Senin, 10 Februari 2025

Mengejar Hikmat


Kita dapat menemukan banyak buku mengenai kemampuan berpikir manusia yang luar biasa dan peran pentingnya dalam kehidupan manusia. Misalnya buku "Thinking, Fast and Slow" yang ditulis oleh Daniel Kahneman pemenang Nobel Memorial Prize in Economic Sciences (2002). Dalam buku itu dinyatakan terdapat dua sistem berpikir di mana sangat berperan dalam memutuskan sesuatu dan kemudian sangat berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Hikmat memang sangat perlu dan sangat membantu kita menjalani dan memaknai kehidupan ini. Namun, apakah hikmat itu cukup?

Pengkhotbah 1:12-18 masih terkait dengan persoalan Pengkhotbah 1:3. Menyelidiki dunia dan mengejar hikmat merupakan dua hal yang termasuk jerih payah manusia di bawah matahari. Hikmat Salomo adalah sebuah pemberian dari Tuhan yang memberinya kekayaan dan kehormatan, yang menghasilkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyatnya, dan yang menarik kekaguman dan kunjungan dari orang-orang di seluruh dunia kuno (1 Raja-raja 3:12-13, 16-28; 4:21-34; 9:10-10:29). Kebijaksanaan adalah dasar dari kehidupan salah satu raja Israel yang paling sukses dan efektif. Amsal 25:2, kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu. Namun kesaksian orang pertama “Salomo” memberitahu kita kisah yang berbeda dari yang mungkin kita harapkan berdasarkan kisah hidupnya. Dunia adalah ruang kelas raja, laboratoriumnya. Penyelidikan raja meliputi tiga bidang: dunia (Pengkhotbah 1:12-15), hikmat (Pengkhotbah 1:16-18; 2:12-23), dan kesenangan/kenikmatan (Pengkhotbah 2:1-11, 24-26).

Menurut Alkitab, Istilah ḥokmâ (hikmat) mempunyai makna yang luas dan dalam. Ini bisa merujuk pada keterampilan teknis dari mereka yang membuat pakaian untuk imamat (Keluaran 28:3) dan yang membangun tabernakel (Keluaran 31:3, 6). Ini mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian (1 Raja-raja 3:28; Yessaya 11:1–6) dan untuk memimpin orang (Ulangan 34:9). Menurut Bruce Waltke (Waltke 2004: 76–77), hikmat dapat diringkas sebagai kemampuan untuk memahami bagaimana kehidupan berjalan untuk merespons dengan tepat. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengembangkan keterampilan dalam menjalani kehidupan yang bijaksana dengan mampu menavigasi kehidupan untuk mencapai kesuksesan. Memahami karakter berbagai jenis orang diperlukan untuk mengetahui bagaimana menanggapi mereka. Kebijaksanaan juga mencakup pemahaman tentang cara kerja dunia yang Tuhan ciptakan karena Tuhan mencipta dengan hikmat-Nya dan itu nyata dalam ciptaan-Nya (Amsal 3:19). Tindakan atau sikap tertentu dapat menyebabkan hasil tertentu. Hasil ini tidak amoral tetapi mencerminkan keadilan Tuhan karena tatanan ilahi dunia berasal dari karakter Yahweh yang benar. Semakin baik seseorang memahami cara dunia bekerja, semakin baik keputusan yang dapat diambil seseorang dalam mencari jalan kebijaksanaan.

Dalam Pengkhotbah 1:13, Pengkhotbah membulatkan hati menyelidiki dunia dengan hikmat namun menyimpulkan hal itu merupakan aktivitas sia-sia (pointless activity). Hal ini seolah-olah merupakan kesusahan yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia. Jika dibandingkan dengan Pengkhotbah 2:24–26; 3:12–13, maka Pengkhotbah tidak berpandangan bahwa Tuhan Allah yang memberikan kesusahan pada manusia. Pemberian Allah yang baik dapat menjadi beban karena terkait dengan tanggung jawab manusia yang telah berdosa (mis. anak, harta, nama baik, hikmat, dll bdk. Kejadian 3:16-19; Roma 1:18-32).

Pengkhotbah 1:1–11 menyatakan masalah manusia yang mendasar terletak pada ketidakselarasan antara ekspektasi dan realitas. Ayat 14 menyatakan usaha manusia pada dasarnya merupakan penolakan terhadap realitas akan dosa. Usaha ini disebut sebagai menjaring angin. Ayat 17, pengkhotbah membulatkan hati untuk memahami hikmat itu sendiri. Mungkin upaya menyaring apa yang diketahui dan memisahkan kebijaksanaan dari “kegilaan dan kebodohan” adalah jalan penting bagi masa depan manusia. “Kegilaan” mengandung konotasi arogan melawan Tuhan daripada memuji Tuhan; “kebodohan” adalah antitesis dari kebijaksanaan (Pengkhotbah 2:3, 13; 10:1). Mungkin melalui upaya intelektual untuk membedakan hal-hal ini dengan lebih akurat—untuk mempertajam pemahaman seseorang tentang dunia—dan dengan demikian dapat melepaskan diri dari jebakan yang dibuat oleh kehidupan untuk orang biasa.

Namun, hikmat manusia terbatas. Dalam Pengkhotbah 1:15-18 menyatakan ada hal-hal yang membuat hikmat manusia itu terbatas. Ada hal-hal yang tidak sanggup diselesaikan oleh hikmat manusia. Terdapat sesuatu yang telah Tuhan buat “bengkok” tidak dapat diluruskan dengan usaha manusia yang fana. Demikian pula ketika kita mencoba menghitung untung-rugi dari usaha kita, seolah kita dapat memperhitungkan dengan tepat. Namun, ada hal-hal di luar perhitungan kita. Sehingga bisa saja kita hitung untung, berakhir kerugian. Sekalipun hikmat itu lebih baik dari pada kebodohan, hikmat manusia terbatas dan sangat dapat salah. Hikmat dapat menghilangkan ilusi dalam kehidupan namun tidak secara total melepaskan atau menyelesaikan persoalan hidup manusia berdosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar