Hikmat sebagai sarana memahami Dunia
Pengkhotbah menggunakan “hikmat” di seluruh pasal 2 (Pengkhotbah 2:3), mengakui bahwa hikmat lebih baik daripada kebodohan (Pengkhotbah 2:13, 19, 26). Keuntungan orang berhikmat yaitu dapat mengenali pemahaman atau cara hidup yang tidak tepat dalam dunia. Bahkan, hikmat dapat memberikan solusi dalam waktu tertentu, sekalipun tidak sempurna. Ada banyak hal di dunia ini berusaha mengalihkan fokus kita lepas dari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (mis. kerja, keluarga, materi, dll). Ada banyak propaganda palsu seperti ajaran-ajaran seolah benar dan menyenangkan untuk dijalani (mis. tradisi, self-love, kebebasan, agama, toleransi, cinta uang, hedonism, materialisme, kejahatan untuk kebaikan, dll - lihat juga Kolose 2:8; 2 Petrus 1:16; 2:3). Dunia berdosa juga membawa kita untuk mengabaikan kebenaran. Seseorang berkata: “ada Tuhan”, kita mengantuk dan tidak peduli. Selain itu, kita didorong untuk mengutamakan kebahagiaan. Hal ini sepertinya tidak salah, namun jadi jebakan untuk membuat kita tidak melihat realita secara utuh dan kritis. Kalau Tuhan dan ajaran alkitab tidak membuat kita bahagia (menurut pikiran dan standar dunia), maka kita mencari kebahagiaan apa yang diberikan oleh dunia. Terakhir, subjektivisme yang menekankan bahwa yang penting adalah “kebenaran menurutmu” dan “kebenaran menurutku” yang mengantar pada relativisme. Hikmat membantu mengenali jebakan-jebakan dosa ini.
Hikmat duniawi tidak cukup
Namun, hikmat duniawi tidak cukup. Dengan hikmat, pengkhotbah mengharapkan dapat memahami dan menyelesaikan persoalan dunia. Sebaliknya seperti dalam Pengkhotbah 1:15, ia hanya menemukan “kebengkokan”, sebuah dunia yang sangat menentang kecakapan intelektual raja (Pengkhotbah 7:13). Memahami berarti menciptakan makna dari kekacauan. Hikmat bukanlah instrumen pasif. Hikmat bisa menjadi alat yang ampuh, terutama di tangan raja atau pemimpin, untuk memahami dunia dan bahkan menciptakan makna di tengah kekacauan dunia. Kenyataannya, dunia berdosa tetap kebal terhadap upaya intelektual (Pengkhotbah 1:4b). Seperti pasir di tepi pantai atau bintang-bintang di langit yang tak terhitung banyaknya, kekurangan dunia tidak dapat dihitung (Pengkhotbah 1:15b). Alam semesta dalam dosa pada dasarnya tanpa harapan. Ini tidak bisa diselesaikan dengan tuntas oleh manusia berdosa.
Hikmat Allah, Tuhan Yesus Kristus
Kebijaksanaan konvensional, sebagaimana tercermin dalam sebagian besar kitab Amsal, menyatakan bahwa mengejar hikmat menjamin kebahagiaan dan kemakmuran (Amsal 2:10; 3:13-18), dan mereka yang menyerah pada kebodohan hanya akan menemukan susah hati bahkan merusak diri sendiri (Amsal 5:9-14; Pengkhotbah 7:17). Paulus mengubah ratapan Pengkhotbah menjadi dasar pujian ketika ia menyatakan bahwa kebodohan Allah sebagai “lebih besar hikmatnya dari pada hikmat manusia” (1 Kor. 1:18-25). Firman Tuhan menyatakan bahwa hikmat Allah itu pribadi yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Korintus 1:22-24).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar