Senin, 12 Juni 2017

Allah Yang Mudah Terluka

Yeremia 8:18—9:22

Meskipun kerajaan Asyur mendominasi Ancient Near East selama 2 abad, kejatuhannya begitu cepat. Setelah kematian Ashurbanipal (c. 631 SM), raja besar terakhir Asyur, kerajaan Asyur menjadi tidak berkembang dan terpecah dalam jangka waktu 20 tahun. Bangsa yang bebas dari cengkraman Asyur kembali bangkit seperti Babilonia dan Mesir. Nabopolassar dan kemudian anaknya Nebukadnezar mengambil kekuasaan wilayah sungai Tigris dan Euphrates. Di Mesir, Psammetichus dan penerusnya Neko menekan bagian utara Israel dan Syria. Nebukadnezar memperoleh kemenangan besar ketika berperang di Syria utara (605). Sejak itulah Babilonia berkuasa sampai direbut oleh kerajaan Persia yang dipimpin oleh Koresh pada 539 SM.

Di Yehuda, Yosia (640–609 BC) menjadi raja ketika berumur 8 tahun. Ketika berumur 12 tahun, ia mereformasi Israel. Taurat ditemukan kembali di bait Allah ketika ia berumur 18 tahun. Ketika Asyur mengalami kejatuhan, Israel bebas dari cengkraman Asyur. Yosia kembali memperkuat dan menyatukan kerajaan Israel. Yosia mati di dalam peperangan ketika berhadapan dengan Mesir yang dipimpin oleh Neko di Megido. Kemudian Yehoahaz menjadi raja tapi Neko memerintahkan untuk menggantinya dengan kakaknya yaitu Eliakim yang dikenal dengan Yehoakim (609–598 SM).

Yehoakim mencoba mengokohkan kuasanya dalam politik sampai menolak membayar upeti ke Babilonia supaya tidak diserang oleh Babilonia. Ia meninggal sebelum serangan terjadi. Anaknya, Yehoakin menggantikannya yang mana kemudian Yerusalem dikuasai oleh Babilonia dan ia mengalami pembuangan. Nebukadnezar memerintahkan Matania, anak Yosia, menggantikannya. Ia dikenal dengan nama Zedekia (598–586 BC). Pada tahun 588 SM, Babilonia meyerang Yerusalem dan dalam waktu satu setengah tahun bait Allah dan kota Yerusalem hancur. Yehuda kemudian menjadi salah satu provinsi dari Babilonia dan dipimpin oleh gubernur Gedalia yang ditunjuk oleh Nebukadnezar.

Yeremia menjadi saksi mata dalam masa-masa yang demikian. Kitab Yeremia juga berisikan nasionalisme, paranoia dan dilemma antara pro-Babylonian and pro-Egyptian groups, pergumulan antara the “hawks” dan the “doves” di Yehuda. Dalam keadaan demikian, Yeremia menyampaikan firman Allah, seruan pertama adalah pertobatan supaya Allah kembali menyertai Israel, kemudian jaminan pemulihan di masa akan datang ketika penghakiman Allah tiba.

Siapa Allah dalam kitab Yeremia 8-9?
Yeremia tidak memperkenal “konsep baru” tentang Allah. Dia memberitakan tentang Allah seperti para nabi lain. Namun ada pengenalan Allah yang penting yang dapat kita renungkan bersama dalam bagian ini. Dalam bagian ini kita diperkenalkan kepada Allah yang sabar, compassionate, merciful, and longsuffering (3:12; 13:14; 15:15). Semua itu dapat diringkas dalam istilah yang mungkin sulit untuk dipahami agama pada umumnya yaitu Allah yang vulnerable (mudah terluka).

Brueggemann (1988: 88) mengamati tentang struktur “divine pathos” dalam Yer. 8:18—23. Banyak dari para penafsir yang menghindari penafsiran bahwa yang meratap adalah YHWH karena tearful metaphor bertentangan dengan Allah yang Maha Kuasa (the powerful, wrathful warrior deity). Karena ratapan menggambarkan Allah yang vulnerable. Dalam sejarah gereja secara dominan doktrin Allah berfokus pada power (kuasa): God is all-powerful, omnipotent, charge of everything, king, father, the Lord, dominate all things. Bahkan masalah tentang Allah juga berfokus pada power: if God is all-powerful, why is there evil? Freedom? Namun ternyata Injil juga menyatakan tentang hal lain yang tidak kalah penting bahkan utama: Allah itu kasih (1 Yoh. 4:8). Baik dalam Yeremia 8-9 maupun kitab Injil juga menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang mengasihi umat-Nya sampai Dia rela untuk berkorban di kayu salib. Leonard Boff menyatakan bahwa injil itu mengajarkan tentang Allah yang “weak in power but strong in love”, Allah yang rela menjadi vulnerable to pain in the freedom of love.

“To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.” ― C.S. Lewis, The Four Loves

Jika Tuhan jadi manusia, Dia adalah Yesus Kristus, anak tukang kayu yang mati di kayu salib.  Ia adalah Allah yang vulnerable. Apakah ini merendahkan Allah? Tidak sama sekali. Justru karena Ia adalah Allah yang memahami dan bahkan mengalami penderitaan maka penyembuhan itu mungkin di dalam Dia. Sebagaimana dinyatakan oleh Charles Spurgeon, “a Jesus who never wept could never wipe away my tears”.

Ibrani 5:7-10  Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar