Minggu, 06 Agustus 2017

Tiap Langkahku

(Each Step I Take)

Penulis lagu ini bernama W. Elmo Mercer. Ia adalah seorang penulis lagu-lagu Kristen yang lahir pada 15 Februari 1932 di Amerika Serikat. Sejak kecil ia sudah belajar piano. Pada saat berumur 13 tahun, ia melayani di gereja sebagai pianis ibadah. Ia mulai menulis lagu-lagu Kristen sejak berumur 14 tahun. Pada saat berumur 19 tahun, ia menulis lagu “Tiap Langkahku” (Each Step I Take). Lagu yang sederhana dan indah ini menjadi berkat bagi banyak orang di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Hampir semua gereja di Indonesia mengenal lagu ini.

Dalam lagu ini kita diajarkan bahwa Tuhan Allah memimpin setiap langkah umatNya. Sebagaimana dikatakan dalam Amsal 20:24, “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN”. Ia memimpin setiap langkah kita untuk hidup seturut dengan perintahNya. Demikian ditegaskan dalam 1 Samuel 2:9  Langkah kaki orang-orang yang dikasihi-Nya dilindungi-Nya, tetapi orang-orang fasik akan mati binasa dalam kegelapan, sebab bukan oleh karena kekuatannya sendiri seseorang berkuasa. Hal ini menjadi jaminan kepada kita sehingga tidak hidup dalam kekuatiran dan ketakutan. Kita memperoleh ketenangan sejati dalam setiap langkah kita karena Tuhan Allah memimpin kita.

Apakah hidup orang Kristen akan selalu lancar tanpa hambatan? Tidak selalu demikian. Ada waktu dimana kita seringkali mulai malas ikut Tuhan, iman kita mulai goyah dan bahkan jatuh dalam dosa. Namun saat sulit yang demikian kita mesti tetap memandang kepada Kristus. Kita mesti mohon ampun kepadaNya dan semakin dekat lagi kepada Kristus. Karena di dalam Kristus-lah kita memperoleh kekuatan sejati untuk terus hidup bagi Dia di tengah segala kesulitan dan masalah yang kita hadapi.

Sampai akhirnya, Tuhan Allah memimpin langkah kita semakin dekat padaNya dan menuju Yerusalem baru. Ia akan menjadikan segalanya baru tentu termasuk diri kita. Kita yang percaya kepada Kristus akan semakin disempurnakan. Dan kita akan bersama-sama dengan Dia dalam kemuliaan dan kesucian.

Kamis, 27 Juli 2017

Tuhan Ku Cinta-Mu

Teks dan Musik: John E. Sung (27 September 1901-18 Agustus 1943)

Lagu ini ditulis oleh John Sung. Ia adalah seorang pengabar Injil dari Tiongkok yang sangat dikenal dalam kalangan gereja-gereja di Jawa, terutama di kalangan gereja-gereja Tionghoa, termasuk juga di kota Surabaya. Hidupnya merupakan kesaksian dari cintanya kepada Tuhan. Sejak ia menjadi hamba Tuhan, ia terus berusaha hidup untuk memuliakan Tuhan Allah. John Sung diberi gelar Obor Allah di Asia, karena beliau merupakan seorang penginjil yang luar biasa pada abad 20, khususnya dalam acara-acara Kebaktian Kebangunan Rohani yang dipimpinnya. John Sung juga seorang pengkhotbah yang memulai pelayannya awal tahun 1933 di propinsi Shantung. Ia pernah juga bergabung satu tim dengan Dr. Andrew Gih, pendiri Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang. John Sung lahir di desa Hong Chek, wilayah Hing Hwa di propinsi Fukien, Tiongkok Tenggara, pada tanggal 27 September 1901. John merupakan anak ke-6 dari pendeta Sung, seorang hamba Tuhan di Gereja Methodist. Nama kecil yang diberikan keluarganya adalah Ju Un, artinya Kasih karunia Allah.

Waktu kecil Ju Un merupakan anak yang cerdas namun nakal. Salah satunya, ia pernah melemparkan sebuah mangkuk berisi nasi panas ke wajah adiknya. Karena takut akan hukuman yang segera akan diberikan, maka Ju Un memutuskan utnuk melompat ke dalam sumur. Suatu kali sesudah dipukuli ayahnya, ia mengintip dari celah-celah kamar kerja ayahnya. Ia heran melihat ayahnya menangis. Lalu ia berlari dan menabrak pintuk mendapatkan ayahnya. Ju Un berteriak, “Apa yang terjadi, Ayah? Ayah menghukum aku, tetapi aku tidak menangis. Mengapa justru ayah yang menangis?” Jawab ayahnya, “Ini adalah pelajaran mengenai kasih sayang Allah.” Pada tahun 1913, dalam sebuah Kebangunan Rohani di Hing Hwa, ia bertobat. Sejak itu, Ju Un mulai terlibat dalam pelayanan khususnya dalam mengabarkan injil.

Tanggal 10 Februari 1926, Dr. John Sung, M.Sc, Ph.D. telah memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan dan ia telah mendaftarkan diri di Union Theological Seminary. Tanggal 4 Oktober 1926, John Sung kembali ke Tiongkok. Pada waktu kapal hendak merapat di dermaga pelabuhan Shang Hai, John Sung membuang ijazah sarjananya serta tanda-tanda penghargaan yang diperolehnya di Amerika Serikat ke dalam laut, kecuali ijazah doktornya untuk diperlihatkan dan menyenangkan hati ayahnya. Ia menganggap bahwa penghargaan-penghargaan dan ijazahnya dapat menggoda dia meninggalkan panggilannya sebagai penginjil. Kemajuan kerohaniannya semakin terlihat, Sung menanggalkan semua kemuliaan dunia untuk mendapatkan yang lebih berharga, yakni kemuliaan Allah.

Di kota Shang Hai, John Sung muncul untuk kali yang terakhir. Orang-orang berjubel-jubel, dan sementara menunggu pengkhotbah mereka asyik bercaka-cakap. Dr. Sung muncul, tiba-tiba dengan tinjunya ia memukul meja sekeras-kerasnya sambil berteriak, “Apakah ini gedung untuk berkomedi atau untuk kebaktian?” Semua terdiam, lalu ia mulai berkhotbah. Alkitab yang dikutip hari itu adalah dari 1 Tesalonika 5:2, “Hari Tuhan datang seperti pencuri waktu malam.” Tubuh John Sung makin lemah; hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa ia menderita kanker dan TBC.

Tahun 1943 merupakan tahun yang paling sulit bagi John Sung. 16 Agustus 1943, John Sung begitu jelas mengetahui bahwa ia akan meninggal. Malam itu pula ia tidak sadar, tetapi besoknya ia pulih kembali dan sempat menyanyikan tiga lagu rohani. Tidak lama kemudian tubuhnya kembali lemah. Pukul 07.07 waktu setempat, tepatnya tanggal 18 Agustus 1943, dalam usia 42 tahun; John Sung dipanggil Tuhan saat sahabat-sahabatnya berdoa di samping tempat tidurnya.

Kiranya melalui lagu ini yang dihidupi oleh John Sung kembali mengingatkan kita bahwa Tuhan lebih dahulu mengasihi kita. Kiranya kita juga mengasihiNya segenap jiwa dan seluruh tenaga kita.