Wahyu Khusus
“ilmu pengetahuan (wahyu umum) tanpa agama (wahyu khusus) itu pincang”
Wahyu umum tanpa wahyu khusus akan menghasilkan suatu “iman” yang tidak mempunyai dasar yang kuat dan jelas. Contohnya para atheist walaupun mungkin mereka tidak mengakui hal ini. Ketika kita mempelajari ilmu pengetahuan maka salah satu metode yang digunakan keraguan. Dari waktu ke waktu ada banyak ilmuwan menyadari bahwa ternyata ilmu pengetahuan manusia terbatas dan manusia tidak bisa mengetahui segala hal dengan penuh kepastian. Pengetahuan manusia hanya sampai pada kemungkinan (probabilitas). Usaha ilmuwan adalah menemukan kemungkinan yang paling mendekati kepastian dengan argumen yang paling meyakinkan, misalnya 99,9 % tepat dan argumen meyakinkan tidak pernah sampai pada 100 %.
Fenomenoogi, yang dipelopori oleh Husserl, merupakan salah satu filsafat ilmu yang bertujuan memperoleh pengetahuan yang rigorous (setepat-tepatnya) dengan reduksi eidetik dan kembali kepada benda itu sendiri (to the things itself - zu den Sachen selbst). Fenomenologi berusaha mengangkat dan menyelidiki sedalam-dalamnya fenomena dalam arti seluas-luasnya. Fenomena yang dimaksudkan adalah obyek apa pun yang menampakkan diri dalam kesadaran manusia. Kesadaran manusia merupakan suatu intensionalitas, “kesadaran akan sesuatu”. Kesadaran yang intensional ini mengandaikan “aku” (ego). Kesadaran terarah kepada obyek eksternal karena ada “aku” (subyek). Obyek dari kesadaran ini termasuk yang bersifat fisik (meja, kursi, dan lainnya) maupun mental (imaji atau ingatan). Fenomenologi mempunyai tujuan agar obyek kesadaran dapat menampakkan diri sebagaimana adanya. Obyek yang diselidiki akan memberikan makna yang terkait dengan subyek yang menyelidikinya. Namun, Husserl masih terperangkap dalam egologi. Ia terperangkap dalam kerangka subyek-obyek. Obyek hanya ada sebagai obyek dari suatu subyek yang menangkapnya dan subyek adalah subyek yang terarah kepada obyek.
Ironisnya fenomenologi kemudian hari berputar arah menuju teologi. Salah satu tokoh yang mempelopori hal ini adalah Jean Luc Marion. Nuansa teologi yang begitu kental dalam filsafatnya membuat banyak orang mempertanyakan bagaimana dengan posisi fenomenologi dalam zaman sekarang ini. Seolah menyatakan bahwa pengetahuan memang tak bisa dilepaskan dari “agama”. Seolah menyatakan bahwa pada hakikatnya pengetahuan tanpa agama itu pincang. Pengetahuan mau tidak mau, suka tidak suka memerlukan agama untuk dapat berdiri tegap.
Disinilah supremasi Kristus mengatasi segalanya bahwa,
Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (Kolose 1:15-20)
Ditengah dunia yang penuh kenisbian, hanya Kristus yang niscaya benar karena Ia pada diriNya Subyek kebenaran (SANG BENAR). Sebagaimana Ia sendiri berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Sampai penggenapannya nanti tiba dan tidak ada seorang pun yang dapat menyangkal Sang Wahyu Khusus Allah, semua orang akan “bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:10-11).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar