Selasa, 04 Februari 2025

Ekspektasi dan Realita


Fakta hidup yang seringkali membawa kita pada kesedihan yaitu ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Ini pula yang dinyatakan dalam Pengkhotbah 1:8-11. Inilah arti dari kesia-siaan eksistensi manusia. Hal ini dapat diamati melalui 3 aktivitas manusia sehari-hari yang “tidak mencapai hasil akhir”: berkata, melihat, mendengar. Perkataan manusia tidak pernah mencapai tujuannya. Ini berarti ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan sulit untuk diselesaikan atau digambarkan dengan kata-kata (the incapacity of language to communicate perception and experience). Melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga tidak pernah mencapai hasil akhir. Ini artinya mata dan telinga tidak pernah puas seperti laut yang tidak pernah penuh.

Selanjutnya, pengkhotbah mengamati sejarah manusia di mana terus berulang tanpa ada sesuatu yang baru. Sejarah tidak berjalan maju dan setiap individu menjalani kehidupan yang tidak pernah mencapai harapan atau rencananya. Jika sesuatu dianggap sebagai penemuan (inovasi), itu hanya karena kita lupa akan masa lalu. Apa yang kita lakukan hari ini terlihat baru namun hal itu tidak sungguh baru dan tidak akan diingat di masa depan. Masa sekarang hilang ditelan masa lalu dan masa depan. Misalnya pandemi muncul setiap periode tertentu, perang terus berlanjut, teknologi sekarang hanya pengembangan dari teknologi masa lalu dan bahkan ada yang pengulangan semata. Sejarah manusia “di bawah matahari” direduksi menjadi rutinitas yang melelahkan. Tidak ada keselamatan dari dunia berdosa.

Bagaimana cara pandang “dunia di atas matahari”?

Sejarah dikendalikan dan digerakkan oleh Tuhan Allah untuk mencapai tujuan-Nya. Mazmur 96:1 menyatakan kemungkinan sesuatu yang baru muncul berupa nyanyian baru bagi TUHAN. Yeremia 31:31 menyatakan kemungkinan adanya perjanjian baru. Secara eskatologis, Yessaya 65:17 menyatakan tentang langit dan bumi yang baru. 

Senin, 27 Januari 2025

Dunia yang Membosankan

Pengkhotbah 1:4-7 menyatakan tentang kesia-siaan dalam dunia alamiah, dunia yang membosankan. Ayat 4, dunia sebagai unchanging place (the permanence of the earth). Keberadaan dunia tidak terpengaruh oleh pergantian manusia. Terdapat kontras antara aktivitas di bumi yang bergerak secara cyclical degan bumi yang cenderung tetap (statis).

Selain itu digambarkan pola mekanik yang statis (the rule of regularity and predictability) dalam ayat 5-7: matahari terbit-terbenam, perputaran angin ke selatan-utara, air mengalir sungai-laut. Aktivitas berlimpah; semuanya bergerak terus-menerus, seperti hamster di dalam roda, tetapi tidak ada tujuan yang tercapai. Aktivitas ini “sia-sia” karena tidak menghasilkan sesuatu yang berbeda dari apa yang telah ada. Misalnya: matahari “terburu-buru” terbenam menyatakan tanpa tujuan, air mengalir ke laut tapi laut tidak penuh juga.

Dunia “di bawah matahari” itu seperti jam yang bergerak secara mekanik-statis tanpa tujuan yang lebih tinggi/mulia, ad infinitum. Dunia yang tidak berawal, tidak berakhir, tidak ada sabat (rest). Dalam filsafat Kristen, ini bisa disebut sebagai “kosmos tanpa penciptaan” (cosmos without creation). William P. Brown mengatakan "The cosmos is a corpus or, more accurately, a series of discrete bodies all in motion but without purpose or direction, a universe created in the image of the toiling individual."

Bagaimana cara pandang “dunia di atas matahari”?

Banyak bagian dari Alkitab seperti Kejadian 1-2, Mazmur 19, Mazmur 104 dan Ayub 38-41 menyatakan keterlibatan Tuhan Allah atas ciptaan dari mencipta dan menopang. Ciptaan mempunyai tujuan memancarkan kemuliaan Allah dan memuji Tuhan Allah Sang Pencipta. Mzm. 19:5 menggambar matahari seperti laki-laki perkasa yang memancarkan kemuliaan Allah. Mzm. 104:3-4 menyatakan Tuhan Allah menggerakkan angin sebagai pelayan-Nya untuk menggenapi rencana-Nya. Mzm. 104:10 menyatakan bahwa Tuhan Allah melepas air untuk menjadi minuman bagi binatang dan tumbuh-tumbuhan.