Senin, 27 Januari 2025

Dunia yang Membosankan

Pengkhotbah 1:4-7 menyatakan tentang kesia-siaan dalam dunia alamiah, dunia yang membosankan. Ayat 4, dunia sebagai unchanging place (the permanence of the earth). Keberadaan dunia tidak terpengaruh oleh pergantian manusia. Terdapat kontras antara aktivitas di bumi yang bergerak secara cyclical degan bumi yang cenderung tetap (statis).

Selain itu digambarkan pola mekanik yang statis (the rule of regularity and predictability) dalam ayat 5-7: matahari terbit-terbenam, perputaran angin ke selatan-utara, air mengalir sungai-laut. Aktivitas berlimpah; semuanya bergerak terus-menerus, seperti hamster di dalam roda, tetapi tidak ada tujuan yang tercapai. Aktivitas ini “sia-sia” karena tidak menghasilkan sesuatu yang berbeda dari apa yang telah ada. Misalnya: matahari “terburu-buru” terbenam menyatakan tanpa tujuan, air mengalir ke laut tapi laut tidak penuh juga.

Dunia “di bawah matahari” itu seperti jam yang bergerak secara mekanik-statis tanpa tujuan yang lebih tinggi/mulia, ad infinitum. Dunia yang tidak berawal, tidak berakhir, tidak ada sabat (rest). Dalam filsafat Kristen, ini bisa disebut sebagai “kosmos tanpa penciptaan” (cosmos without creation). William P. Brown mengatakan "The cosmos is a corpus or, more accurately, a series of discrete bodies all in motion but without purpose or direction, a universe created in the image of the toiling individual."

Bagaimana cara pandang “dunia di atas matahari”?

Banyak bagian dari Alkitab seperti Kejadian 1-2, Mazmur 19, Mazmur 104 dan Ayub 38-41 menyatakan keterlibatan Tuhan Allah atas ciptaan dari mencipta dan menopang. Ciptaan mempunyai tujuan memancarkan kemuliaan Allah dan memuji Tuhan Allah Sang Pencipta. Mzm. 19:5 menggambar matahari seperti laki-laki perkasa yang memancarkan kemuliaan Allah. Mzm. 104:3-4 menyatakan Tuhan Allah menggerakkan angin sebagai pelayan-Nya untuk menggenapi rencana-Nya. Mzm. 104:10 menyatakan bahwa Tuhan Allah melepas air untuk menjadi minuman bagi binatang dan tumbuh-tumbuhan. 

Rabu, 15 Januari 2025

Kesia-siaan Hidup

Cain Slays Abel (1866) oleh Gustav Dore

Alkitab mengisahkan orang tua pertama di bumi yang mempunyai dua anak setelah kejatuhan manusia dalam dosa. Keduanya mempersembahkan persembahan bagi Tuhan Allah. Yang satu mempersembahkan dari hasil tanahnya. Yang kedua mempersembahkan dari hasil ternaknya. Yang kedua memperoleh perkenanan Tuhan namun kemudian menjadi korban iri hati dari saudaranya. Kain membunuh Habel. Habel dari ibrani Hebel berarti sia-sia dan fana. Itulah gambaran kehidupan manusia sesudah jatuh dalam dosa seperti Habel. Muncul sejenak, lalu hilang seperti uap. Seperti Habel memperoleh persetujuan Tuhan namun menjadi korban ketidakpuasan saudaranya, Kain, maka setiap keuntungan dalam hidup, betapa pun nyata dan amannya, dapat dengan mudah, “lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali” (Ams. 23:5).

Dalam Pengkhotbah 1:1-11 dinyatakan leitmotif (frase melodi utama) dari kitab ini adalah kesia-siaan. Kata ini diulang tidak kurang dari 37 kali. Istilah ibraninya, hebel berarti vapour, breath, vanity. Gambaran lain Alkitab menyatakan Kesia-siaan kiasan untuk hampa (diterbangkan hembusan nafas) dan tidak bernilai (Yesaya 57:13) atau tidak berguna (Yesaya 30:7; 49:4).

Secara filosofis, Peter Kreef menjelaskan arti dari kesia-siaan (vanity). Kesia-siaan berarti “in vain, useless, profitless.” Dalam istilah Ibrani digambarkan seperti “menjaring angin, menangkap bayangan, mengejar angsa liar” (namun tidak ada angsa liar). Sia-sia berarti tidak ada telos (tujuan), yang ada hanya akhir yaitu kematian. Tidak ada alasan untuk hidup (a reason to live) dan mati (a reason to die).

Dalam bahasa inggris, hebel dapat diterjemahkan sebagai ephemerality (fana atau hilang dalam sesaat), emptiness (kehampaan/kekosongan), meaninglessness (ketiadaan makna, arah, atau tujuan), absurdity (tidak masuk akal atau bodoh), dan bahkan shit (sampah atau kotoran). Tapi menurut pemahaman alkitab, “kesia-siaan” tidak tepat diterjemahkan sebagai emptiness, meaninglessness, absurdity, atau shit.

Apa arti kesia-sian menurut Alkitab?

“Kesia-siaan” seperti sebuah bayangan atau fata morgana di mana upaya, harapan, dan rencana manusia “menguap” sebelum terlaksana dan digantikan oleh keinginan dan kesengsaraan. “Kesia-siaan” itu sistemik berarti bagian tak terpisahkan dari struktur kehidupan. “Kesia-siaan” menjadi sumber utama keputusasaan manusia karena tidak dapat dihindari. Kesia-siaan seperti dinding bata yang menghalangi manusia menuju pencapaian keuntungan dan kemuliaan apa pun. Tidak peduli berapa keras manusia berusaha, manusia tidak dapat melindungi dan menghindarkan dirinya dari meminum air fata morgana kehidupan. Kita bukanlah tuan atas hidup kita. Kesia-siaan lebih tepat dipahami sebagai kerapuhan dan kefanaan eksistensi.

Oleh karena itu kita harus seize the moment and live well in it before God, pada saat yang sama menuntun kita untuk menolak keinginan untuk mengendalikan kehidupan apa pun. Menolak untuk memperoleh keuntungan (yitron) yang bersifat antroposentris, yang sering menjadi ciri aktivitas manusia.