Terlalu sering, Kekristenan dipersempit sebagai iman yang menyangkal dan menekan keinginan, menjauhi kenikmatan. Namun, bagaimana jika kenikmatan, jika dipahami dengan benar, merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk manusia? Bagaimana jika, alih-alih takut akan kenikmatan, kita belajar untuk mengelolanya dengan cara yang memuliakan Tuhan?
Dalam Pengkhotbah 2:1-11, 24-26, Pengkhotbah merenungkan tentang kenikmatan duniawi. Ia menemukan makna kenikmatan duniawi dan mempertimbangkan signifikansinya. Ia menyimpulkan: sia-sia. Artinya tidak ada makna kekal dalam mengejar kenikmatan duniawi (di bawah matahari).
Istilah “kegirangan” (kesenangan/kenikmatan) dalam ibraninya simha dapat berarti kenikmatan surgawi dan kenikmatan duniawi. Kenikmatan surgawi berarti kegembiraan yang timbul dari kegembiraan dalam Tuhan dan menyembah-Nya. Kenikmatan duniawi berarti kesenangan materiil dan inderawi. Pengkhotbah “mengalami kesenangan” (experience pleasure) dan “menikmati kehidupan” (enjoy the good life) untuk memaknai hidupnya. Tetapi pada akhirnya Ia menyimpulkan bahwa usahanya itu sia-sia (hebel) karena hal itu tidak benar-benar mencapai sesuatu yang bernilai.
Pengkhotbah mengeksplorasi kesenangan lebih rinci sebagai sumber makna atau keuntungan dalam hidup. Pertama, kenikmatan melalui minuman (ayat 3). Tindakan “meminum” merupakan tindakan yang terkait dengan kepuasan dan kesegaran (Yohanes 4:9-14; 7:37-39; Wahyu 21:6). Beberapa menafsirkan keadaan pengkhotbah dapat mengendalikan diri (behave) sekalipun sudah banyak minum anggur. Minum anggur, juga, tidak dengan sendirinya merupakan tindakan bodoh (secara eksplisit dipuji dalam Pengkhotbah 9:7). Masalahnya adalah meminum anggur itu tidak “menyelesaikan” apa pun yang diharapkan.
Dalam alkitab, anggur menggambarkan hal positif dan negatif. Secara negatif, anggur bisa disalahgunakan dan menjadi sarana untuk kehilangan pengendalian diri (Amsal 20:1; Hosea 4:11-12; Efesus 5:18). Secara positif, anggur menggambarkan sukacita, perayaan, kelimpahan berkat dari Tuhan Allah, dan bahkan berkat eskatologis (Mazmur 4:7; Lukas 22:7). Pengkhotbah memaknai anggur sebagai sarana sukacita di bawah matahari (Pengkhotbah 9:7).
Kedua, kesenangan melalui membangun bangunan besar: rumah-rumah, taman-taman dan kebun-kebun anggur (ayat 4-6). Dalam hal ini, pengkhotbah tidak membangun sebagai seorang dermawan (philantrophy) atau bangunan publik melainkan untuk kesenangan diri (self-pleasure). Sang “raja” mengubah lingkungannya dan memfasilitasi dirinya untuk mendapatkan kesenangan hidup. Seolah-lah, pengkhotbah mempunyai kuasa mirip dengan Tuhan (godlike). Ini ditegaskan dengan istilah yang digunakan berhubungan erat dengan ciptaan Tuhan di taman Eden (1 Samuel 12:24; Mazmur 126:2-3). Rumah, kebun anggur, kebun, dan taman semuanya disebutkan, kata terakhir dari istilah-istilah pardes berasal dari kata Persia pairi-daeza, “sebuah kandang,” dari mana kita juga akhirnya mendapatkan kata Firdaus (paradise). Pengkhotbah menyombongkan dirinya dan berambisi menciptakan sesuatu seperti Firdaus, namun usahanya gagal.
Ketiga, kesenangan melalui kepemilikan hal-hal materiil: budak, binatang, logam mulia (ayat 7-8a). Dia menggambarkan harta yang dimilikinya. Harta itu adalah hasil dari upeti (harta raja-raja) dan pajak daerah kekuasaannya. Cadangan perak dan emas Salomo disebutkan dalam 1 Raja-raja 10:14-25; 2 Tawarikh 9:27.
Keempat, kesenangan melalui seni (ayat 8b). Pengkhotbah juga menikmati musik dengan menciptakan paduan suara campuran. Ada kemungkinan bahwa paduan suaranya terdiri dari laki-laki dan perempuan membedakannya dari paduan suara ibadah, yang hanya terdiri dari laki-laki suku Lewi.
Kelima, kenikmatan seksual (Ayat 8c). Gundik disebut kesenangan umat manusia. Istilah kesenangan di sini mengacu pada kenikmatan erotis seperti dalam Kidung Agung 7:7.
Ayat 9-11 merupakan kesimpulan refleksi pengkhotbah atas makna kenikmatan. Ayat 7 dan 9 menyatakan bahwa dia menjalani hidup lebih baik dan merayakan hidup lebih daripada orang lain dalam hal kenikmatan ragawi. Ayat 10 menyatakan bahwa ia tidak menahan diri, tidak menyangkal diri dalam mengejar makna dalam kenikmatan indrawi. Ini merupakan hasil dari jerih payahnya. Namun, dalam ayat 11 menyatakan bahwa hasil akhir dari jerih payah ini adalah kesia-siaan. Kerja keras di bawah matahari tidak menghasilkan untung melainkan buntung. Hal ini digambarkan dengan peribahasa: usaha menjaring angin.
Lalu, bagaimanakah seharusnya kita hidup?
Dalam ayat 24-26, pengkhotbah menyatakan jika tidak ada makna tertinggi dapat dicapai dalam kehidupan di bawah matahari, maka seseorang harus tidak kehilangan kesempatan untuk menikmati hidupnya. Jangan menunggu hari esok, jangan kehilangan kenikmatan hidup yang mungkin ada di masa sekarang. Mengapa? Karena kenikmatan sementara ini juga datang dari tangan Tuhan. Ini adalah anugerah umum Allah bagi manusia.
Namun, pengkhotbah mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa menikmati kenikmatan sementara ini kecuali Tuhan mengizinkannya. Itu ada dalam kendali Tuhan dan Tuhan akan membagikannya kepada siapa pun yang Tuhan inginkan. Dia mengizinkan hal-hal baik dan buruk kehidupan kepada orang-orang. Tuhan terlibat dengan segala hal yang terjadi di dunia. Tuhan Allah sebagai Sumber Kenikmatan.
