Sabtu, 05 April 2014

A Short Biography: John Knox


John Knox lahir sekitar tahun 1513 di Haddington, tidak jauh dari Edinburgh. Ia belajar di Universitas St. Andrews lalu ditahbiskan. Pada umur 30 tahun ia pindah ke Protestan. Ia sangat terkesan oleh teman sezamannya George Wishart, yang berkotbah tanpa takut dan membayar dengan nyawanya ketika di bakar di St. Andrews pada tahun 1546. Selama 13 tahun berikutnya Knox merantau ke mana-mana. Ia menjadi budak kapal Perancis selama 19 tahun setelah ikut dalam pemberontakan di St. Andrews yang gagal. Ia berada di Inggris pada bagian akhir pemerintahan Edward VI dan ikut dalam tahap-tahap terakhir penyelesaian Book of Common Prayer dari Cranmer pada tahun 1552.

Ketika Mary naik tahta pada tahun 1553, ia melarikan diri ke daratan Eropa. Untuk sementara waktu ia menjadi gembala jemaat di Inggris dalam pelarian di Frankfurt, tempat ia terlibat dalam pertikaian. Knox dan yang lain sudah beranjak lebih jauh dari Book of Common Prayer dan memperkenalkan pola kebaktian yang lebih banyak lagi bersifat Calvinis. Akan tetapi pengungsi yang lain menyuruh Richard Cox untuk menegur John Knox. Mereka mengatakan bahwa ingin memiliki gereja berawajah Inggris. Knox menjawab, “Semoga Tuhan memberikan, supaya gereja itu berwajah Kristus.” Perselisihan ini menjadi pendahulu dari konflik Puritan yang berlangsung selama pemerintahan Elizabeth I, ketika satu pihak menghendaki agar Book of Common Prayer dipertahankan, sedangkan pihak lain menghendaki Reformasi yang lebih jauh sesuai dengan gereja-gereja Calvinis di daratan Eropa.

Pada tahun 1559 Knox kembali ke Skotlandia dan membantu memperbaharui gereja di sana. Dengan bantuan orang lain, ia menyusun Book of Discipline (Buku Disiplin, 1561) dan Book of Common Order (Buku Aturan Umum, 1564). Ia juga merupakan tokoh terpenting diantara “enam John” (yaitu enam Reformator Skotlandia bernama John), yang dalam waktu empat hari menyusun Scots Confession (Pengakuan Iman Skotlandia). Pengakuan Iman ini diterima Parlemen Skotlandia dan menjadi Pengakuan Iman Gereja Reformasi Skotlandia sampai tahun 1647, ketika Pengakuan Iman “Westminster” menggantikannya. Karya terbesarnya adalah History of the Reformation of Religion within the Realm of Scotland (Sejarah Reformasi Agama dalam Kerajaan Skotlandia), yang baru terbit secara lengkap pada tahun 1644. Knox meninggal tahun 1572.

Berikut kutipan dari Pengakuan Iman Skotlandia:

Bahkan setelah kita lahir kembali, kalau kita katakana bahwa kita tidak mempunyai dosa, kita membohongi diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada dalam diri kita. Oleh sebab itu, kita berpegang pada Yesus Kristus, pada kebenaranNya dan perdamaianNya karena Ia adalah tujuan dan perwujudan Taurat; juga karena kita dibebaskan oleh Dia supaya kita tidak kena murka Allah, walaupun kita tidak memenuhi Taurat secara menyeluruh. Sebab, kalau Allah melihat kita di dalam tubuh AnakNya Yesus Kristus, Ia akan menerima ketaatan kita yang tidak sempurna seolah-olah sempurna dan pekerjaan kita yang penuh noda ditutupiNya dengan kebenaran AnakNya (Scots Confession/Pengakuan Iman Skotlandia 15).

Rabu, 19 Februari 2014

A Short Biography: William Tyndale


William Tyndale lahir tahun 1490an di perbantasan Wales. Ia dididik di Magdalena Hall, Oxford dan kemudian di Cambridge. Kemudian ia menjadi tutor pada keluarga Sir John Walsh di Little Sodbury, di sebelah utara kota Bath. Sewaktu tinggal pada keluarga tersebut, Tyndale mengalami sendiri ketidaktahuan rohaniawan setempat. Kepada seorang rohaniawan, ia dilaporkan pernah mengatakan bahwa “sekiranya Allah member aku umur panjang, maka dalam waktu yang tak terlalu lama akan aku ajarkan anak yang membajak itu sehingga mengetahui lebih banyak alkitab daripada engkau sekarang.” Satu-satunya terjemahan Inggris dari Alkitab pada zaman itu adalah alkitab Wycliff yang disebar oleh pengikut-pengikut Wycliff yang disebut kaum Lollard. Gereja Inggris telah melarang penerbitan alkitab dalam bahasa Inggris sejak 1408. Tujuan Tyndale adalah untuk membuat terjemahan baru yang lebih cermat berdasarkan naskah aslinya dalam bahasa ibrani dan yunani. Ia mengharapkan lindungan Cuthbert Tunstall, uskup London yang terpelajar dan sahabat Erasmus. Namun, para uskup lebih memikirkan cara membendung penyebaran ide-ide Luther ke Inggris sehingga tidak mau mendorong penelaahan alkitab.

Jelas Inggris bukan tempat yang aman untuk menerjemahkan alkitab, sehingga Tyndale berangkat ke Jerman pada tahun 1524 dan ia tidak kembali lagi. Pada awal 1525, Perjanjian Baru siap untuk dicetak. Sewaktu sedang dicetak di Koln, phikah yang berwajib diberitahu dan mereka menggerebek percetakan itu. Tyndale sempat melarikan diri sambil membawa beberapa halaman yang sudah dicetak. Kemudian dicetak terbitan-terbitan berikut yang sudah diperbaiki. Pada tahun 1530, terjemahan Tyndale dari Pentatuekh (Kejadian sampai Ulangan) diterbitkan di Antwerpen, tempat tinggalnya saat itu.

Perjanjian Baru versi Tyndale diselundupkan ke Inggris. Pada akhir tahun 1526, Tunstall berkotbah melawannya dan secara formal beberapa eksemplar dibakar di St. Paul’s Cross. Tahun berikutnya Uskup Agung Warham dari Canterbury membeli sejumlah besar. Dengan demikian sebenarnya memungkinkan biaya percetakan ulang. Terjemahan Tyndale sangat besar pengaruhnya. Karena itu Tyndale disebut sebagai “Bapa Alkitab Inggris.” Hampir dapat dikatakan bahwa setiap Perjanjian Baru berbahasa Inggris sampai dengan abad lalu hanya merupakan penyempurnaan dari karya Tyndale. Kira-kira 90 persen dari kata-kata dalam karya Tyndale dipakai lagi dalam King James Version (Alkitab terjemahan versi Raja James) dan 75 persen dalam Revised Standard Edition (Alkitab Edisi Standar yang sudah diperbaiki).


Tyndale merencakan untuk menterjemahkan seluruh Perjanjian Lama. Tetapi pada tahun 1535, ia dikhianati oleh orang senegaranya di Antwerpen dan ditangkap. Tahun berikutnya ia dicekik dan dibakar. Kata-kata terakhirnya: “Tuhan bukalah mata Raja Inggris.” Apakah doa ini berpengaruh, kita tidak tahu, tetapi Raja Henry VIII, atas desakan Thomas Cranmer mengizinkan penerbitan-penerbitan alkitab terjemahan Inggris sejak tahun 1535, yang semuanya banyak mengambil dari Tyndale. Kesemuanya ini meratakan jalan masuknya gagasan-gagasan protestan pada masa pemerintahan Edward VI.