Sabtu, 11 Mei 2019

Pujilah Hai Jiwaku

Dalam catatan sejarah penulisan lagu ini tidak diketahui siapa yang membuatnya. Walaupun demikian lagu ini sangat mempunyai dasar alkitab yang kuat. Lagu ini berdasarkan pada Mazmur 103 yang merupakan mazmur syukur (thanksgiving). Mazmur ini ditulis oleh Daud. Suatu Mazmur yang indah yang mengajarkan tentang “Allah yang mengasihi dan mengampuni”. Bait ke-1 lagu ini diambil dari Mazmur 103:2-3 yang berbunyi: “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu.” Ada banyak kebaikan Allah yang kita terima dalam hidup ini: keluarga, pekerjaan, pendidikan, lingkungan, hidup dan lainnya. Namun kebaikan-kebaikan tersebut adalah kebaikan umum dari Allah. Ada kebaikan yang lebih luar biasa daripada itu semua yaitu “Ia mengasihi dan mengampuni manusia berdosa”. Inilah yang dinyatakan melalui bait pertama lagu ini. Ketika kita menikmati segala kebaikan umum dari Allah, hendaklah kita tidak melupakan kebaikan-Nya yang paling luar biasa bahwa Ia mengasihi dan mengampuni kita yang berdosa. 

Bait ke-2 diambil dari Mazmur 103:4-5, “Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.” Kebaikan Allah tidak berhenti ketika Ia mengampuni manusia berdosa, Ia juga memahkotai dan memberikan hidup berkelimpahan. Manusia yang berdosa adalah manusia yang mengalami kerusakan total sehingga menjalani hidup yang tanpa makna. Ketika Tuhan Allah memulihkan manusia berdosa di dalam Kristus, Ia memberikan nilai diri yang sejati di dalam Kristus. Dengan demikian kebanggaan kita bukan lagi segala pencapaian duniawi melainkan kasih setia dan rahmat Kristus. Itulah yang menjadi mahkota kita. Dan berdasarkan rahmat Kristus itu pula kita menjalani hari-hari kita seperti burung rajawali muda dengan kekuatan dan harapan yang baru menuju masa depan penuh harapan di dalam Kristus.

Bait ke-3 diambil dari Mazmur 103:10-13, “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.” Bagian ini merupakan suatu ungkapan betapa sangat besarnya kasih Allah kepada umat-Nya. “Tingginya langit” merupakan kiasan atas kasih Allah yang tidak pernah dapat terukur oleh manusia. “Kasih Bapa” merupakan kiasan atas kasih yang tak berkesudahan dan tak bersyarat. Seperti Bapa yang mengasihi anak-anak-Nya dan terus menantikan anak yang hilang kembali pulang.

Betapa besar, berkelimpahan dan tak terduga anugerah Allah di dalam Kristus. Kiranya lagu ini membuat kita semakin kagum dengan Allah kita dan hidup dengan penuh syukur atas segala karya-Nya di dalam Kristus.

Sabtu, 26 Januari 2019

Happiness Is The Lord

Teks & Musik: Ira F. Stanphill, 1968

Ira F. Stanphill lahir di Belview, New Mexico, pada tahun 1914. Orang tuanya adalah Andrew Crittenton Stanphill dan Maggie Flora Engler Stanphill. Sampai berumur 12 tahun, Ira tinggal bersama orang tuanya di Kansas. Saat berumur 12 tahun itulah Ia bertobat. Sesudah lulus dari College yaitu pada saat itu berumur 22 tahun, Ia mulai berkotbah. Ia terlibat aktif dalam pelayanan penginjil dari suatu lembaga misi.

Ia merupakan salah satu penulis lagu kristen asal Amerika yang begitu dikenal pada pertengahan abad ke-20. Dia telah menulis lebih dari 550 lagu, di antaranya yang paling terkenal: “Mansion over the Hilltop,” “Room at the Cross,” dan tentu saja “Happiness Is the Lord.” Kadangkala Tuhan memberikan sebuah lagu kepada pengubah lagu pada saat yang tidak disangkasangka. Begitulah yang terjadi pada Ira Stanphill pada suatu sore di tahun 1974, setelah ia meninggalkan kantor gereja, di mana ia menjadi pendeta, di Fort Worth, Texas. Radio mobilnya menyala, dan selama menyetir dia mendengarkan beberapa iklan. Beberapa iklan tersebut disponsori oleh perusahaan yang mempromosikan happy hour dan minuman alkohol. Dia juga mendengar iklan rokok yang disampaikan sedemikian hingga seakan-akan bisa memberikan kebahagiaan.

Kata ‘kebahagiaan’ digunakan beberapa kali dalam iklan tersebut. Pada saat itu Ira berpikir bahwa kebahagiaan bukanlah datang dari semua hal itu, tapi dari mengenal Kristus. Selama pemikiran itu menguasai pikirannya, ia mulai bernyanyi. Dia menyanyikan sebuah lagu baru, menyusun kata-kata dan melodinya seraya menyetir. Dia menyanyikan lagu ini hampir sama seperti yang kita kenal sekarang.

Pengkotbah 8:12-13
Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.