan manusia dalam dosa. Keduanya mempersembahkan persembahan bagi Tuhan Allah. Yang satu mempersembahkan dari hasil tanahnya. Yang kedua mempersembahkan dari hasil ternaknya. Yang kedua memperoleh perkenanan Tuhan namun kemudian menjadi korban iri hati dari saudaranya. Kain membunuh Habel. Habel dari ibrani Hebel berarti sia-sia dan fana. Itulah gambaran kehidupan manusia sesudah jatuh dalam dosa seperti Habel. Muncul sejenak, lalu hilang seperti uap. Seperti Habel memperoleh persetujuan Tuhan namun menjadi korban ketidakpuasan saudaranya, Kain, maka setiap keuntungan dalam hidup, betapa pun nyata dan amannya, dapat dengan mudah, “lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali” (Ams. 23:5).

Dalam Pengkhotbah 1:1-11 dinyatakan leitmotif (frase melodi utama) dari kitab ini adalah kesia-siaan. Kata ini diulang tidak kurang dari 37 kali. Istilah ibraninya, hebel berarti vapour, breath, vanity. Gambaran lain Alkitab menyatakan Kesia-siaan kiasan untuk hampa (diterbangkan hembusan nafas) dan tidak bernilai (Yesaya 57:13) atau tidak berguna (Yesaya 30:7; 49:4).

Secara filosofis, Peter Kreef menjelaskan arti dari kesia-siaan (vanity). Kesia-siaan berarti “in vain, useless, profitless.” Dalam istilah Ibrani digambarkan seperti “menjaring angin, menangkap bayangan, mengejar angsa liar” (namun tidak ada angsa liar). Sia-sia berarti tidak ada telos (tujuan), yang ada hanya akhir yaitu kematian. Tidak ada alasan untuk hidup (a reason to live) dan mati (a reason to die).

Dalam bahasa inggris, hebel dapat diterjemahkan sebagai ephemerality (fana atau hilang dalam sesaat), emptiness (kehampaan/kekosongan), meaninglessness (ketiadaan makna, arah, atau tujuan), absurdity (tidak masuk akal atau bodoh), dan bahkan shit (sampah atau kotoran). Tapi menurut pemahaman alkitab, “kesia-siaan” tidak tepat diterjemahkan sebagai emptiness, meaninglessness, absurdity, atau shit.

Apa arti kesia-sian menurut Alkitab?

“Kesia-siaan” seperti sebuah bayangan atau fata morgana di mana upaya, harapan, dan rencana manusia “menguap” sebelum terlaksana dan digantikan oleh keinginan dan kesengsaraan. “Kesia-siaan” itu sistemik berarti bagian tak terpisahkan dari struktur kehidupan. “Kesia-siaan” menjadi sumber utama keputusasaan manusia karena tidak dapat dihindari. Kesia-siaan seperti dinding bata yang menghalangi manusia menuju pencapaian keuntungan dan kemuliaan apa pun. Tidak peduli berapa keras manusia berusaha, manusia tidak dapat melindungi dan menghindarkan dirinya dari meminum air fata morgana kehidupan. Kita bukanlah tuan atas hidup kita. Kesia-siaan lebih tepat dipahami sebagai kerapuhan dan kefanaan eksistensi.

Oleh karena itu kita harus seize the moment and live well in it before God, pada saat yang sama menuntun kita untuk menolak keinginan untuk mengendalikan kehidupan apa pun. Menolak untuk memperoleh keuntungan (yitron) yang bersifat antroposentris, yang sering menjadi ciri aktivitas manusia. 

Kamis, 02 Januari 2025

Memaknai Kehidupan

Sisyphus (1548-49) oleh Titian

Sisyphus adalah raja Ephyra (Korintus) yang tamak dan licik. Ia menantang para dewa dan mengikat Kematian (Hades, dewa kematian) sehingga tidak ada manusia yang perlu mati. Ketika dewa kematian terikat, manusia semakin menderita karena yang sakit dan tua tidak dapat mati sehingga mereka menderita terus-menerus. Ketika dewa kematian akhirnya dibebaskan dan tiba waktunya bagi Sisyphus sendiri untuk mati, dia mengarang tipuan yang membuatnya melarikan diri dari dunia bawah. Setelah akhirnya menangkap Sisyphus, para dewa memutuskan bahwa hukumannya akan berlangsung selama-lamanya. Dia harus mendorong batu ke atas gunung; setelah mencapai puncak, batu akan berguling kembali, meninggalkan Sisyphus untuk memulai kembali. Ini dia lakukan selama-lamanya. Hukuman Sisyphus adalah melakukan sesuatu yang tidak berguna dan tanpa ada harapan. Hukumannya adalah Kesia-siaan. Oleh karena itu orang yang melakukan kegiatan yang sia-sia atau tanpa akhir kadang-kadang digambarkan sebagai “Sisyphean.”

Kitab Pengkhotbah dikategorikan sebagai kitab hikmat. Terdapat beberapa kesalahpahaman terhadap kitab pengkhotbah. Pertama, kitab yang menunjukkan kesia-siaan hidup tanpa Tuhan. Kenyataannya adalah ini hanya salah satu yang diajarkan dalam Pengkhotbah dan tidak berhenti di sini. Kitab Pengkhotbah mengantar kita pada makna hidup yang sejati di dalam Kristus. Kedua, Kitab yang merupakan pemikiran orang yang jauh dari Tuhan. Kenyataannya, ini adalah Firman Tuhan yang mewahyukan kebenaran secara monolog melalui sudut pandang penulis yang dipimpin oleh Roh Kudus. Ketiga, kitab yang mengajarkan bahwa pengalaman dunia hanya akan menuju pada pesimisme. Kebenarannya, pesimisme hanya bagi yang hidup di bawah matahari.

Apa tema utama dari Kitab Pengkhotbah? 

Pesan kitab Pengkhotbah dapat diringkas: “hidup itu sulit dan kemudian engkau mati.” Istilah “sia-sia” (meaningless) diulang lebih dari empat puluh kali. Kesia-siaan dimaksud adalah ketiadaan tujuan paling pokok (ultimat) dari hidup. Pengkhotbah menunjukkannya melalui usahanya mencari makna hidup dalam pekerjaan (2:18-23; 4:4-6), kenikmatan (2:1-11), kekayaan (5:10-6:9), hikmat (2:12-17), dan kuasa (4:13-16). Setiap kali dia menyimpulkan Kesia-siaan. Kematian (12:1-7), ketidakmampuan membedakan waktu yang tepat melakukan tindakan yang tepat (3:1-15), dan ketidakadilan (3:16-22; 7:15-18; 8:10-15) merupakan alasan mengapa hidup itu sia-sia. Kita hidup di bawah matahari, yang penuh dgn dosa dan ketidakadilan di mana manusia harus bekerja dengan susah payah kemudian mati (bdk. Kej. 3:17-19). Sia-sia berarti kefanaan, kerapuhan, dan ketidakpastian. Sia-sia berarti tidak mempunyai tujuan bernilai kekal karena hanya di bawah matahari.

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam hidupnya yang sia-sia?

Carpe diem! (“Seize the day!”). Enam kali dalam kitab ini, Pengkhotbah menganjurkan kesenangan kecil seperti makan dan minum untuk mengalihkan diri dari kenyataan hidup yang keras dan kematian yang tak terhindarkan (2:24-26; 3:12-14, 22; 5:18-20; 8:15; 9:7-10). Dan lebih daripada itu, takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya, (Pengkhotbah 12:13) dan nikmatilah hidup ini karena ini adalah pemberian Allah, (Pengkhotbah 2:24, 3:12-13, dll).

Bagaimana kitab yang mengajarkan kesia-siaan hidup (the meaningless of human life) menjadi sangat bermakna (meaningful)? 

Kesia-siaan tidak dapat dikenali atau disadari begitu saja, hanya orang berhikmat yang menyadari kesia-siaan hidup “di bawah matahari.” Hal ini sama seperti hanya orang berhikmat yang tahu apa itu kebodohan. Hanya yang kenal terang yang menyadari apa itu kegelapan. Pascal, dalam Pensées, mengatakan: “Anyone who does not see the vanity of life must be very vain indeed.”

Pengkhotbah mengantar kita pada Yesus Kristus. Pengorbanan-Nya di salib berarti mematikan Kesia-siaan. Kristus mati kemudian bangkit berarti awal pengharapan manusia untuk hidup baru di dalam Dia. Yesus Kristus mati di kayu salib, mengalami kematian di mana kematian menjadi salah satu sebab hidup itu sia-sia menurut Pengkhotbah. Namun Tuhan Yesus Kristus menang atas kematian sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya juga mengalami kemenangan itu (1 Kor. 15:50-57). Dalam Kristus, yang telah mengalahkan kematian oleh kebangkitan-Nya, kita tahu bahwa “dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).  

“Psalms teach us how to worship; Proverbs, how to behave; Job, how to suffer; Song of Solomon, how to love; Ecclesiastes, how to live.” 

- J. I. Packer -  

Senin, 11 Maret 2024

Dosaku dihapus oleh Tuhan Yesus (He Took My Sins Away)

Musik dan Lirik: Margaret J. Harris, 1903

Margaret Jenkins Harris (1865-1919) adalah seorang musisi dan penginjil asal Amerika Serikat. Ia seringkali menjadi penyanyi maupun organis (pemain alat musik organ) dalam kebaktian-kebaktian Kristen. Selain itu, Ia juga secara aktif mengabarkan injil baik melalui lagu yang ditulis dan dinyanyikan maupun melalui khotbahnya. Ia menjadi editor buku lagu Kristen berjudul “Glorious Gospels In Song.” Buku lagu tersebut berisikan himne-himne Kristen yang membawakan pesan Injil. Salah satu lagu yang ditulisnya berjudul “Dosaku dihapus oleh Tuhan Yesus” (He Took My Sins Away). 

Lagu “Dosaku dihapus oleh Tuhan Yesus” mengajarkan kepada kita tentang Injil dan hubungannya dengan kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Bait 1 menyatakan tentang apa yang terjadi ketika kita mendengar Injil dan Roh Kudus bekerja di dalam kita. Kita mengalami duka yang kudus karena sadar akan betapa berdosanya kita sehingga kita sangat perlu pertolongan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang mengasihi dan menebus kita membuat dosa kita dihapuskan sehingga kita diampuni.  Ibrani 13:12 menyatakan, Tuhan Yesus telah berkorban bagi kita agar kita menjadi kudus oleh pengorbanan-Nya (Ibrani 9:11-14). 

Bait 2 menegaskan betapa beratnya beban dosa dan tidak mungkin dihapus oleh perbuatan baik dari orang berdosa (Roma 3:23). Kita hanya bisa diselamatkan oleh kasih karunia di dalam Tuhan Yesus Kristus dan karya Roh Kudus (Titus 3:5). Hanya karena anugerah Allah Tritunggal maka beban dosa kita diangkat dan kita pun hidup dalam syukur. 

Bait 3 memberikan harapan bahwa penebusan Kristus membuat kita tidak menerima hukuman kekal (Roma 5:8-11). Penebusan Kristus itu mendamaikan kita dengan Allah (2 Korintus 5:18-19). Setiap kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus mengalami damai sejahtera sehingga tidak mendapat hukuman kekal. 

Refrain merupakan ungkapan sukacita dan syukur kita karena keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Ini juga yang dilakukan oleh pemazmur karena memperoleh keselamatan dari Allah, “Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan” (Mazmur 16:9-10). Mari kita menyanyikan lagu ini dengan penuh sukacita dan syukur atas keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Rabu, 14 Februari 2024

Pembawa Damai

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius 5:9)

Di dunia ini, adakah hari tanpa konflik? Tidak ada. Sejak manusia jatuh dalam dosa, konflik mewarnai setiap aspek kehidupan kita. Ketika relasi dengan Tuhan Allah rusak karena manusia telah berdosa, maka buah dan kutuk dari dosa, salah satunya, adalah konflik. Dalam Kej. 3:12, manusia menuduh, mengutuk, dan menyalahkan Hawa dan bahkan Allah sebagai penyebab kejatuhannya dalam dosa. Konflik manusia dengan sesama ditegaskan lagi dalam Kej. 3:16. Relasi kasih yang harmonis berubah menjadi relasi kuasa yang menyimpang dan dipenuhi dengan kepentingan diri sendiri. Suatu realita konflik yang tidak asing bagi kita, orang tua berusaha menguasai anak-anaknya demikian pula anak-anak ingin orang tua memperlakukan mereka seperti keinginan mereka. Relasi pertemanan dan persahabatan seringkali didasarkan pada keuntungan dan kenyamanan apa yang bisa kita dapat dari sesama. Ketika yang diperoleh adalah kerugian, kita mulai tidak nyaman dan menjauhi sesama kita. Manakala kita mencari pasangan, kita ingin mereka masuk dalam standar kita dan mengikuti kemauan kita. Karena itulah, konflik terus nyata antara kita dengan sesama.

Damai dalam dunia berdosa hanya bersifat dangkal dan horizontal semata. Damai berarti ada rekonsiliasi untuk memaklumi keadaan masing-masing sehingga tidak ada konflik seperti perseteruan dan bahkan perang. Damai berarti keuntungan yang sama dari kedua pihak (win-win solution). Jika memang demikian? Dasar dari damai berarti adalah keuntungan dan kepentingan masing-masing pihak. Ketika tidak lagi diuntungkan atau kepentingan diinjak-injak, yang terjadi adalah konflik. Ini adalah damai yang palsu. Dunia berdosa tidak dapat menciptakan damai sejati, karena dunia berdosa pada dasarnya akatastasia yaitu ketidakberaturan atau kekacauan (disorder).

Apa kata Alkitab? 

Damai merupakan terjemahan dari istilah Yunani, eirene yang secara prinsip bermakna sama dengan shalom dalam bahasa Ibrani. Salah satu maknanya adalah kehidupan harmonis dengan sesama (bdk. Kis. 7:26; Gal. 5:22; Ef. 4:3; Yak. 3:18). Kehidupan harmonis berarti kehidupan dalam keteraturan yang indah di mana memancarkan damai sejahtera Kristus. Damai sejahtera sejati hanya didapat di dalam Kristus dan itu adalah suatu pemberian (Yoh. 14:27; 16:33). Mengapa? Karena dunia berdosa tidak mampu menelurkan damai sejati. Damai sejati harus dari “luar dunia” yaitu dari Allah yang berinkarnasi, dia adalah Tuhan Yesus Kristus. Dia adalah pengantara pendamaian yang mendamaikan Allah dan manusia berdosa (Rm. 5:1; Kol. 1:20). Dialah Sang Damai (Ef. 2:14-18). Setiap orang beriman kepada Kristus telah memperoleh damai sejahtera sejati di dalam Kristus. Orang-orang demikian memancarkan damai sejahtera Kristus sebagai gaya hidupnya. 

Oleh karena itu, orang beriman dipanggil sebagai pembawa damai. Bukan dengan meniadakan konflik, tapi menyadari bahwa konflik itu bagian dari dunia berdosa. Pembawa damai menyadari dan mengakui adanya ketidakadilan di dalam dunia berdosa. Tapi dengan berani dan tekun mengusahakan damai Kristus hadir di tengah-tengah dunia berdosa. Bertekun dalam mengusahakan damai Kristus nyata dalam kehidupan kita dan sesama. Ini menyiratkan suatu tanggung jawab untuk secara aktif melawan segala rintangan yang ada dalam dunia berdosa dan terus menyatakan keyakinan pada shalom sejati Kerajaan Allah hadir di dunia ini. 

Setiap kali konflik antar sesama terjadi, orang beriman harus berani mengambil langkah untuk menyatakan damai Kristus. Pertama, orang beriman menyadari kesalahan dan kerusakan dosa dari diri sendiri. Bersedia untuk mohon pengampunan dari Allah dan sesama. Selanjutnya, orang beriman dengan pertolongan Tuhan berani dan tekun mengusahakan pihak-pihak terkait untuk menyadari keberdosaannya dan berpegang pada pendamaian Tuhan Yesus Kristus. Bersama-sama bersedia untuk dibarui dalam relasi antar sesama berdasarkan pada kasih Kristus. Kiranya damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kita sekalian. 

Minggu, 17 Desember 2023

Musik: Pengantara Kehidupan Batiniah & Lahiriah

Music is the mediator between the spiritual and the sensual life. – Ludwig van Beethoven (Musikus, 1770-1827)

Musik adalah mediator antara kehidupan batiniah dan lahiriah

Beethoven hidup dalam pengaruh pemikiran Abad Pencerahan (Aufklärung). Beberapa pemikir Abad Pencerahan yang mempengaruhinya seperti Kant dan Hegel. Ia juga mempunyai teman sastrawan berpengaruh yaitu Goethe. Salah satu penekanan dalam pemikiran Abad Pencerahan adalah gagasan tentang kemanusiaan (humanity) dan martabat manusia (human dignity). Menurutnya, musik menjadi pengantara antara dua aspek kemanusiaan yaitu aspek kehidupan batiniah (akal budi) dan lahiriah (hasrat indrawi). Melalui musik, dua arus dalam kemanusiaan berpadu menjadi sesuatu yang indah dan luhur.



Senin, 11 September 2023

Bertumbuh Dalam Kesunyian


Ini adalah kisah tentang tumbuhan yang saya pelihara. Di depan kamar saya ada tumbuhan yang “diwariskan” dari penghuni sebelumnya. Dia tidak tahu nama dari tanaman tersebut, apalagi saya. Tapi setiap hari saya selalu menyirami tumbuhan ini. Sampai suatu kali tumbuhan itu semakin tinggi dan cukup mengganggu jalan yang sempit, sehingga saya memutuskan untuk memotongnya. Dalam hati saya, “Suatu kali tumbuh lagi.” Saya hanya menyisakan batang utamanya. Besok harinya, saya tetap siram. Hari ke-2, saya siram lagi. Hari ke-3, saya mulai berpikir, “Apa benar akan tumbuh? Kok gak keliatan ada pertumbuhan seperti daun hijau atau batang baru muncul.” Saya menanyakan orang lain untuk memastikan bahwa tanaman tersebut akan tumbuh. Orang itu bilang bahwa tanaman akan tumbuh tetap siram air saja. Saya pun tetap melakukannya sampai kurang lebih seminggu tidak terlihat apa-apa. Tibalah saya harus ke Semarang, saya sudah tidak memikirkan lagi bagaimana tanaman tersebut. Setelah saya kembali ke Yogya, saya kaget karena melihat ada daun kecil berwarna hijau muncul. Saya senang dan begitu bersyukur. Saya merenungkan beberapa hal:

1. Jangan lelah untuk bertekun dan berharap. Ketekunan tidak sia-sia karena harapan itu ada. Harapan itu ada karena Tuhan itu nyata. Where there is God, there is hope. Rm. 5:3-5, “… karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

2. Pertumbuhan sejati itu dari dalam ke luar. Selama disiram mungkin belum menghasilkan daun hijau atau batang yang baru tapi tumbuhan itu menyerap semua yang diperlukan bertumbuh. Ia bertumbuh di dalam lalu terpancar ke luar. Yeh. 11:19-20; 36:26-27, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu … . Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.”

3. Kelihatan mati, tidak berarti mati. Secara fenomena, tumbuhan tersebut kelihatan mati meskipun disiram terus-menerus. Tapi kehidupan itu tidak selalu langsung nampak di luar. Kehidupan sejati dari dalam yang kemudian nampak ke luar. Kehidupan sejati membangun akar yang kuat ke dalam, sampai pada waktunya muncul ke luar dan menghasilkan buah pada waktunya (Mazmur 1:3)

Rabu, 30 Agustus 2023

Hidup yang Tidak Sia-Sia

Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 12:13

Akhir kata dari segala yang didengar ialah takutlah akan Allah dan peliharalah perintah-perintah-Nya, karena inilah kewajiban setiap orang.


Kesia-siaan, siapa yang mau? Dalam mitologi Yunani ada kisah menggambarkan kesia-siaan. Sisyphus adalah raja Ephyra (Korintus) yang tamak dan licik. Ia menantang para dewa dan mengikat Kematian (Hades, dewa kematian) sehingga tidak ada manusia yang perlu mati. Ketika dewa kematian terikat, manusia semakin menderita karena yang sakit dan tua tidak dapat mati sehingga mereka menderita terus-menerus. Ketika dewa kematian akhirnya dibebaskan dan tiba waktunya bagi Sisyphus sendiri untuk mati, dia mengarang tipuan yang membuatnya melarikan diri dari dunia bawah. Setelah akhirnya menangkap Sisyphus, para dewa memutuskan bahwa hukumannya akan berlangsung selama-lamanya. Dia harus mendorong batu ke atas gunung; setelah mencapai puncak, batu akan berguling kembali, meninggalkan Sisyphus untuk memulai kembali. Ini yang dia lakukan selama-lamanya. Hukuman Sisyphus adalah melakukan sesuatu yang tidak berguna dan tanpa ada harapan. Hukumannya adalah Kesia-siaan.

Bukankah kita juga tidak ingin hidup sia-sia? Banyak orang tidak mau hidup sia-sia. Tidak mau menjadi Sisyphean. Sebagaimana dinyatakan oleh Peter Kreeft, “Ketakutan terbesar di masa modern, bukanlah ketakutan akan kematian (yang merupakan ketakutan terdalam manusia zaman kuno), atau ketakutan akan dosa atau rasa bersalah atau Neraka (yang merupakan ketakutan terdalam manusia di abad pertengahan), namun ketakutan akan ketidakberartian.”

Kitab Pengkhotbah mungkin tampak seperti buku yang aneh, tetapi ini relevan sampai sekarang. Terlalu banyak dari kita yang mengejar angin, mencari kepuasan dalam pekerjaan, keluarga, dan kesuksesan. Semua hal yang baik, namun semua hal yang pada akhirnya tidak memuaskan. Akan cukup buruk jika kita hanya gelisah, berkelok-kelok sepanjang hidup, dan menjadi pengecut. Kita seringkali telah spiritualisasi kegelisahan dan sikap pengecut kita, membuatnya terasa seperti kesalehan. Kita tidak hanya menjalani kehidupan yang sia-sia; hasrat kita akan Tuhan seringkali tidak lebih dari hasrat untuk memiliki Tuhan supaya melakukan kehendak kita.

Selain, keberdosaan diri (keraguan, ketakutan, kesombongan, egois, dll), dunia berdosa memberikan banyak tantangan bagi kita. Peter Kreeft menyebut beberapa jalan dunia menyembunyikan realita: pengalihan (diversion), propaganda palsu, indifference (pengabaian), pengejaran kebahagiaan (the pursuit of happiness), dan subjektivisme. Ada banyak hal di dunia ini berusaha mengalihkan fokus kita lepas dari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (mis. kerja, keluarga, materi, dll). Propaganda palsu seperti ajaran-ajaran seolah benar dan menyenangkan untuk dijalani (mis. tradisi, self-love, kebebasan, agama, toleransi, cinta uang, hedonism, materialisme, dll) – Lihat juga Kol. 2:8; 2 Ptr. 1:16; 2:3. Lalu, dunia membawa kita untuk mengabaikan kebenaran. Seseorang berkata: “ada Tuhan”, tapi respon kita mengantuk dan tidak peduli. Selain itu, kita didorong untuk mengejar kebahagiaan. Hal ini sepertinya tidak salah, namun jadi jebakan untuk membuat kita tidak melihat realita secara utuh dan kritis. Kalau Tuhan dan ajaran alkitab tidak membuat kita bahagia (menurut pikiran dan standar dunia), maka kita mencari kebahagiaan apa yang diberikan oleh dunia. Terakhir, subjektivisme yang menekankan bahwa yang penting adalah “kebenaran menurutku.”

Kita mendapat tekanan dari dalam diri dan dari dunia. Untuk dapat memaknai hidup kita, apa yang harus kita lakukan?

Tuhan tidak menempatkan kita dalam labirin, mematikan lampu, dan memberi tahu kita, “Keluar dan semoga berhasil.” Di satu sisi, kita percaya pada kehendak Tuhan sebagai rencana kedaulatan-Nya untuk masa depan kita. Dalam arti lain, kita menaati kehendak Tuhan, firman-Nya yang baik untuk hidup kita.

Kehendak Tuhan untuk hidup kita lebih sederhana, lebih sulit, dan lebih mudah dari itu. Lebih sederhana, karena tidak ada rahasia yang harus kita temukan. Lebih sulit, karena menyangkal diri sendiri, hidup untuk orang lain, dan menaati Tuhan lebih sulit daripada mengambil pekerjaan baru dan banyak hal-hal sehari-hari dalam hidup kita. Lebih mudah, karena Tuhan berdaulat, Ia memerintahkan apa yang Dia kehendaki dan mengabulkan apa yang Dia perintahkan.

Dengan kata lain, Tuhan memberi anak-anak-Nya keinginan untuk berjalan di jalan-Nya—bukan dengan mengungkapkan serangkaian langkah berikutnya yang terselubung dalam bayang-bayang, tetapi dengan memberi kita hati untuk menyenangi hukum-Nya.

Jadi akhir dari masalahnya adalah: Hiduplah untuk Tuhan. Taati Firman-Nya. Pikirkan orang lain sebelum diri kita sendiri. Hiduplah kudus. Cintai Yesus. Dan saat kita melakukan hal-hal ini, lakukan apa pun yang kita suka, dengan siapa pun yang kita suka, di mana pun kita suka, dan kita akan berjalan dalam kehendak Tuhan. Maka, hidup kita tidaklah sia-sia.

Senin, 21 Agustus 2023

Apa yang Baik bagi Manusia? (2)

Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 7:1-14

Qohelet membandingkan hal-hal baik dalam hidup dengan hal-hal yang lebih baik. Pertama, lebih baik nama harum daripada minyak yang mahal (ayat 1a). “Nama harum” (ṭȏb shem) lebih baik daripada “minyak mahal” (shemen ṭȏb) yang mewakili kekayaan yang luar biasa dan kesenangan (Kid. 1:3). Minyak yang mahal terdaftar di antara harta Raja Hizkia (2 Raj. 20:13; Yes. 39:2) dan merupakan barang mewah yang sangat diinginkan (Mzm. 133:2-3). Dalam hikmat tradisional, nama harum mengacu pada reputasi yang baik (Ams. 22:1). Mengapa reputasi yang baik itu penting? Karena reputasi-lah yang akan menemani seseorang sampai kematiannya. Nama harum adalah semacam cara untuk mencapai keabadian (Ayb. 18:17; Ams. 10:7; Yes. 56:5). Kematian adalah fakta yang tak bisa disangkali dan tak dapat dihindari namun dengan reputasi yang baik, kematian itu seolah dikalahkan karena reputasi baik akan dikenang sepanjang masa. Namun, sekalipun akan dingat sangat lama, nama baik juga suatu kali akan dilupakan.

Kedua, lebih baik hari kematian daripada hari kelahiran (ayat 1b). Pada umumnya dalam kuno maupun sekarang, hari lahir selalu dianggap sebagai waktu bersukacita. Itu sangat dinantikan sebagai hari berkat (Rut 4:13-17, secara negatif dinyatakan dalam Yer. 20:14-15; Ayb. 3:3-26). Qohelet tidak mengatakan bahwa hari kematian secara harfiah lebih baik daripada hari kelahiran. Sebaliknya, dia hanya mengambil kata-kata pertama ("nama harum lebih baik daripada minyak yang mahal”) ke kesimpulan logisnya, jika sebuah nama benar-benar lebih baik daripada harta benda, maka hari kematian (3:18-21; 4:2-4; 6:1-6) lebih baik daripada hari kelahiran. Jika kematian adalah satu-satunya yang pasti menanti kita, lalu apa arti hidup dan nama yang harum? Semuanya penuh ketidakpastian sedangkan yang pasti adalah hari kematian maka itu hari kematian seseorang lebih baik daripada hari kelahiran. Hari kematian dipandang baik karena memberi kepastian. Namun “bersuka” pada hari kematian merupakan suatu yang absurd.

Ketiga, lebih baik rumah duka daripada rumah pesta (ayat 2). Jika hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran maka rumah duka lebih baik daripada rumah pesta. Secara umum, rumah duka mengacu pada pemakaman, rumah pesta mengacu pada pernikahan. Zaman kuno bukan berarti zaman suram (tanpa sukacita dan pesta). Ada banyak catatan menyatakan masyarakat kuno sering mengadakan pesta dengan minuman dan makanan berlebihan. Apa artinya pergi ke rumah duka lebih baik? Qohelet mengajak kita menghadapi dan menerima kenyataan kematian bahwa manusia fana daripada terjebak dalam euforia perayaan pernikahan. Menghadapi kenyataan kematian akan mendorong seseorang untuk hidup dalam pengakuan akan kefanaan hidup, sedangkan seseorang mungkin tertipu oleh kemeriahan pernikahan dengan berpikir bahwa kegembiraan saat ini akan berlangsung selamanya.

Keempat, lebih baik bersedih daripada tertawa (ayat 3). Istilah bersedih dari ibraninya ka`as (sorrow) secara khusus dipakai untuk merujuk kesedihan relasional (1 Sam. 1:6, 16; Ams. 17:25; Ams. 21:19). Kata ini juga digunakan untuk pengalaman kesakitan dan kesengsaraan secara umum, baik yang dipicu oleh manusia atau dianggap berasal dari Tuhan (Ul. 32:27; Mzm. 6:8; 31:10; 85:5; 1 Raj. 15:30; 2 Raj. 23:26). Dalam tulisan hikmat, istilah ini digunakan untuk kesengsaraan orang-orang bodoh (Ams. 12:16). Arti ayat 3 ini bisa dibandingkan dengan Ams. 14:13. Hidup ini penuh dengan kontradiksi. Hidup itu “paket lengkap”: tidak semuanya baik, juga tidak semuanya buruk. Bahkan di saat-saat kebahagiaan, pikiran manusia terus-menerus menyadari keterbatasan kegembiraan dan fakta bahwa kesedihan selalu menjadi ancaman bagi kebahagiaan manusia. Jadi orang berhikmat hidup dalam kesadaran akan kenyataan kematian dan tragedi lainnya, sedangkan orang bodoh hanya sadar akan kegembiraan.

Kelima, lebih baik muka muram daripada hati lega (ayat 4). Ini terkait dengan ungkapan dalam ayat 1-3. Diringkas demikian: kesedihan lebih baik daripada kegembiraan, muka muram sama dengan kebahagiaan hati, hati orang bijak ada di rumah duka. Penekanan bahwa realitas kehidupan itu penuh dengan kontradiksi. Tidak ada yang bisa mereduksi realitas hidup dan mati, atau kebahagiaan dan kesedihan, menjadi serangkaian proposisi. Realitas kehidupan terlalu kontradiktif bagi seseorang yang terperangkap dalam nilai-nilai yang seringkali idealis dan penuh euforia semu.

Keenam, lebih baik jadi orang berhikmat daripada jadi orang bodoh (ayat 5-7). Lebih baik hardikan orang berhikmat daripada nyanyian orang bodoh (ayat 5). Ini menyatakan ada manfaat yang jelas dari disiplin/didikan, meskipun menyakitkan (Ams. 1:23; 3:11; 6:23; 13:24; 22:15; 27:14; 28:23; Ayb. 5: 17-18). Orang bijak menyadari hal ini, sedangkan orang bodoh justru memberi pujian kosong berlebihan (Ams. 26:28; 29:5). Qohelet memberikan gambaran tentang pujian kosong dari orang bodoh dalam ayat 6 seperti duri terbakar di bawah kuali. Masyarakat Timur Dekat Kuno menggunakan duri sebagai bahan bakar karena duri kering dan mudah terbakar (Nah. 1:10; Mzm. 58:9). Namun duri itu menimbulkan suara keras tak perlu menurut fungsinya dan cepat terbakar habis. Ini berbeda dengan bahan bakar dari kayu atau batu bara. Nyanyian/kegembiraan orang bodoh seperti keributan dari duri yang terbakar yang malah menjengkelkan dan tidak penting. Dengan demikian orang bijak dapat dipercaya daripada orang bodoh sekalipun kata-kata orang bijak itu menyakitkan.

Ketujuh, “Lebih baik akhir suatu hal daripada awalnya” kemudian dilanjutkan “Lebih baik panjang sabar daripada tinggi hati (ayat 8).” Kata Ibrani untuk “akhir” dan “awal” muncul bersamaan beberapa kali dalam Alkitab, dan dalam setiap kasus dibuat kontras antara situasi sebelumnya dan situasi akhirnya (Ul. 11:12; Yes. 46:10; Ayb. 8:7; 42:12). Jika “ṭȏb-sayings” secara tematik saling terkait dan akhirnya memuncak di ayat 8 sebagai konfirmasi dari ayat 5-6. Hasil hardikan/didikan (akhir) lebih penting daripada sakit hati saat dihardik (awal). Kurang penting siapa yang bijak atau siapa yang bodoh pada awalnya, karena yang lebih penting adalah hasil akhir suatu tindakan. Orang bijak pun dapat menjadi bodoh (ayat 6-7). Oleh karena itu setiap orang harus sabar dan rendah hati menanti “akhir” segala sesuatu untuk dapat menilai lebih baik.

Renungan

Pada akhirnya, segala terjadi dalam hidup dalam kedaulatan Tuhan Allah, bukan berdasarkan kemampuan usaha dan hikmat manusia. Bdk. 1:15 - Qohelet mengakui bahwa dunia ini tidak sempurna, tetapi dia tidak berpikir bahwa siapa pun dapat meluruskan apa yang telah Tuhan buat “bengkok.” “Pekerjaan Allah” yang misterius inilah yang membuat pembaca dipanggil untuk “melihat”, mengenali realitas apa adanya (ayat 13). Kesimpulannya bahwa orang hanya dapat menerima apa ada, menerima kebaikan ketika dapat diakses dan menghadapi kesulitan sebagai realita kehidupan (ayat 14).

Realita kehidupan itu ada yang baik bersama dengan yang buruk. Memang, Tuhan "telah menjadikan" apa yang baik, hanya saja di luar kemampuan manusia untuk mengetahui kapan itu akan datang. Manusia hanya bisa "melihat" dan "berada dalam kebaikan" ketika ada yang baik, dan "melihat" bahwa baik dan buruk itu dalam kedaulatan Allah. Pekerjaan Tuhan juga mencakup hari-hari baik dan hari-hari buruk (7:14). Seseorang harus mensyukuri hari-hari baik ketika mereka datang karena masa depan tidak pasti.

Senin, 14 Agustus 2023

Apa yang Baik bagi Manusia? (1)

Bacaan Alkitab:  Pengkhotbah 7:1-14

Pada Januari 1997, seorang yachtsman Inggris Tony Bullimore (15 Jan. 1939 – 31 Jul. 2018), saat itu berumur 58 tahun, berlayar sendirian jauh di Samudra Selatan dalam rangka mengikuti 1996–97 Vendée Globe single-handed around-the-world race. Sebuah badai mengamuk. Ombak yang mencapai ketinggian gedung berlantai lima (25-35 meter), menerjangnya dengan suara seperti guntur yang menderu. Saat kapal pesiarnya jatuh ke muka ombak, kapal itu menabrak sesuatu lalu terendam air dan terbalik. Dua belas kali Bullimore meninggalkan kokpit dalam upaya sia-sia untuk melepaskan rakit penyelamatnya. Bertemu tanpa hasil, dia berlindung di kabin kecilnya. Duduk di dalam kegelapan bertinta dingin Bullimore memiliki sedikit ransum - beberapa cokelat dan alat untuk membuat air tawar dari laut asin. Jari-jarinya menjadi beku dan Bullimore berpikir bahwa dia akan mati. Peluang untuk diselamatkan tampaknya sangat kecil.

Empat empat hari yang panjang Tony selamat (10 Januari 1997), sampai Rabu malam ketika sebuah pesawat RAFF menemukannya dan menjatuhkan probe elektronik di sebelah kapal pesiarnya. Bullimore bisa mendengar ping samar, dan dengan harapan yang naik di hatinya, mulai mengetuk lambung kapal untuk berkomunikasi dengan siapa pun yang mendengarkan bahwa dia masih hidup. Pagi-pagi keesokan harinya HMAS Adelaide mendekat, dan beberapa pelaut dikirim untuk menggedor lambung kapal. Tony mendengar dentuman itu, menarik napas dalam-dalam, dan berenang keluar melalui reruntuhan kapal pesiarnya untuk menemui mereka.

Beberapa waktu sesudah peristiwa itu. Ia diwawancara. Bullimore berkata, “Ketika saya melihat ke Adelaide, saya hanya bisa mendapatkan ekstasi luar biasa yang saya lihat dalam hidup, saya benar-benar melihat gambaran tentang apa kehidupan itu. Itu adalah surga, surga mutlak. Saya benar-benar tidak pernah berpikir saya akan mencapai sejauh itu. Saya mulai melihat kembali kehidupan saya dan mulai berpikir, 'Saya memiliki kehidupan yang baik, saya telah melakukan sebagian besar hal yang ingin saya lakukan' Saya pikir jika saya memilih kata-kata untuk menggambarkannya, itu akan menjadi keajaiban. Keajaiban mutlak.” – Kehidupan itu keajaiban mutlak.

Berkaca pada pengalaman itu, Bullimore mengatakan kepada wartawan, “…Sekarang saya menjadi agak tua, ada satu hal, dan saya tidak keberatan memberi tahu dunia, saya telah menjadi lebih manusiawi. Dalam enam hari terakhir ini saya adalah orang yang berbeda. Saya tidak akan kasar kepada orang-orang, bukan seperti itu, tetapi saya akan menjadi lebih dari seorang pria terhormat dan, sama halnya, saya akan lebih banyak mendengarkan orang. Dan seperti yang dikatakan teman lama saya, David Matherson, ketika dia mengalami serangan jantung – dan saya tidak pernah mengalami serangan jantung, saya memiliki jantung yang kuat, saya harap saya masih memilikinya – dia mengatakan itu ketika dia mendapat di atasnya dan membuka jendelanya di kamar tidurnya dan dia mengintip keluar dan mencium udara segar dan semua yang lain, dia berkata: 'Ya Tuhan rasanya seperti dilahirkan kembali, hidup itu hebat!' Nah itulah yang saya rasakan sekarang, seperti dilahirkan kembali.”

Titik terendahnya dalam kehidupan justru menjadi titik awal melihat harapan dan makna hidup. Inilah paradoks dalam kehidupan.

Demikian pula yang diajarkan dalam Pengkhotbah 7:1-14. Bagian ini merupakan lanjutan dari pertanyaan refleksi Qohelet “Apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia?” (Pkh. 6:12). Pkh. 7:1-8:17 didominasi tentang “ṭȏb-sayings” (apa yang baik bagi manusia yang fana). Beberapa arti harfiah dari ṭȏb yakni good, pleasant, agreeable, excellent, valuable, happy, prosperous. Pkh. 7:1-12 merupakan kumpulan pepatah yang disimpulkan dalam Pkh. 7:13–14. Pepatah ini menggunakan gaya peribahasa “lebih baik daripada” yang menekankan bahwa dalam hidup terdapat hal-hal yang lebih baik daripada hal-hal yang lainnya. Ini berarti setiap hal tidak mempunyai nilai yang sama. Menurut Qohelet, kehidupan yang baik itu mengetahui dan menerima bahwa memang ada hal-hal yang lebih baik daripada yang lain dalam kehidupan yang fana ini (mis. 2:13, 24-26; 3:12-13, 22; 4:6, 9, 13; 6:9). Namun manusia yang terbatas sulit mengetahui secara sempurna mana yang baik dan buruk. Inilah bagian misteri dari pekerjaan Allah.

Selasa, 01 Agustus 2023

Menikah atau Tidak?


Menikah, siapa yang tidak mau? Banyak orang ingin menikah, tapi tidak semua menikah. Zaman sekarang ini banyak juga yang tidak ingin menikah. Dari yang tidak ingin menikah, ada juga tetap tidak menikah namun ada juga kemudian menikah. Menikah memang gak mudah, tapi apakah memang ada yang mudah dalam hidup di bawah matahari? Hampir semuanya sulit. Pada dasarnya sulit untuk menyimpulkan bahwa menikah lebih sulit dibandingkan selibat atau sebaliknya. Karena keduanya memiliki kesulitan masing-masing. Kesulitan ini lumrah karena dunia telah berdosa yang konsekuensinya mencakup setiap aspek kehidupan. Dosa membuat hal-hal baik yang dapat dilakukan oleh manusia seolah menjadi “kutuk” dalam ketidakpastian hidup. Menikah menjadi seperti perjudian. Kalau dapat pasangan yang baik, belum tentu menjadi keluarga yang bahagia. Kalau dapat pasangan yang tidak baik, bisa saja menikmati kebahagiaan sebagai keluarga. Tentu kebahagiaan yang relatif dalam persepsi dan penilaian masing-masing orang. Pasangan suami-istri yang berpikir bahwa mereka pasangan yang ideal, belum tentu ideal menurut orang lain demikian sebaliknya. Dalam dosa, pernikahan seringkali malah menjadi kutuk dan penuh kesedihan. Oleh karena itu, dalam zaman sekarang angka “orang tidak ingin menikah” semakin tinggi, dengan berbagai alasan. 

Apakah itu sepenuhnya realita tentang pernikahan? Suatu lembaga yang berisiko tinggi, penuh kepahitan dan kegagalan? Tidak. Dosa memang memberikan sisi realita yang demikian. Namun kisah kehidupan tidak hanya itu. Karena kemurahan hati Tuhan, maka Ia menyatakan anugerah-Nya kepada ciptaan-Nya. Inilah anugerah umum. Anugerah yang diberikan sebelum kita mengharapkan dan memintanya. Anugerah yang memberi harapan dan kesukaan bagi manusia berdosa bahwa hidup itu layak untuk dijalani dan dinikmati. Anugerah yang hadir seperti hembusan angin sejuk di tengah panas terik kehidupan. Anugerah yang tidak dapat disangkali oleh setiap orang meskipun mulutnya bungkam untuk bersyukur kepada Allah Sang Pemberi Hidup. Dalam anugerah umum, bahkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan dapat menikah dan membangun keluarga yang bahagia secara fenomena. Dalam anugerah umum, orang yang berdosa dimampukan menikmati kemurahan Allah secara sadar atau pun tidak. Sebagaimana dikatakan dalam Mat. 5:45, Dia adalah Tuhan “yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”

Tapi apakah anugerah umum cukup membuat manusia dalam dosa menjalani hidup dalam segala kelimpahannya? Tidak. Anugerah umum adalah berkat Tuhan secara umum kepada ciptaan. Namun kelimpahan hidup hanya dapat dialami dalam Tuhan Yesus Kristus. Dia mengatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai  hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Siapa mereka? Setiap orang yang percaya kepada-Nya. Mereka adalah domba-domba Kristus. Dia adalah Gembala yang baik yang bukan hanya memberikan makanan yang baik bagi domba-domba-Nya, tapi bahkan rela memberikan Diri-Nya untuk menebus domba-domba-Nya. Supaya mereka yang percaya dalam nama-Nya memperoleh hidup dalam segala kelimpahan. Apakah hidup dalam segala kelimpahan itu? Hidup dalam shalom Kristus. Hidup dalam damai sejahtera Kristus. Hidup yang kedamaiannya tidak tergantung pada materi atau pun hal-hal sementara lainnya, tapi tergantung pada Sang Kekal, Tuhan Yesus Kristus. Dia yang menopang seluruh alam semesta, tidak sanggupkah Ia menopang hidup kita? Firman-Nya, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu” (Luk. 12:32).

Minggu, 28 Mei 2023

Sicut Cervus (Mazmur 42:2)


Sicut cervus adalah motet untuk empat suara oleh Giovanni Pierluigi da Palestrina (c. 1525 – 2 Feb. 1594). Teks-nya bersumber dari Mazmur 42 dalam versi Latin dari Psalterium Romanum. Bagian tengahnya adalah "Sicut cervus desiderat ad fontes" (Seperti rusa merindukan sumber air) diikuti dengan bagian kedua "Sitivit anima mea" (Jiwaku haus). Dalam liturgi gereja kala itu, Mazmur 42:1-3 merupakan sebuah ayat alkitab yang digunakan untuk peneguhan baptisan. Namun dalam konteks lebih luas, karya ini dapat dinyanyikan dalam ibadah rutin hari Minggu. 

Sicut cervus desiderat ad fontes aquarum,

(Seperti rusa yang merindukan sumber air,)

ita desiderat anima mea ad te Deus.

(demikian merindu jiwaku pada Engkau, ya Allah.)

Ini merupakan salah satu motets paling populer dari Palestrina, bahkan dianggap sebagai model polifoni Renaisans yang indah mengungkapkan kerinduan spiritual. Motet ditulis untuk empat suara, soprano, alto, tenor, dan bass. Seluruhnya diatur dalam polifoni imitatif, dengan memperhatikan makna teks dalam lukisan kata (word-painting) yang halus. Polifoni adalah jenis komposisi musik yang disusun dengan banyak suara yang seringkali per suara dengan entri berbeda-beda. Untuk kata "desiderat" yang mengungkapkan kerinduan, langkahnya lebih cepat, dan melodi meninggi, mencapai puncaknya pada kata "fontes" (sumber air, sungai, air, air mancur). Dalam kelanjutan dari bagian pertama, "ita desiderat anima mea ad te, Deus" (Demikianlah merindu jiwaku pada-Mu, Tuhan), keinginan manusia yang diungkapkan subjek orang pertama diterjemahkan dalam peniruan yang lebih padat dan dengan disonansi yang lebih intens. Motet menyatakan ekspresi "kerinduan spiritual yang tenang namun kuat." 

Gaya motets ini mewakili polifoni imitatif dalam keadaannya yang paling ideal, dengan bentuk melodi (struktur frase) yang seimbang, disonansi yang disiapkan dan diselesaikan secara konsisten, dan simetri secara struktural. Secara khusus, melodi dicirikan oleh interval melodi yang lebar, dengan gerakan bertahap ke arah yang berlawanan mengikuti lompatan sepertiga atau keempat; ritme berada dalam rentang nilai durasi yang sempit, dengan dominasi not setengah dan seperempat (dalam transkripsi masa kini); dan harmoni diatur secara logis, dengan membangun ketegangan diikuti dengan titik temu resolusi yang tak terelakkan pada beberapa bagian dalam komposisinya.

Untuk penyanyi membutuhkan fokus yang hati-hati, paling tidak untuk membawakan baris yang biasanya melibatkan (a) perbedaan yang halus bahkan ketika mereka tampaknya mirip dengan yang lain, (b) entri dengan waktu yang unik dan akhir frase yang berbeda-beda, dan (c) ritme bebas yang berulang kali memotong garis birama namun dengan tempo yang stabil.

Frasa yang sebanding dengan kapasitas pernapasan penyanyi meningkatkan kemungkinan bernyanyi dengan baik. Setiap garis menonjol dalam tekstur. "Kepemilikan" terhadap garis melodi per suara meningkat. Di atas segalanya, ada kebutuhan yang lebih besar akan kepekaan terhadap bagian satu sama lain, kesadaran akan setiap hubungan, kemampuan untuk mendengar garis melodi suara yang berbeda. Penyanyi dapat dengan lebih mudah mempertimbangkan apa yang dilakukan oleh bagian suara lainnya, di mana dia bergabung, bernyanyi atau berpisah dengannya di berbagai titik, bagaimana rasanya bernyanyi sekarang dengan orang X, kemudian dengan orang Y. Ada nuasa kesadaran sosial yang tinggi, bergerak dari teknik ke semangat dan etos. 

Sicut Cervus membangun hasrat surgawi yang murni dengan semangat yang tenang yaitu menginginkan Tuhan lebih daripada apa pun. Dalam komposisi ini keragaman disatukan oleh kerinduan yang sama akan Allah. Kiranya kerinduan akan Tuhan Allah semakin menderu dengan kuat dalam diri setiap kita yang percaya kepada-Nya.

Sumber Bacaan:
Dennis Shrock. 2009. Choral Repertoire.
Jonathan Boswell. 2018. Palestrina for All: Unwrapping, Singing, Celebrating. CreateSpace Independent Publishing Platform.

https://en.wikipedia.org/wiki/Sicut_cervus_(Palestrina)
https://en.wikipedia.org/wiki/Giovanni_Pierluigi_da_Palestrina

Jumat, 07 April 2023

Tercurah Darah Tuhanku

William Cowper (1731-1800) adalah seorang penyair dan penulis himne dari abad ke-18. Hidupnya adalah serangkaian peristiwa yang tidak menguntungkan, dengan keputusasaan menjadi tema hidupnya. Dia dibesarkan di 'rumah Kristen', ayahnya bekerja di gereja, meskipun dia belum mengalami pertobatan sejati dalam Yesus Kristus sampai dia berusia 32 tahun. Dia tahu tentang Tuhan tetapi tidak mengenal Tuhan. Ibunya meninggal ketika dia masih kecil, kemudian hari ayahnya meninggalkan dia sehingga pada dasarnya dia kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Dia dikirim ke sekolah berasrama di mana dia diintimidasi oleh seorang anak laki-laki yang lebih tua. Mengikuti sekolah berasrama dia magang untuk menjadi pengacara tetapi dia tidak pernah benar-benar bekerja sebagai pengacara.

Pada tahap inilah dalam hidupnya, dia tenggelam dalam depresi pertamanya, yang pertama dari empat depresi. Dia menyatakan bahwa rasanya dia tidak memiliki arti di dunia. Ketenangan untuk Cowper ditemukan dalam membaca puisi orang lain dan tulisannya sendiri. 

Pada suatu kali, tekanan dan stres membawanya ke depresi kedua, dia mencoba bunuh diri tiga kali dan ditempatkan di rumah sakit jiwa. Dokter yang merawat Cowper di rumah sakit jiwa adalah seorang yang mencintai Tuhan dan Injil. Enam bulan setelah Cowper tinggal, dokter itu meninggalkan sebuah Alkitab tergeletak di bangku untuk ditemukan Cowper. Saat membaca tentang Lazarus yang dibangkitkan dari kematian, Cowper “melihat begitu banyak kebajikan, belas kasihan, kebaikan, dan simpati dengan orang-orang yang sengsara” dan menyadari bahwa kasih dan belas kasihan yang Yesus berikan untuk Lazarus juga diberikan untuknya – “maka hatiku dilembutkan." Inilah titik di mana Cowper mengabdikan hidupnya untuk pekerjaan Tuhan.

Semakin dia mengalami kasih Tuhan Yesus, dia sadar bahwa dia tidak sendiri. Dia dituntun untuk membuka Alkitab, dan dengan tekun membaca ayat-ayat Alkitab seperti Roma 3:25. Dia menulis: "Segera saya menerima kekuatan untuk mempercayainya, dan sinar penuh dari matahari kebenaran menyinari saya… Saya hanya bisa melihat ke Surga dalam kegentaran yang sunyi, diliputi oleh cinta dan keajaiban." 

Setelah sungguh-sungguh bertobat, pergumulan Cowper dengan depresi masih berlanjut. Sampai suatu kali dia bertemu John Newton, yang menjadi teman dekat, pendeta, dan anggota dewan. Mereka menulis beberapa himne kristen menjadi berkat bagi banyak orang.

Hidupnya tidak berakhir dengan keceriaan, dia meninggal pada tahun 1800 (69 tahun), tampaknya dalam depresi yang mendalam. Bersama John Newton, mereka menulis lagu “Sangat Besar Anugerah-Mu.” Himne lainnya yaitu “Tercurah Darah Tuhanku” (There Is a Fountain Filled with Blood).

Tercurah darah Tuhanku di bukit Golgota
Yang mau bertobat, ditebus, terhapus dosanya,
Terhapus dosanya, terhapus dosanya.
Yang mau bertobat, ditebus, terhapus dosanya.

Darah-Mu ya Anak Domba, sungguh berkuasa,
Sehingga s’lamat umat-Mu dan suci s’lamanya, 
Dan suci s’lamanya, dan suci s’lamanya
Sehingga s’lamat umat-Mu dan suci s’lamanya.

Sejak kupandang salib-Mu dengan iman teguh,
Kasih-Mulah kupuji t’rus seumur hidupku,
Seumur hidupku, seumur hidupku,
Kasih-Mulah kupuji t’rus seumur hidupku.

Di tengah pergumulannya, saya percaya William Cowper telah bersama dengan Pencipta dan Penebusnya dalam keadaan yang sempurna. Hal ini dinyatakan dalam lagunya "Tercurah Darah Tuhanku" mengungkapkan bagaimana penderitaan Kristus itu begitu dia hayati dalam hidupnya. Tuhan Yesus Kristus menjadi harapan dan pertolongannya di tengah pergumulan depresinya. Ungkapan yang indah. Harapan yang pasti di dalam Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang menderita bersama dengan kita. Yesus Kristus menghayati kehidupan manusia melalui penderitaan-Nya. Demikian pula kita, dibentuk semakin serupa Kristus melalui penderitaan yang Tuhan izinkan kita gumulkan. 

Kamis, 02 Februari 2023

Jadi Bijak, Jangan Bodoh (Pengkhotbah 10:5-15)

 

The Fall of Phaeton (c. 1640) oleh Jacob Jordaens

The Fall of Phaeton merupakan lukisan yang terinspirasi dari mitologi Yunani. Jacob Jordaens berusaha menggambarkan kisah tragis karena kebodohan dari Phaeton yang terjatuh dari kereta kuda Apollo, ayahnya. Kisah ini diawali dari pesan-pesan yang didengar Phaeton setiap pagi oleh ibunya, Clymene. Setiap pagi, Clymene mengajak Phaeton melihat terbitnya matahari dan mengatakan bahwa yang membawa matahari berputar itu adalah ayah Phaeton, Apollo. Phaeton kagum dengan ayahnya dan juga dirinya sebagai keturunan salah satu dewa yang sangat hebat. Ia membanggakan diri di hadapan teman-temannya yang akhirnya kesal sehingga meminta bukti dari pernyataan Phaeton. Oleh karena itu, Phaeton menanyatakan ibunya bagaimana ia dapat menemui Apollo. Pada akhirnya, ia pun dapat bertemu dengan ayahnya itu. Apollo mengakui Phaeton sebagai anaknya. Tapi bagi Phaeton pengakuan saja tidak cukup, ia minta bukti dari Apollo dengan mengizinkannya mengendarai kereta kuda untuk membawa matahari sehingga bisa menunjukkan kepada teman-temannya. Dengan berat hati, Apollo mengabulkan permintaan anaknya tapi dengan persiapan yang sungguh-sungguh. Alih-alih mendengarkan pesan-pesan Apollo, Ia langsung naik kereta kuda dan membawa matahari. Pada awalnya berjalan baik, lalu ia menjadi sombong mau menunjukkan kepada teman-temannya dengan mendekati bumi. Ketika matahari mendekati bumi maka bumi menjadi panas terik dan terbakar sehingga banyak orang tersiksa, binatang, tumbuhan, dan semuanya menderita. Phaeton cepat-cepat menjauh dari bumi tapi ternyata terlalu jauh sehingga bumi menjadi dingin. Para rakyat pun berseru kepada Zeus karena kesusahan ini. Zeus melihat Phaeton lalu menghukum Phaeton sehingga jatuh dari kereta dan mati.

Mitos bukanlah kisah nyata tapi kisah bijak untuk mengajarkan sesuatu kepada pendengarnya. Dalam kisah kejatuhan Phaeton, ini menyatakan bahwa tindakan bodoh dan sombong hanya akan membuahkan kerugian bagi orang lain dan bahkan kematian bagi diri sendiri. Inilah juga yang menjadi salah satu pesan Pengkhotbah 10:5-15 bahwa menjadi bijak lebih baik daripada menjadi bodoh di dalam dunia yang sungsang ini. 

Dalam ayat 5-7, Pengkhotbah menyatakan realitas dunia yang sungsang secara makro dimana terdapat jungkir balik dalam hal kekuasaan dan politik. Yang berkuasa bukanlah orang bijak dan yang bijak tidak mempunyai posisi dan kuasa secara sosial-ekonomi. Hal ini dapat kita lihat terjadi dalam kehidupan masyarakat kita sampai saat ini. Mengapa? Karena dosa. Dosa membuat setiap sistem kerja dunia menjadi tercemar dan rusak. Lebih rinci lagi, Craig G. Bartholomew menyatakan ini adalah dosa kelalaian atau kekhilafan (sin of inadvertence). Dosa yang tidak disengaja (bdk. Im. 5:18) namun nyata dan sama seriusnya dengan dosa yang disengaja. Dosa ini sama-sama perlu penebusan Kristus. 

Dalam ayat 8-11, Pengkhotbah menyatakan dunia yang sungsang secara mikro di mana hal-hal sehari-hari juga membahayakan dan tidak dapat diprediksi. Ia mengamati kegiatan sehari-hari seperti orang-orang yang bekerja menggunakan peralatan tajam (ay. 9-10) yang dapat terluka dari peralatan itu sekalipun orang itu seorang ahli. Seseorang ahli dalam membuat jebakan untuk berburu dapat saja terjebak oleh jebakannya sendiri (ay. 8, bdk. Mzm. 7:16). Selain dapat terluka atau kerugian dari peralatan yang digunakan atau jebakannya sendiri, seseorang mungkin saja mendapat kerugian atau kecelakaan dari hal-hal lain seperti ular yang bersembunyi di celah-celah yang kemudian menyerang pekerja itu (ay. 8). 

Kecelakaan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja baik secara makro maupun mikro. Realitas kehidupan menyatakan bahwa peristiwa seringkali terjadi begitu saja tanpa dapat dijelaskan, tanpa bisa diantisipasi, dan tanpa tahu solusi yang tepat. Hal-hal buruk dapat terjadi kepada siapa pun termasuk seorang ahli atau moralitas baik tanpa bisa diprediksi. 

Lalu bagaimana kita dapat hidup di dunia yang sungsang ini? Tips dari Pengkhotbah: Jadilah bijak, bukan bodoh (ay. 12-15). Pengkhotbah membandingkan antara orang bijak dan bodoh. Orang bodoh itu (1) ayat 12, mulutmu harimaumu, (2) ayat 13, perkataan bodoh dan bebal yang mencelakakan, (3) ayat 14, banyak bicara tanpa tahu apa-apa (tong kosong nyaring bunyinya), (4) orang yang memberi nasihat tentang kota, tapi tidak tahu jalan ke Kota. Sedangkan orang bijak (bdk. Ams. 10:19; 17:27) itu (1) ayat 12, kata-katanya menarik, membangun (gracious), dan menginspirasi, (2) ayat 13, kata-kata hikmat dan menguntungkan atau meringankan kecelakaan, (3) ayat 14, sedikit bicara tapi tahu bicara apa, (4) meringankan kesusahan karena ada sedikit tahu jalan ke kota. 

Ia menyimpulkan bijak lebih baik daripada bodoh. Memang menjadi bijak tidak menghilangkan kesusahan hidup, tapi dapat meringankan kesusahan yang didapat. Hikmat membantu kita untuk meringankan risiko yang mungkin kita terima dalam menjalani kehidupan di dunia yang sungsang.


Rabu, 28 Desember 2022

Ajaiblah Nama-Nya (His Name is Wonderful)



Ajaiblah nama-Nya, terindah nama-Nya, (Yes. 9:5-6)
His name is wonderful, His name is wonderful,

besarlah kuasa-Nya, Yesus Tuhan. (Yoh. 20:28; Rm. 10:9; 1 Kor. 12:3)
His name is wonderful, Jesus, my Lord.

Raja s’gala raja (1 Tim. 1:17; 6:15), Pencipta semua (Kol. 1:16),
He is the mighty King, Master of everything,

ajaiblah nama-Nya, Yesus Tuhan. (Yoh. 20:28; Rm. 10:9; 1 Kor. 12:3)
His name is wonderful, Jesus, my Lord.

Gembala yang baik (Mzm. 23:1; Yoh. 10:11-18; 1 Ptr. 5:4), Batu Karang Teguh (Mzm. 18:2)
He’s the great Shepherd, the Rock of all Ages

Allah Mahakuasa. (Yes. 9:5-6)
Almighty God is He.

Sujudlah pada-Nya, kasihilah Dia, (Flp. 2:10)
Bow down before Him, love and adore Him,

ajaiblah nama-Nya, Yesus Tuhan. (Yoh. 20:28; Rm. 10:9; 1 Kor. 12:3)
His name is wonderful, Jesus, my Lord.

Pada tanggal 25 Desember 1955, Audrey Mieir menghadiri sebuah gereja di Duarte, California, di mana saudara iparnya, Dr. Luther Mieir, adalah pendetanya. Saat itu, jemaat kecil ini menyelenggarakan presentasi kisah Natal. Gereja itu dihiasi dengan dahan pinus, terdapat palungan, dan ada anak muda yang dipilih untuk menyajikan cerita. Saat kebaktian pagi dimulai, pendeta berdiri, membuka Alkitab dari Yesaya 9:5, dan berkata, “Namanya disebut orang: Penasihat Ajaib!” Saat itulah Mieir terinspirasi menulis kata-kata dan musik lagu ini di halaman depan Alkitabnya.

“Ajaiblah Nama-Nya” tidak mengikuti bentuk bait-bait yang biasa. Sebaliknya, itu seperti suatu refrain di mana ada kalimat utama diulang dengan disertai kalimat penghubung. Awalnya Mieir menulis ini seperti refrain saja tanpa kalimat penghubung karena berdasarkan presentasi asli dari kisah Natal dalam ibadah Natal yang dia hadiri waktu itu. Tetapi Tim Spencer memberikan masukan bahwa lagu ini lebih bagus jika ada kalimat penghubung. 

Lagu ini terinspirasi dari Yesaya 9:5 serta banyak sumber dari Alkitab. Tema utama adalah kalimat yang sering diulang dalam lagu ini yaitu “Ajaiblah Nama-Nya, Yesus Tuhan.” Melodinya dibuat sederhana untuk mudah dinyanyikan. Demikian pula kata-katanya tentang Tuhan Yesus yang mudah diingat. “Ajaiblah Nama-Nya” diulang berkali-kali supaya kita mengingat bahwa Allah yang kita percaya adalah Allah yang Ajaib dan Mulia. Alunan melodi dimulai dari rendah lalu secara bertahap naik semakin tinggi (misalnya dari “ajaiblah nama-Nya” sampai dengan “besarlah kuasa-Nya”), yang kemudian menuju “Yesus Tuhan.” Ini menyatakan penghormatan dari manusia yang rendah dan berdosa kepada Yesus Tuhan Yang Maha Tinggi.

Bagian kedua dari teks refrain dan teks jembatan bergeser dari menyatakan Yesus yang “Ajaib” menjadi ragam sebutan akan Tuhan Yesus yang bersumber dari Alkitab. Misalnya ”gembala dan batu karang teguh”, yang masing-masing dari Mazmur 23:1 dan Mazmur 18:2. Secara liturgi, lagu ini merupakan sebuah lagu pengagungan (adoration) dan perayaan (celebration).

Sumber Bacaan:
https://www.umcdiscipleship.org/articles/history-of-hymns-his-name-is-wonderful
https://hymnary.org/text/his_name_is_wonderful

Minggu, 25 Desember 2022

Maria: Kagum pada Allah (Lukas 1:26-38)

Annunciation oleh Rubens, 1628

Mengapa orang kristen masih egois dan haus akan penghargaan orang lain? Mengapa banyak orang yang sudah rutin beribadah pun masih merasa kosong dalam hidupnya? Mengapa orang kristen ada yang mengalami masalah relasi dengan teman, pasangan, anak, orang tua, dan tetangganya? Mengapa orang kristen masih ada yang punya ketakutan yang besar, trauma, kemarahan yang tak terkendali, iri hati terhadap sesama, keraguan pada Allah, dan bahkan kerohanian yang dingin?

Salah satunya karena penyimpangan kekaguman. Kekaguman pada Allah diganti dengan kekaguman hal-hal selain Allah yang sejati. Bentuk dosa yang sangat halus masih mempengaruhi kita yang beriman. Seperti kanker menggerogoti kita sedikit demi sedikit.

Mari kita belajar dari teladan Maria yang disebut sebagai “yang dikaruniai” (ay. 28), “beroleh kasih karunia Allah” (ay. 30), “yang diberkati di antara semua perempuan” (ay. 42).

Terdapat dua istilah yang menarik dalam ayat ini. Pertama, dalam ayat 29, Diatarasso (yunani) = greatly troubled (ESV, NAS, NIV) = terkejut (LAI). Kedua, dalam ayat 34, Dialogizomai (yunani) = discern (ESV) = pondering (NAS) = wondered (NIV) = “bertanya di dalam hati” (LAI). Ini semacam dialog batin dapat dibandingkan dengan Mrk. 8:16; 9:33; Luk. 20:14; Mat. 16:7; Mrk. 2:6; Luk. 1:29; 3:15; 12:17. Kedua istilah ini bukan menyatakan maria tidak beriman (seperti Sara dalam Kej. 18:12) melainkan ungkapan keheranan. 

Mengapa Maria terkejut, heran, dan berdialog batin? Dalam ayat sebelumnya, Lukas memberikan alasan-alasan yang runtut: (1) Alasan geografis (ay. 26). Lukas mencatat hal yang mengejutkan “malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret.” Coba baca sekali lagi, apakah anda terkejut? Apa mengejutkan? Galilea bukanlah daerah yang dihormati. Itu bukan tempat yang diharapkan untuk seseorang yang diutus dari Tuhan (Yoh. 1:46; 7:41). Nazaret (Luk. 1:26; 2:4, 39, 51) adalah salah satu kota di Wilayah Galilea. Secara dominan, wilayah Galilea dihuni oleh orang Samaria, yaitu orang-orang yang berdarah campuran (karena pembuangan bangsa Yahudi, dan pendudukan oleh Kekaisaran Asyur dan Babel, penduduk daerah itu kebanyakan berdarah campuran). Orang Yahudi kultural maupun yang saleh menganggap orang Samaria tidak murni, dan karena itu mereka "najis" secara moral, rohani maupun fisik (didiami oleh roh-roh dan mengidap penyakit).

(2) Alasan biologis (ay. 27). Maria heran bagaimana seorang anak dapat dijanjikan kepadanya, karena dia tidak berhubungan seksual (bdk. Yes. 7:14; Mat. 1:23). Keterkejutan Maria bukan terutama karena pria tidak biasa menyapa wanita, tetapi karena malaikat tidak biasa menyapa wanita. (bdk. Luk. 1:12 - Zakharia)

(3) Alasan geneologis atau silsilah keluarga (ay. 27). Pengumuman kelahiran di Nazaret menunjukkan bahwa Maria berasal dari akar keluarga agraris yang sederhana. Beberapa sarjanawan Alkitab mencoba mengamati semua peraturan yang dianut oleh bangsa Ibrani dalam membuat silsilah, mengambil kesimpulan bahwa dalam Zerubabel, garis keturunan Salomo dan Natan bersatu, dan bahwa Yusuf dan Maria berasal dari satu suku. Karena keudanya merupakan keturunan Daud. Yusuf adalah keturunan Abihud (Mat. 1:13 dan Maria adalah keturunan Resa (Luk. 3:27), anak-anak Zerubabel. Hal ini hanya dapat disimpulkan, tidak dapat dibuktikan dengan sangat jelas. Saya percaya bahwa Lukas sengaja tidak mencatat jelas silsilah Maria, salah satunya karena menekankan kerendahan Maria. Selain itu, masih ada kemungkinan (seperti Rut), Maria bisa juga bukanlah keturunan Daud. Pesan utama bukanlah tentang akar keluarga tapi dari kebesaran Allah.

Bdk. cara pandang/kerja dunia: anak presiden nikah sama siapa? Setelah diselidiki ternyata ditemukan calon isterinya anak presiden dari keluarga “kelas atas.” Berusaha melihat kelayakan.

Apa yang mengagumkan dari Allah? (1:46-47, 48-54)

Dalam Luk. 1:26-38, kita menemukan maria sediki sekali berkata-kata. Ketika Allah berfirman melalui malaikat-Nya, maria berdiam, mendengarkan firman, dan menyimpan dalam hati-Nya (bdk. Luk. 2:19, 51). Sehingga kita tidak menemukan dengan sangat jelas alasan kekaguman Maria dan Allah seperti apa yang dia percaya sehingga dia kagum kepada Allah yang demikian. Kita dapat menemukan dengan jelas pengakuan formal Maria (confessional level) dalam Magnificat.

Mengapa Maria memuliakan Tuhan, hatinya bergembira, dan dia berbahagia (1:46-48)? Bukan karena apa yang ada padanya, tapi apa yang ada pada Allah: siapa Dia dan karya-Nya. (a) Darrell L. Bock: eschatological reversal = pembalikan eskatologis (Lukas 1:51-55). Allah sebagai divine warrior (Panglima Perang Mahakuasa) yang melakukan hal-hal besar termasuk merendahkan orang yang tinggi dll. Yang tinggi (congkak, berkuasa, kaya) direndahkan, yang rendah (rendah, lapar, Israel – Yes. 41:14 – cacing yakub) ditinggikan. 

Beberapa catatan menyatakan bahwa para Rabi Yahudi tidak menerima perempuan sebagai murid. Perempuan juga tidak diperbolehkan menjadi saksi di pengadilan karena perempuan dipandang irasional dan tidak dapat dipercaya. Ada yang menyatakan doa orang Farisi demikian: “Aku bersyukur aku bukan orang yunani, melainkan orang yahudi. Aku bersyukur aku bukan budak melainkan orang merdeka; bukan perempuan melainkan laki-laki.”

(b) Allah yang ingat janji-Nya. Allah menggenapi janji-Nya karena mengingat rahmat-Nya (Lukas 1:54-55). Allah sebagai merciful God of the covenant. Maria mendapat kasih karunia Allah adalah kedaulatan Allah, bukan karena pribadi Maria yang baik dan sempurna (bdk. Kej. 6:8; Im. 6:17; 1 Sam 1:18; 2 Sam. 15:25). Penekanan ini berbeda dengan Zakharia dan Elisabet (Luk. 1:6). Robert H. Stein: Sementara Zakharia dan Elisabet memberikan contoh tentang pemuridan sejati dalam ketaatan mereka pada perintah dan peraturan PL (1:6). Mengapa menyatakan belas kasih-Nya kepada manusia yang hina dan terbatas? Karena Dia ingat siapa Dia (kasih setia-Nya) dan siapa kita (debu) - Yes. 48:9-11; Mzm. 103:8-14.

Allah memperhatikan apa yang tidak diperhatikan masyarakat secara umum. Maria tidak menduga ia akan menjadi objek dari karya agung Allah. Karena ia menyadari posisi kerendahannya secara konteks masyarakat waktu itu dan terlebih lagi di hadapan Allah, ia hanyalah manusia berdosa dan terbatas. 

Injil Lukas mempunyai keunikan yaitu memberi perhatian pada orang-orang marginal atau pinggiran secara sosial. Lukas mencatat perempuan sebagai saksi penting dalam peristiwa-peristiwa penting dalam karya penebusan Kristus: Saksi kelahiran Sang Juruselamat: Maria, Elizabeth, dan Hana (nabi perempuan), Saksi kematian Kristus di salib (Luk. 23:49), Saksi kebangkitan Kristus (Luk. 24:10)

Dunia berdosa mengalami masalah kekaguman 

Paul David Tripp menyebut masalah kekaguman ini sebagai awe amnesia (kelupaan kekaguman pada Allah) yang memimpin pada awe replacement (penyimpangan kekaguman). Setiap orang, termasuk orang Kristen, tidak lepas dari penyakit rohani: awe amenesia. Dalam street level, kita sering kali mengganti kekaguman pada Allah dengan kekaguman pada hal-hal lain selain Allah (termasuk pada anugerah Allah). Hal ini terjadi seringkali bukan pada tingkat pengakuan iman secara formal (confessional level) namun kepercayaan secara informal (street level). Ini terekspresi secara spontan ketika kita sakit, marah, iri, dan tertekan bukan terutama karena hidup tidak sesuai harapan kita melainkan karena kita menaruh kekaguman pada hal-hal sementara yang kemudian akan mengecewakan kita. 

Kita mengganti kekaguman vertikal dengan candu kekaguman horizontal. Kekaguman Vertikal membuat jiwa kita tenang, mengalami damai Kristus, dan kepuasan sejati di dalam Kristus. Sedangkan kekaguman horizontal membuat kita menjadi obsesif dan adiktif terhadap hal-hal sementara di mana tidak akan pernah memuaskan kehausan dan kelaparan terdalam kita. Tidak pernah memuaskan kelaparan dan kehausan rohani kita yang hanya bisa dipuaskan oleh Kristus. Hal-hal sementara hanya dapat memuaskan sementara (1 Yoh. 2:16-17), sedangkan hal-hal kekal akan memuaskan secara kekal (Yoh. 4:13; 6:35; Why. 21:6). 

Kekaguman horizontal yang menggoda kita saat natal: diskon, perayaan natal meriah, liburan yang luar biasa, usaha yang untung, pertemuan keluarga, pasangan (all I want for Christmas is you), bahkan kebaktian natal yang luar biasa, khotbah natal, nyanyian natal, dan banyak hal-hal baik yang menyimpangkan kekaguman vertikal kita. Masalah bukan hal-hal baik itu, tapi adalah arah hati kita yang berdosa.

Ketika kita menempatkan diri kita sebagai pusat, kita tidak hanya menjadi pemberontak terhadap Tuhan, kita juga menjadi bahaya bagi diri kita sendiri dan orang lain. Dan karena kita adalah masalah terbesar kita, kita tidak berdaya untuk membantu diri kita sendiri. Ini akan menjadi kisah dalam lingkaran setan yang hanya akan memberikan jalan keluar sementara. 

Natal sebagai momen kembali kagum pada Allah

Tidak ada solusi manusia yang dapat memperbaiki dirinya sendiri dari penyimpangan kekaguman selain daripada Injil Kristus. Tidak ada seperangkat aturan yang akan membebaskan kita. Tidak ada wawasan sosial atau politik yang akan membebaskan kita. Kita sebagai manusia berdosa adalah musuh Allah. Kita masih sering melupakan Tuhan. Kita sering menggantikan kekaguman pada-Nya kepada hal-hal lain selain dari pada-Nya, sekalipun itu hal-hal baik: karir, studi, pasangan, anak, keluarga, uang, gereja, harga diri, dll. 

Ketika hidup kita kagum kepada hal-hal sementara, maka kepuasan didapat juga sementara. Tidak heran kita akan hidup berbahaya bagi diri kita sendiri dan orang lain. Hanya ketika Tuhan berada di tempat seharusnya dalam hidup kita yaitu pusat kekaguman kita, maka kita menempatkan diri kita dan orang lain di tempat yang tepat. Inilah mengapa kita perlu kasih karunia Allah sebagaimana Maria. Inilah sebabnya mengapa Yesus harus datang.

Orang yang kenal Allah adalah Allah yang besar, mulia, suci, Ia sadar dirinya rendah, hina, dan berdosa. Orang yang kenal dirinya rendah, hina, dan berdosa, dapat kagum pada Allah yang besar, mulia, dan suci. Natal adalah momen kembali pada kagum pada Allah dengan mengkhotbahkan injil murni pada diri sendiri dan sesama. Injil tanpa iming-iming kesuksesan dan kemakmuran, injil tanpa tempelan nama manusia, injil tanpa apa pun berupa kekaguman horizontal melainkan hanya kekaguman vertikal pada Kristus yang mulia mau berjumpa manusia berdosa yang rendah.