Rabu, 06 April 2016

Batman v Superman

Dua ikon superhero komik yang sangat saya ikuti dan kagumi sejak kecil. Saya pikir mereka menggambarkan kompleksitas menjadi superhero. Mulai dari motivasi yang berbeda: superman karena “takdir” dan batman karena “pilihan”. Seperti perbandingan antara determinisme dan freedom yang tidak pernah selesai. Superman menjadi hero bagi bumi karena memang demikian “permintaan” dari orang tuanya. Harapan orang tuanya agar superman dapat menjadikan bumi lebih baik daripada krypton yang hancur karena kerusakan dari dalam (eksploitasi habis-habisan bagi dunia sendiri). Walaupun ia tidak berasal dari bumi (tapi dari krypton), ia menanggung “beban” untuk memperbaiki bumi. Ia ingin agar harapan dari orang tuanya tercapai. Berbeda dengan batman, motivasinya menjadi hero memang ingin menjadikan dunia lebih baik. Tapi tidak seperti sudut pandang superman. Ia memilih menjadikan dunia lebih baik karena kejahatan dunia merenggut nyawa kedua orang tuanya. Jadi motivasinya bersifat pengalaman pribadi atau lebih tepatnya kepahitan hidup yang terjadi padanya tidak ingin terjadi pada orang lain. Ini pilihannya, bukan karena pilihan orang tuanya. Secara tidak langsung, batman menjadi superhero karena kejahatan. Sedangkan superman menjadi superhero karena percaya kebaikan manusia.

Saya tidak terlalu mengerti apakah 100 % para penulis kedua tokoh ikon superhero ini bermaksudkan seperti saya gambarkan di atas. Tapi saya percaya ada paradigm tertentu dari para penulis sehingga menciptakan tokoh demikian. Dan sedikit banyak dua tokoh ikon superhero ini saya pikir cukup berpengaruh pada saya. Bahkan dalam hal dualistic life yang dijalani dua tokoh tersebut: Clark Kent dan Bruce Wayne. Clark (alter ego) digambarkan “polos”. Sedangkan Bruce digambarkan seolah tak peduli dengan moralitas. Perbedaan keduanya juga digambarkan dari “sumber” kekuatannya: Superman dengan matahari (siang hari), Batman dengan malam hari.

Saya pikir kenapa kedua tokoh ikon superhero ini begitu banyak disukai karena mereka mewakili manusia tentang dirinya dan harapannya. Manusia seolah melihat diri mereka dalam tokoh ini yang menyadari bahwa dunia perlu penyelamat karena kejahatan begitu merajalela. Namun penyelamat itu bukanlah manusia biasa. Penyelamat itu mestilah “yang lain” entah itu seperti Superman atau pun Batman. Penyelamat itu harus memikirkan kepentingan dan keselamatan dunia (termasuk orang lain) lebih besar dari dirinya. Dengan kata lain, penyelamat itu mestinya tidak berpusat pada diri, minimal seorang altruist. Penyelamat itu mesti memiliki visi dan cita-cita yang luhur tidak peduli dengan cara yang dijalaninya: membuat dunia lebih baik dan meminimalisir kejahatan. Entah seperti superman yang mendapat kekuatan dari terang atau pun batman yang menggunakan kegelapan sebagai kekuatan.

Kesadaran akan “penyelamat” digambarkan para penulis tokoh ikon superhero. Walaupun mereka tidak terlalu menelusuri lebih jauh tentang konsep penyelamat ini. Tapi saya percaya kesadaran ini memang tertanam di setiap kita. Kita semua butuh penyelamat. Satu-satunya sumber terpercaya mengenai penyelamat yang dibutuhkan manusia yaitu alkitab. Alkitab mencatat mengenai Juruselamat yang begitu agung, bukan khayalan seperti superman dan batman. Seorang Juruselamat yang lebih agung daripada apa yang pernah dipikirkan dan diharapkan manusia yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ia menjalani hidupNya dengan integritas penuh berdasarkan firmanNya. Ia menyelamatkan manusia sampai mati disalib. Dan menyatakan kuasaNya dalam kebangkitanNya bahwa maut sudah dikalahkan. Di dalam Kristus, manusia mempunyai harapan sejati. Dan suatu kali nanti, Ia akan datang untuk mengambil kembali dan menyempurnakan dunia ciptaan. Ia datang kembali sebagai Hakim dan Raja. Saat itulah, semua lidah mengaku dan lutut bertelut menyembah Dia, Anak Domba Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar