Fakta hidup yang seringkali membawa kita pada kesedihan yaitu ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Ini pula yang dinyatakan dalam Pengkhotbah 1:8-11. Inilah arti dari kesia-siaan eksistensi manusia. Hal ini dapat diamati melalui 3 aktivitas manusia sehari-hari yang “tidak mencapai hasil akhir”: berkata, melihat, mendengar. Perkataan manusia tidak pernah mencapai tujuannya. Ini berarti ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan sulit untuk diselesaikan atau digambarkan dengan kata-kata (the incapacity of language to communicate perception and experience). Melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga tidak pernah mencapai hasil akhir. Ini artinya mata dan telinga tidak pernah puas seperti laut yang tidak pernah penuh.
Selanjutnya, pengkhotbah mengamati sejarah manusia di mana terus berulang tanpa ada sesuatu yang baru. Sejarah tidak berjalan maju dan setiap individu menjalani kehidupan yang tidak pernah mencapai harapan atau rencananya. Jika sesuatu dianggap sebagai penemuan (inovasi), itu hanya karena kita lupa akan masa lalu. Apa yang kita lakukan hari ini terlihat baru namun hal itu tidak sungguh baru dan tidak akan diingat di masa depan. Masa sekarang hilang ditelan masa lalu dan masa depan. Misalnya pandemi muncul setiap periode tertentu, perang terus berlanjut, teknologi sekarang hanya pengembangan dari teknologi masa lalu dan bahkan ada yang pengulangan semata. Sejarah manusia “di bawah matahari” direduksi menjadi rutinitas yang melelahkan. Tidak ada keselamatan dari dunia berdosa.
Bagaimana cara pandang “dunia di atas matahari”?
Sejarah dikendalikan dan digerakkan oleh Tuhan Allah untuk mencapai tujuan-Nya. Mazmur 96:1 menyatakan kemungkinan sesuatu yang baru muncul berupa nyanyian baru bagi TUHAN. Yeremia 31:31 menyatakan kemungkinan adanya perjanjian baru. Secara eskatologis, Yessaya 65:17 menyatakan tentang langit dan bumi yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar