Senin, 24 Februari 2025

Teologi Kenikmatan

Terlalu sering, Kekristenan dipersempit sebagai iman yang menyangkal dan menekan keinginan, menjauhi kenikmatan. Namun, bagaimana jika kenikmatan, jika dipahami dengan benar, merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk manusia? Bagaimana jika, alih-alih takut akan kenikmatan, kita belajar untuk mengelolanya dengan cara yang memuliakan Tuhan?

Dalam Pengkhotbah 2:1-11, 24-26, Pengkhotbah merenungkan tentang kenikmatan duniawi. Ia menemukan makna kenikmatan duniawi dan mempertimbangkan signifikansinya. Ia menyimpulkan: sia-sia. Artinya tidak ada makna kekal dalam mengejar kenikmatan duniawi (di bawah matahari).

Istilah “kegirangan” (kesenangan/kenikmatan) dalam ibraninya simha dapat berarti kenikmatan surgawi dan kenikmatan duniawi. Kenikmatan surgawi berarti kegembiraan yang timbul dari kegembiraan dalam Tuhan dan menyembah-Nya. Kenikmatan duniawi berarti kesenangan materiil dan inderawi. Pengkhotbah “mengalami kesenangan” (experience pleasure) dan “menikmati kehidupan” (enjoy the good life) untuk memaknai hidupnya. Tetapi pada akhirnya Ia menyimpulkan bahwa usahanya itu sia-sia (hebel) karena hal itu tidak benar-benar mencapai sesuatu yang bernilai.

Pengkhotbah mengeksplorasi kesenangan lebih rinci sebagai sumber makna atau keuntungan dalam hidup. Pertama, kenikmatan melalui minuman (ayat 3). Tindakan “meminum” merupakan tindakan yang terkait dengan kepuasan dan kesegaran (Yohanes 4:9-14; 7:37-39; Wahyu 21:6). Beberapa menafsirkan keadaan pengkhotbah dapat mengendalikan diri (behave) sekalipun sudah banyak minum anggur. Minum anggur, juga, tidak dengan sendirinya merupakan tindakan bodoh (secara eksplisit dipuji dalam Pengkhotbah 9:7). Masalahnya adalah meminum anggur itu tidak “menyelesaikan” apa pun yang diharapkan.

Dalam alkitab, anggur menggambarkan hal positif dan negatif. Secara negatif, anggur bisa disalahgunakan dan menjadi sarana untuk kehilangan pengendalian diri (Amsal 20:1; Hosea 4:11-12; Efesus 5:18). Secara positif, anggur menggambarkan sukacita, perayaan, kelimpahan berkat dari Tuhan Allah, dan bahkan berkat eskatologis (Mazmur 4:7; Lukas 22:7). Pengkhotbah memaknai anggur sebagai sarana sukacita di bawah matahari (Pengkhotbah 9:7).

Kedua, kesenangan melalui membangun bangunan besar: rumah-rumah, taman-taman dan kebun-kebun anggur (ayat 4-6). Dalam hal ini, pengkhotbah tidak membangun sebagai seorang dermawan (philantrophy) atau bangunan publik melainkan untuk kesenangan diri (self-pleasure). Sang “raja” mengubah lingkungannya dan memfasilitasi dirinya untuk mendapatkan kesenangan hidup. Seolah-lah, pengkhotbah mempunyai kuasa mirip dengan Tuhan (godlike). Ini ditegaskan dengan istilah yang digunakan berhubungan erat dengan ciptaan Tuhan di taman Eden (1 Samuel 12:24; Mazmur 126:2-3). Rumah, kebun anggur, kebun, dan taman semuanya disebutkan, kata terakhir dari istilah-istilah pardes berasal dari kata Persia pairi-daeza, “sebuah kandang,” dari mana kita juga akhirnya mendapatkan kata Firdaus (paradise). Pengkhotbah menyombongkan dirinya dan berambisi menciptakan sesuatu seperti Firdaus, namun usahanya gagal.

Ketiga, kesenangan melalui kepemilikan hal-hal materiil: budak, binatang, logam mulia (ayat 7-8a). Dia menggambarkan harta yang dimilikinya. Harta itu adalah hasil dari upeti (harta raja-raja) dan pajak daerah kekuasaannya. Cadangan perak dan emas Salomo disebutkan dalam 1 Raja-raja 10:14-25; 2 Tawarikh 9:27.

Keempat, kesenangan melalui seni (ayat 8b). Pengkhotbah juga menikmati musik dengan menciptakan paduan suara campuran. Ada kemungkinan bahwa paduan suaranya terdiri dari laki-laki dan perempuan membedakannya dari paduan suara ibadah, yang hanya terdiri dari laki-laki suku Lewi.

Kelima, kenikmatan seksual (Ayat 8c). Gundik disebut kesenangan umat manusia. Istilah kesenangan di sini mengacu pada kenikmatan erotis seperti dalam Kidung Agung 7:7.

Ayat 9-11 merupakan kesimpulan refleksi pengkhotbah atas makna kenikmatan. Ayat 7 dan 9 menyatakan bahwa dia menjalani hidup lebih baik dan merayakan hidup lebih daripada orang lain dalam hal kenikmatan ragawi. Ayat 10 menyatakan bahwa ia tidak menahan diri, tidak menyangkal diri dalam mengejar makna dalam kenikmatan indrawi. Ini merupakan hasil dari jerih payahnya. Namun, dalam ayat 11 menyatakan bahwa hasil akhir dari jerih payah ini adalah kesia-siaan. Kerja keras di bawah matahari tidak menghasilkan untung melainkan buntung. Hal ini digambarkan dengan peribahasa: usaha menjaring angin.

Lalu, bagaimanakah seharusnya kita hidup?

Dalam ayat 24-26, pengkhotbah menyatakan jika tidak ada makna tertinggi dapat dicapai dalam kehidupan di bawah matahari, maka seseorang harus tidak kehilangan kesempatan untuk menikmati hidupnya. Jangan menunggu hari esok, jangan kehilangan kenikmatan hidup yang mungkin ada di masa sekarang. Mengapa? Karena kenikmatan sementara ini juga datang dari tangan Tuhan. Ini adalah anugerah umum Allah bagi manusia.

Namun, pengkhotbah mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa menikmati kenikmatan sementara ini kecuali Tuhan mengizinkannya. Itu ada dalam kendali Tuhan dan Tuhan akan membagikannya kepada siapa pun yang Tuhan inginkan. Dia mengizinkan hal-hal baik dan buruk kehidupan kepada orang-orang. Tuhan terlibat dengan segala hal yang terjadi di dunia. Tuhan Allah sebagai Sumber Kenikmatan.

Selasa, 18 Februari 2025

Mengejar Hikmat (2)

Hikmat sebagai sarana memahami Dunia

Pengkhotbah menggunakan “hikmat” di seluruh pasal 2 (Pengkhotbah 2:3), mengakui bahwa hikmat lebih baik daripada kebodohan (Pengkhotbah 2:13, 19, 26). Keuntungan orang berhikmat yaitu dapat mengenali pemahaman atau cara hidup yang tidak tepat dalam dunia. Bahkan, hikmat dapat memberikan solusi dalam waktu tertentu, sekalipun tidak sempurna. Ada banyak hal di dunia ini berusaha mengalihkan fokus kita lepas dari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (mis. kerja, keluarga, materi, dll). Ada banyak propaganda palsu seperti ajaran-ajaran seolah benar dan menyenangkan untuk dijalani (mis. tradisi, self-love, kebebasan, agama, toleransi, cinta uang, hedonism, materialisme, kejahatan untuk kebaikan, dll - lihat juga Kolose 2:8; 2 Petrus 1:16; 2:3). Dunia berdosa juga membawa kita untuk mengabaikan kebenaran. Seseorang berkata: “ada Tuhan”, kita mengantuk dan tidak peduli. Selain itu, kita didorong untuk mengutamakan kebahagiaan. Hal ini sepertinya tidak salah, namun jadi jebakan untuk membuat kita tidak melihat realita secara utuh dan kritis. Kalau Tuhan dan ajaran alkitab tidak membuat kita bahagia (menurut pikiran dan standar dunia), maka kita mencari kebahagiaan apa yang diberikan oleh dunia. Terakhir, subjektivisme yang menekankan bahwa yang penting adalah “kebenaran menurutmu” dan “kebenaran menurutku” yang mengantar pada relativisme. Hikmat membantu mengenali jebakan-jebakan dosa ini.

Hikmat duniawi tidak cukup

Namun, hikmat duniawi tidak cukup. Dengan hikmat, pengkhotbah mengharapkan dapat memahami dan menyelesaikan persoalan dunia. Sebaliknya seperti dalam Pengkhotbah 1:15, ia hanya menemukan “kebengkokan”, sebuah dunia yang sangat menentang kecakapan intelektual raja (Pengkhotbah 7:13). Memahami berarti menciptakan makna dari kekacauan. Hikmat bukanlah instrumen pasif. Hikmat bisa menjadi alat yang ampuh, terutama di tangan raja atau pemimpin, untuk memahami dunia dan bahkan menciptakan makna di tengah kekacauan dunia. Kenyataannya, dunia berdosa tetap kebal terhadap upaya intelektual (Pengkhotbah 1:4b). Seperti pasir di tepi pantai atau bintang-bintang di langit yang tak terhitung banyaknya, kekurangan dunia tidak dapat dihitung (Pengkhotbah 1:15b). Alam semesta dalam dosa pada dasarnya tanpa harapan. Ini tidak bisa diselesaikan dengan tuntas oleh manusia berdosa.

Hikmat Allah, Tuhan Yesus Kristus

Kebijaksanaan konvensional, sebagaimana tercermin dalam sebagian besar kitab Amsal, menyatakan bahwa mengejar hikmat menjamin kebahagiaan dan kemakmuran (Amsal 2:10; 3:13-18), dan mereka yang menyerah pada kebodohan hanya akan menemukan susah hati bahkan merusak diri sendiri (Amsal 5:9-14; Pengkhotbah 7:17). Paulus mengubah ratapan Pengkhotbah menjadi dasar pujian ketika ia menyatakan bahwa kebodohan Allah sebagai “lebih besar hikmatnya dari pada hikmat manusia” (1 Kor. 1:18-25). Firman Tuhan menyatakan bahwa hikmat Allah itu pribadi yaitu Tuhan Yesus Kristus sebagai “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Korintus 1:22-24).

Senin, 10 Februari 2025

Mengejar Hikmat


Kita dapat menemukan banyak buku mengenai kemampuan berpikir manusia yang luar biasa dan peran pentingnya dalam kehidupan manusia. Misalnya buku "Thinking, Fast and Slow" yang ditulis oleh Daniel Kahneman pemenang Nobel Memorial Prize in Economic Sciences (2002). Dalam buku itu dinyatakan terdapat dua sistem berpikir di mana sangat berperan dalam memutuskan sesuatu dan kemudian sangat berdampak dalam kehidupan sehari-hari. Hikmat memang sangat perlu dan sangat membantu kita menjalani dan memaknai kehidupan ini. Namun, apakah hikmat itu cukup?

Pengkhotbah 1:12-18 masih terkait dengan persoalan Pengkhotbah 1:3. Menyelidiki dunia dan mengejar hikmat merupakan dua hal yang termasuk jerih payah manusia di bawah matahari. Hikmat Salomo adalah sebuah pemberian dari Tuhan yang memberinya kekayaan dan kehormatan, yang menghasilkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyatnya, dan yang menarik kekaguman dan kunjungan dari orang-orang di seluruh dunia kuno (1 Raja-raja 3:12-13, 16-28; 4:21-34; 9:10-10:29). Kebijaksanaan adalah dasar dari kehidupan salah satu raja Israel yang paling sukses dan efektif. Amsal 25:2, kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu. Namun kesaksian orang pertama “Salomo” memberitahu kita kisah yang berbeda dari yang mungkin kita harapkan berdasarkan kisah hidupnya. Dunia adalah ruang kelas raja, laboratoriumnya. Penyelidikan raja meliputi tiga bidang: dunia (Pengkhotbah 1:12-15), hikmat (Pengkhotbah 1:16-18; 2:12-23), dan kesenangan/kenikmatan (Pengkhotbah 2:1-11, 24-26).

Menurut Alkitab, Istilah ḥokmâ (hikmat) mempunyai makna yang luas dan dalam. Ini bisa merujuk pada keterampilan teknis dari mereka yang membuat pakaian untuk imamat (Keluaran 28:3) dan yang membangun tabernakel (Keluaran 31:3, 6). Ini mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian (1 Raja-raja 3:28; Yessaya 11:1–6) dan untuk memimpin orang (Ulangan 34:9). Menurut Bruce Waltke (Waltke 2004: 76–77), hikmat dapat diringkas sebagai kemampuan untuk memahami bagaimana kehidupan berjalan untuk merespons dengan tepat. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengembangkan keterampilan dalam menjalani kehidupan yang bijaksana dengan mampu menavigasi kehidupan untuk mencapai kesuksesan. Memahami karakter berbagai jenis orang diperlukan untuk mengetahui bagaimana menanggapi mereka. Kebijaksanaan juga mencakup pemahaman tentang cara kerja dunia yang Tuhan ciptakan karena Tuhan mencipta dengan hikmat-Nya dan itu nyata dalam ciptaan-Nya (Amsal 3:19). Tindakan atau sikap tertentu dapat menyebabkan hasil tertentu. Hasil ini tidak amoral tetapi mencerminkan keadilan Tuhan karena tatanan ilahi dunia berasal dari karakter Yahweh yang benar. Semakin baik seseorang memahami cara dunia bekerja, semakin baik keputusan yang dapat diambil seseorang dalam mencari jalan kebijaksanaan.

Dalam Pengkhotbah 1:13, Pengkhotbah membulatkan hati menyelidiki dunia dengan hikmat namun menyimpulkan hal itu merupakan aktivitas sia-sia (pointless activity). Hal ini seolah-olah merupakan kesusahan yang diberikan Tuhan Allah kepada manusia. Jika dibandingkan dengan Pengkhotbah 2:24–26; 3:12–13, maka Pengkhotbah tidak berpandangan bahwa Tuhan Allah yang memberikan kesusahan pada manusia. Pemberian Allah yang baik dapat menjadi beban karena terkait dengan tanggung jawab manusia yang telah berdosa (mis. anak, harta, nama baik, hikmat, dll bdk. Kejadian 3:16-19; Roma 1:18-32).

Pengkhotbah 1:1–11 menyatakan masalah manusia yang mendasar terletak pada ketidakselarasan antara ekspektasi dan realitas. Ayat 14 menyatakan usaha manusia pada dasarnya merupakan penolakan terhadap realitas akan dosa. Usaha ini disebut sebagai menjaring angin. Ayat 17, pengkhotbah membulatkan hati untuk memahami hikmat itu sendiri. Mungkin upaya menyaring apa yang diketahui dan memisahkan kebijaksanaan dari “kegilaan dan kebodohan” adalah jalan penting bagi masa depan manusia. “Kegilaan” mengandung konotasi arogan melawan Tuhan daripada memuji Tuhan; “kebodohan” adalah antitesis dari kebijaksanaan (Pengkhotbah 2:3, 13; 10:1). Mungkin melalui upaya intelektual untuk membedakan hal-hal ini dengan lebih akurat—untuk mempertajam pemahaman seseorang tentang dunia—dan dengan demikian dapat melepaskan diri dari jebakan yang dibuat oleh kehidupan untuk orang biasa.

Namun, hikmat manusia terbatas. Dalam Pengkhotbah 1:15-18 menyatakan ada hal-hal yang membuat hikmat manusia itu terbatas. Ada hal-hal yang tidak sanggup diselesaikan oleh hikmat manusia. Terdapat sesuatu yang telah Tuhan buat “bengkok” tidak dapat diluruskan dengan usaha manusia yang fana. Demikian pula ketika kita mencoba menghitung untung-rugi dari usaha kita, seolah kita dapat memperhitungkan dengan tepat. Namun, ada hal-hal di luar perhitungan kita. Sehingga bisa saja kita hitung untung, berakhir kerugian. Sekalipun hikmat itu lebih baik dari pada kebodohan, hikmat manusia terbatas dan sangat dapat salah. Hikmat dapat menghilangkan ilusi dalam kehidupan namun tidak secara total melepaskan atau menyelesaikan persoalan hidup manusia berdosa.

Selasa, 04 Februari 2025

Ekspektasi dan Realita


Fakta hidup yang seringkali membawa kita pada kesedihan yaitu ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Ini pula yang dinyatakan dalam Pengkhotbah 1:8-11. Inilah arti dari kesia-siaan eksistensi manusia. Hal ini dapat diamati melalui 3 aktivitas manusia sehari-hari yang “tidak mencapai hasil akhir”: berkata, melihat, mendengar. Perkataan manusia tidak pernah mencapai tujuannya. Ini berarti ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan sulit untuk diselesaikan atau digambarkan dengan kata-kata (the incapacity of language to communicate perception and experience). Melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga tidak pernah mencapai hasil akhir. Ini artinya mata dan telinga tidak pernah puas seperti laut yang tidak pernah penuh.

Selanjutnya, pengkhotbah mengamati sejarah manusia di mana terus berulang tanpa ada sesuatu yang baru. Sejarah tidak berjalan maju dan setiap individu menjalani kehidupan yang tidak pernah mencapai harapan atau rencananya. Jika sesuatu dianggap sebagai penemuan (inovasi), itu hanya karena kita lupa akan masa lalu. Apa yang kita lakukan hari ini terlihat baru namun hal itu tidak sungguh baru dan tidak akan diingat di masa depan. Masa sekarang hilang ditelan masa lalu dan masa depan. Misalnya pandemi muncul setiap periode tertentu, perang terus berlanjut, teknologi sekarang hanya pengembangan dari teknologi masa lalu dan bahkan ada yang pengulangan semata. Sejarah manusia “di bawah matahari” direduksi menjadi rutinitas yang melelahkan. Tidak ada keselamatan dari dunia berdosa.

Bagaimana cara pandang “dunia di atas matahari”?

Sejarah dikendalikan dan digerakkan oleh Tuhan Allah untuk mencapai tujuan-Nya. Mazmur 96:1 menyatakan kemungkinan sesuatu yang baru muncul berupa nyanyian baru bagi TUHAN. Yeremia 31:31 menyatakan kemungkinan adanya perjanjian baru. Secara eskatologis, Yessaya 65:17 menyatakan tentang langit dan bumi yang baru.