Yoh. 3:16-17
Karena begitu besar kasih
Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh
hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia
bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (lihat
juga Yoh. 3:16-17; Yoh. 1:10-13; Roma
8:32)
Hadiah merupakan sesuatu yang sangat dikenal
dalam budaya manusia. Acts of giving and
receiving pada umumnya wujud kebaikan dan kemurahan hati. Tindakan ini
biasanya dilakukan pada peristiwa khusus seperti ulang tahun dan tak terkecuali
natal. Dan menarik, Allah menyatakan diri-Nya secara sempurna kepada dunia
melalui “kategori hadiah”. Allah datang ke dunia bukan karena manusia meratap
dan berseru memohon pertolongan-Nya. Allah datang ke dunia bukan karena para
gembala, orang majus, para ahli taurat, dan orang yahudi berdoa dan berpuasa
sungguh-sungguh. Allah datang ke dunia bukan karena Yusuf dan Maria adalah
orang-orang yang paling suci sepanjang sejarah manusia. Allah datang ke dunia
karena Ia rela memberi diri-Nya bagi dunia sebagai hadiah yang tak tergantikan
(bernilai) dan tak terduga.
Mengapa Ia rela? Karena Ia memiliki kasih yang
besar terhadap dunia. Mengapa ia mengasihi dunia? Dunia itu berdosa, kotor,
hina dan sementara bukan sesuatu yang layak untuk dikasihi tapi seharusnya
diciptakan kembali. Ia mengasihi dunia karena Ia adalah Allah yang penuh kasih.
Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8,16).
Kasih Allah adalah kasih yang “self-less,
costly love of redemption”. Kasih yang seperti ini tidak dikenali dan
dialami oleh manusia karena kasih Allah berbeda dengan kasih manusia. Kasih
manusia (dunia) itu egois, berpusat kepada diri entah dengan jalan merendahkan
diri atau meninggikan diri. Kasih manusia yang egois itu penuh dengan
manipulasi untuk memanfaatkan dan memberdayakan sesamanya untuk kepentingan,
kesenangan, keuntungan dan bahkan kebahagiaan diri. Sedangkan kasih Allah
adalah kasih yang berkorban (extra-ordinary
sacrifice). Pengorbanan-Nya bukan dimulai ketika mati di salib,
pengorbanan-Nya dimulai ketika ia lahir di dunia berdosa dan hina ini. Dan
ketika Yohanes menyampaikan tentang “Allah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal ke dalam dunia” itu juga berarti
“Allah mengutus anak-Nya untuk mati di kayu salib”. Kehidupan Kristus adalah
jejak-jejak pengorbanan dari palungan sampai kayu salib.
Dengan demikian, Hadiah yang teragung dari
Allah adalah Diri-Nya sendiri. Pemberian ini terlalu besar dan tak ternilai
sehingga tak mampu untuk dibalas oleh manusia yang berdosa, hina dan terbatas.
Pemberian ini haruslah pemberian yang tak bersyarat karena manusia tak
sanggup untuk memenuhi syarat-syarat untuk mendapatkan-Nya melainkan hanya
karena anugerah yang diterima dengan iman. Karena itulah act of giving dari Allah ini
berbeda dengan act of giving dari
manusia. Manusia masa kini cenderung menganggap hadiah sebagai hutang. Hadiah
merupakan pertukaran komoditas yang mana aspek kebaikan dan kemurahan hati
tidak lagi penting. Hadiah yang penting memenuhi syarat-syarat tertentu yang
secara khusus berlaku dalam masyarakat. Kehadiran Kristus bukan hanya hadir
sebagai hadiah melainkan sebagai hadiah yang mentransformasi prinsip-prinsip
masyarakat dalam dunia berdosa. Kelahiran-Nya sudah bersifat transformatif. Kelahiran-Nya menjadikan
kota yang kecil Betlehem menjadi kota yang bernilai kekal. Kelahiran-Nya
menjadikan para gembala yang adalah kaum pinggiran menjadi kelompok yang
mendapat kesempatan paling berharga dalam sejarah manusia. Kelahiran-Nya
menjadikan Yusuf dan Maria, pasangan yang rendah namun ditinggikan.
Kelahiran-Nya mentransformasi dunia dengan memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini
untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah
dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (Yakobus 2:5 bdk 1 Korintus 1:27-31).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar