Senin, 21 Agustus 2023

Apa yang Baik bagi Manusia? (2)

Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 7:1-14

Qohelet membandingkan hal-hal baik dalam hidup dengan hal-hal yang lebih baik. Pertama, lebih baik nama harum daripada minyak yang mahal (ayat 1a). “Nama harum” (ṭȏb shem) lebih baik daripada “minyak mahal” (shemen ṭȏb) yang mewakili kekayaan yang luar biasa dan kesenangan (Kid. 1:3). Minyak yang mahal terdaftar di antara harta Raja Hizkia (2 Raj. 20:13; Yes. 39:2) dan merupakan barang mewah yang sangat diinginkan (Mzm. 133:2-3). Dalam hikmat tradisional, nama harum mengacu pada reputasi yang baik (Ams. 22:1). Mengapa reputasi yang baik itu penting? Karena reputasi-lah yang akan menemani seseorang sampai kematiannya. Nama harum adalah semacam cara untuk mencapai keabadian (Ayb. 18:17; Ams. 10:7; Yes. 56:5). Kematian adalah fakta yang tak bisa disangkali dan tak dapat dihindari namun dengan reputasi yang baik, kematian itu seolah dikalahkan karena reputasi baik akan dikenang sepanjang masa. Namun, sekalipun akan dingat sangat lama, nama baik juga suatu kali akan dilupakan.

Kedua, lebih baik hari kematian daripada hari kelahiran (ayat 1b). Pada umumnya dalam kuno maupun sekarang, hari lahir selalu dianggap sebagai waktu bersukacita. Itu sangat dinantikan sebagai hari berkat (Rut 4:13-17, secara negatif dinyatakan dalam Yer. 20:14-15; Ayb. 3:3-26). Qohelet tidak mengatakan bahwa hari kematian secara harfiah lebih baik daripada hari kelahiran. Sebaliknya, dia hanya mengambil kata-kata pertama ("nama harum lebih baik daripada minyak yang mahal”) ke kesimpulan logisnya, jika sebuah nama benar-benar lebih baik daripada harta benda, maka hari kematian (3:18-21; 4:2-4; 6:1-6) lebih baik daripada hari kelahiran. Jika kematian adalah satu-satunya yang pasti menanti kita, lalu apa arti hidup dan nama yang harum? Semuanya penuh ketidakpastian sedangkan yang pasti adalah hari kematian maka itu hari kematian seseorang lebih baik daripada hari kelahiran. Hari kematian dipandang baik karena memberi kepastian. Namun “bersuka” pada hari kematian merupakan suatu yang absurd.

Ketiga, lebih baik rumah duka daripada rumah pesta (ayat 2). Jika hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran maka rumah duka lebih baik daripada rumah pesta. Secara umum, rumah duka mengacu pada pemakaman, rumah pesta mengacu pada pernikahan. Zaman kuno bukan berarti zaman suram (tanpa sukacita dan pesta). Ada banyak catatan menyatakan masyarakat kuno sering mengadakan pesta dengan minuman dan makanan berlebihan. Apa artinya pergi ke rumah duka lebih baik? Qohelet mengajak kita menghadapi dan menerima kenyataan kematian bahwa manusia fana daripada terjebak dalam euforia perayaan pernikahan. Menghadapi kenyataan kematian akan mendorong seseorang untuk hidup dalam pengakuan akan kefanaan hidup, sedangkan seseorang mungkin tertipu oleh kemeriahan pernikahan dengan berpikir bahwa kegembiraan saat ini akan berlangsung selamanya.

Keempat, lebih baik bersedih daripada tertawa (ayat 3). Istilah bersedih dari ibraninya ka`as (sorrow) secara khusus dipakai untuk merujuk kesedihan relasional (1 Sam. 1:6, 16; Ams. 17:25; Ams. 21:19). Kata ini juga digunakan untuk pengalaman kesakitan dan kesengsaraan secara umum, baik yang dipicu oleh manusia atau dianggap berasal dari Tuhan (Ul. 32:27; Mzm. 6:8; 31:10; 85:5; 1 Raj. 15:30; 2 Raj. 23:26). Dalam tulisan hikmat, istilah ini digunakan untuk kesengsaraan orang-orang bodoh (Ams. 12:16). Arti ayat 3 ini bisa dibandingkan dengan Ams. 14:13. Hidup ini penuh dengan kontradiksi. Hidup itu “paket lengkap”: tidak semuanya baik, juga tidak semuanya buruk. Bahkan di saat-saat kebahagiaan, pikiran manusia terus-menerus menyadari keterbatasan kegembiraan dan fakta bahwa kesedihan selalu menjadi ancaman bagi kebahagiaan manusia. Jadi orang berhikmat hidup dalam kesadaran akan kenyataan kematian dan tragedi lainnya, sedangkan orang bodoh hanya sadar akan kegembiraan.

Kelima, lebih baik muka muram daripada hati lega (ayat 4). Ini terkait dengan ungkapan dalam ayat 1-3. Diringkas demikian: kesedihan lebih baik daripada kegembiraan, muka muram sama dengan kebahagiaan hati, hati orang bijak ada di rumah duka. Penekanan bahwa realitas kehidupan itu penuh dengan kontradiksi. Tidak ada yang bisa mereduksi realitas hidup dan mati, atau kebahagiaan dan kesedihan, menjadi serangkaian proposisi. Realitas kehidupan terlalu kontradiktif bagi seseorang yang terperangkap dalam nilai-nilai yang seringkali idealis dan penuh euforia semu.

Keenam, lebih baik jadi orang berhikmat daripada jadi orang bodoh (ayat 5-7). Lebih baik hardikan orang berhikmat daripada nyanyian orang bodoh (ayat 5). Ini menyatakan ada manfaat yang jelas dari disiplin/didikan, meskipun menyakitkan (Ams. 1:23; 3:11; 6:23; 13:24; 22:15; 27:14; 28:23; Ayb. 5: 17-18). Orang bijak menyadari hal ini, sedangkan orang bodoh justru memberi pujian kosong berlebihan (Ams. 26:28; 29:5). Qohelet memberikan gambaran tentang pujian kosong dari orang bodoh dalam ayat 6 seperti duri terbakar di bawah kuali. Masyarakat Timur Dekat Kuno menggunakan duri sebagai bahan bakar karena duri kering dan mudah terbakar (Nah. 1:10; Mzm. 58:9). Namun duri itu menimbulkan suara keras tak perlu menurut fungsinya dan cepat terbakar habis. Ini berbeda dengan bahan bakar dari kayu atau batu bara. Nyanyian/kegembiraan orang bodoh seperti keributan dari duri yang terbakar yang malah menjengkelkan dan tidak penting. Dengan demikian orang bijak dapat dipercaya daripada orang bodoh sekalipun kata-kata orang bijak itu menyakitkan.

Ketujuh, “Lebih baik akhir suatu hal daripada awalnya” kemudian dilanjutkan “Lebih baik panjang sabar daripada tinggi hati (ayat 8).” Kata Ibrani untuk “akhir” dan “awal” muncul bersamaan beberapa kali dalam Alkitab, dan dalam setiap kasus dibuat kontras antara situasi sebelumnya dan situasi akhirnya (Ul. 11:12; Yes. 46:10; Ayb. 8:7; 42:12). Jika “ṭȏb-sayings” secara tematik saling terkait dan akhirnya memuncak di ayat 8 sebagai konfirmasi dari ayat 5-6. Hasil hardikan/didikan (akhir) lebih penting daripada sakit hati saat dihardik (awal). Kurang penting siapa yang bijak atau siapa yang bodoh pada awalnya, karena yang lebih penting adalah hasil akhir suatu tindakan. Orang bijak pun dapat menjadi bodoh (ayat 6-7). Oleh karena itu setiap orang harus sabar dan rendah hati menanti “akhir” segala sesuatu untuk dapat menilai lebih baik.

Renungan

Pada akhirnya, segala terjadi dalam hidup dalam kedaulatan Tuhan Allah, bukan berdasarkan kemampuan usaha dan hikmat manusia. Bdk. 1:15 - Qohelet mengakui bahwa dunia ini tidak sempurna, tetapi dia tidak berpikir bahwa siapa pun dapat meluruskan apa yang telah Tuhan buat “bengkok.” “Pekerjaan Allah” yang misterius inilah yang membuat pembaca dipanggil untuk “melihat”, mengenali realitas apa adanya (ayat 13). Kesimpulannya bahwa orang hanya dapat menerima apa ada, menerima kebaikan ketika dapat diakses dan menghadapi kesulitan sebagai realita kehidupan (ayat 14).

Realita kehidupan itu ada yang baik bersama dengan yang buruk. Memang, Tuhan "telah menjadikan" apa yang baik, hanya saja di luar kemampuan manusia untuk mengetahui kapan itu akan datang. Manusia hanya bisa "melihat" dan "berada dalam kebaikan" ketika ada yang baik, dan "melihat" bahwa baik dan buruk itu dalam kedaulatan Allah. Pekerjaan Tuhan juga mencakup hari-hari baik dan hari-hari buruk (7:14). Seseorang harus mensyukuri hari-hari baik ketika mereka datang karena masa depan tidak pasti.

Senin, 14 Agustus 2023

Apa yang Baik bagi Manusia? (1)

Bacaan Alkitab:  Pengkhotbah 7:1-14

Pada Januari 1997, seorang yachtsman Inggris Tony Bullimore (15 Jan. 1939 – 31 Jul. 2018), saat itu berumur 58 tahun, berlayar sendirian jauh di Samudra Selatan dalam rangka mengikuti 1996–97 Vendée Globe single-handed around-the-world race. Sebuah badai mengamuk. Ombak yang mencapai ketinggian gedung berlantai lima (25-35 meter), menerjangnya dengan suara seperti guntur yang menderu. Saat kapal pesiarnya jatuh ke muka ombak, kapal itu menabrak sesuatu lalu terendam air dan terbalik. Dua belas kali Bullimore meninggalkan kokpit dalam upaya sia-sia untuk melepaskan rakit penyelamatnya. Bertemu tanpa hasil, dia berlindung di kabin kecilnya. Duduk di dalam kegelapan bertinta dingin Bullimore memiliki sedikit ransum - beberapa cokelat dan alat untuk membuat air tawar dari laut asin. Jari-jarinya menjadi beku dan Bullimore berpikir bahwa dia akan mati. Peluang untuk diselamatkan tampaknya sangat kecil.

Empat empat hari yang panjang Tony selamat (10 Januari 1997), sampai Rabu malam ketika sebuah pesawat RAFF menemukannya dan menjatuhkan probe elektronik di sebelah kapal pesiarnya. Bullimore bisa mendengar ping samar, dan dengan harapan yang naik di hatinya, mulai mengetuk lambung kapal untuk berkomunikasi dengan siapa pun yang mendengarkan bahwa dia masih hidup. Pagi-pagi keesokan harinya HMAS Adelaide mendekat, dan beberapa pelaut dikirim untuk menggedor lambung kapal. Tony mendengar dentuman itu, menarik napas dalam-dalam, dan berenang keluar melalui reruntuhan kapal pesiarnya untuk menemui mereka.

Beberapa waktu sesudah peristiwa itu. Ia diwawancara. Bullimore berkata, “Ketika saya melihat ke Adelaide, saya hanya bisa mendapatkan ekstasi luar biasa yang saya lihat dalam hidup, saya benar-benar melihat gambaran tentang apa kehidupan itu. Itu adalah surga, surga mutlak. Saya benar-benar tidak pernah berpikir saya akan mencapai sejauh itu. Saya mulai melihat kembali kehidupan saya dan mulai berpikir, 'Saya memiliki kehidupan yang baik, saya telah melakukan sebagian besar hal yang ingin saya lakukan' Saya pikir jika saya memilih kata-kata untuk menggambarkannya, itu akan menjadi keajaiban. Keajaiban mutlak.” – Kehidupan itu keajaiban mutlak.

Berkaca pada pengalaman itu, Bullimore mengatakan kepada wartawan, “…Sekarang saya menjadi agak tua, ada satu hal, dan saya tidak keberatan memberi tahu dunia, saya telah menjadi lebih manusiawi. Dalam enam hari terakhir ini saya adalah orang yang berbeda. Saya tidak akan kasar kepada orang-orang, bukan seperti itu, tetapi saya akan menjadi lebih dari seorang pria terhormat dan, sama halnya, saya akan lebih banyak mendengarkan orang. Dan seperti yang dikatakan teman lama saya, David Matherson, ketika dia mengalami serangan jantung – dan saya tidak pernah mengalami serangan jantung, saya memiliki jantung yang kuat, saya harap saya masih memilikinya – dia mengatakan itu ketika dia mendapat di atasnya dan membuka jendelanya di kamar tidurnya dan dia mengintip keluar dan mencium udara segar dan semua yang lain, dia berkata: 'Ya Tuhan rasanya seperti dilahirkan kembali, hidup itu hebat!' Nah itulah yang saya rasakan sekarang, seperti dilahirkan kembali.”

Titik terendahnya dalam kehidupan justru menjadi titik awal melihat harapan dan makna hidup. Inilah paradoks dalam kehidupan.

Demikian pula yang diajarkan dalam Pengkhotbah 7:1-14. Bagian ini merupakan lanjutan dari pertanyaan refleksi Qohelet “Apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia?” (Pkh. 6:12). Pkh. 7:1-8:17 didominasi tentang “ṭȏb-sayings” (apa yang baik bagi manusia yang fana). Beberapa arti harfiah dari ṭȏb yakni good, pleasant, agreeable, excellent, valuable, happy, prosperous. Pkh. 7:1-12 merupakan kumpulan pepatah yang disimpulkan dalam Pkh. 7:13–14. Pepatah ini menggunakan gaya peribahasa “lebih baik daripada” yang menekankan bahwa dalam hidup terdapat hal-hal yang lebih baik daripada hal-hal yang lainnya. Ini berarti setiap hal tidak mempunyai nilai yang sama. Menurut Qohelet, kehidupan yang baik itu mengetahui dan menerima bahwa memang ada hal-hal yang lebih baik daripada yang lain dalam kehidupan yang fana ini (mis. 2:13, 24-26; 3:12-13, 22; 4:6, 9, 13; 6:9). Namun manusia yang terbatas sulit mengetahui secara sempurna mana yang baik dan buruk. Inilah bagian misteri dari pekerjaan Allah.