Senin, 25 Desember 2017

Hadiah Teragung


Yoh. 3:16-17
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (lihat juga Yoh. 3:16-17; Yoh. 1:10-13; Roma 8:32)

Hadiah merupakan sesuatu yang sangat dikenal dalam budaya manusia. Acts of giving and receiving pada umumnya wujud kebaikan dan kemurahan hati. Tindakan ini biasanya dilakukan pada peristiwa khusus seperti ulang tahun dan tak terkecuali natal. Dan menarik, Allah menyatakan diri-Nya secara sempurna kepada dunia melalui “kategori hadiah”. Allah datang ke dunia bukan karena manusia meratap dan berseru memohon pertolongan-Nya. Allah datang ke dunia bukan karena para gembala, orang majus, para ahli taurat, dan orang yahudi berdoa dan berpuasa sungguh-sungguh. Allah datang ke dunia bukan karena Yusuf dan Maria adalah orang-orang yang paling suci sepanjang sejarah manusia. Allah datang ke dunia karena Ia rela memberi diri-Nya bagi dunia sebagai hadiah yang tak tergantikan (bernilai) dan tak terduga.

Mengapa Ia rela? Karena Ia memiliki kasih yang besar terhadap dunia. Mengapa ia mengasihi dunia? Dunia itu berdosa, kotor, hina dan sementara bukan sesuatu yang layak untuk dikasihi tapi seharusnya diciptakan kembali. Ia mengasihi dunia karena Ia adalah Allah yang penuh kasih. Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8,16). Kasih Allah adalah kasih yang “self-less, costly love of redemption”. Kasih yang seperti ini tidak dikenali dan dialami oleh manusia karena kasih Allah berbeda dengan kasih manusia. Kasih manusia (dunia) itu egois, berpusat kepada diri entah dengan jalan merendahkan diri atau meninggikan diri. Kasih manusia yang egois itu penuh dengan manipulasi untuk memanfaatkan dan memberdayakan sesamanya untuk kepentingan, kesenangan, keuntungan dan bahkan kebahagiaan diri. Sedangkan kasih Allah adalah kasih yang berkorban (extra-ordinary sacrifice). Pengorbanan-Nya bukan dimulai ketika mati di salib, pengorbanan-Nya dimulai ketika ia lahir di dunia berdosa dan hina ini. Dan ketika Yohanes menyampaikan tentang “Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal  ke dalam dunia” itu juga berarti “Allah mengutus anak-Nya untuk mati di kayu salib”. Kehidupan Kristus adalah jejak-jejak pengorbanan dari palungan sampai kayu salib.

Dengan demikian, Hadiah yang teragung dari Allah adalah Diri-Nya sendiri. Pemberian ini terlalu besar dan tak ternilai sehingga tak mampu untuk dibalas oleh manusia yang berdosa, hina dan terbatas. Pemberian ini haruslah pemberian yang tak bersyarat karena manusia tak sanggup untuk memenuhi syarat-syarat untuk mendapatkan-Nya melainkan hanya karena anugerah yang diterima dengan iman. Karena itulah act of giving dari Allah ini berbeda dengan act of giving dari manusia. Manusia masa kini cenderung menganggap hadiah sebagai hutang. Hadiah merupakan pertukaran komoditas yang mana aspek kebaikan dan kemurahan hati tidak lagi penting. Hadiah yang penting memenuhi syarat-syarat tertentu yang secara khusus berlaku dalam masyarakat. Kehadiran Kristus bukan hanya hadir sebagai hadiah melainkan sebagai hadiah yang mentransformasi prinsip-prinsip masyarakat dalam dunia berdosa. Kelahiran-Nya sudah bersifat transformatif. Kelahiran-Nya menjadikan kota yang kecil Betlehem menjadi kota yang bernilai kekal. Kelahiran-Nya menjadikan para gembala yang adalah kaum pinggiran menjadi kelompok yang mendapat kesempatan paling berharga dalam sejarah manusia. Kelahiran-Nya menjadikan Yusuf dan Maria, pasangan yang rendah namun ditinggikan. Kelahiran-Nya mentransformasi dunia dengan memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yakobus 2:5 bdk 1 Korintus 1:27-31).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar