Dua ikon superhero komik yang sangat saya
ikuti dan kagumi sejak kecil. Saya pikir mereka menggambarkan kompleksitas
menjadi superhero. Mulai dari motivasi yang berbeda: superman karena “takdir”
dan batman karena “pilihan”. Seperti perbandingan antara determinisme dan
freedom yang tidak pernah selesai. Superman menjadi hero bagi bumi karena
memang demikian “permintaan” dari orang tuanya. Harapan orang tuanya agar
superman dapat menjadikan bumi lebih baik daripada krypton yang hancur karena
kerusakan dari dalam (eksploitasi habis-habisan bagi dunia sendiri). Walaupun
ia tidak berasal dari bumi (tapi dari krypton), ia menanggung “beban” untuk
memperbaiki bumi. Ia ingin agar harapan dari orang tuanya tercapai. Berbeda dengan
batman, motivasinya menjadi hero memang ingin menjadikan dunia lebih baik. Tapi
tidak seperti sudut pandang superman. Ia memilih menjadikan dunia lebih baik
karena kejahatan dunia merenggut nyawa kedua orang tuanya. Jadi motivasinya
bersifat pengalaman pribadi atau lebih tepatnya kepahitan hidup yang terjadi
padanya tidak ingin terjadi pada orang lain. Ini pilihannya, bukan karena
pilihan orang tuanya. Secara tidak langsung, batman menjadi superhero karena
kejahatan. Sedangkan superman menjadi superhero karena percaya kebaikan
manusia.
Saya tidak terlalu mengerti apakah 100 % para
penulis kedua tokoh ikon superhero ini bermaksudkan seperti saya gambarkan di
atas. Tapi saya percaya ada paradigm tertentu dari para penulis sehingga
menciptakan tokoh demikian. Dan sedikit banyak dua tokoh ikon superhero ini
saya pikir cukup berpengaruh pada saya. Bahkan dalam hal dualistic life yang dijalani dua tokoh tersebut: Clark Kent dan Bruce
Wayne. Clark (alter ego) digambarkan “polos”.
Sedangkan Bruce digambarkan seolah tak peduli dengan moralitas. Perbedaan
keduanya juga digambarkan dari “sumber” kekuatannya: Superman dengan matahari
(siang hari), Batman dengan malam hari.
Saya pikir kenapa kedua tokoh ikon superhero
ini begitu banyak disukai karena mereka mewakili manusia tentang dirinya dan
harapannya. Manusia seolah melihat diri mereka dalam tokoh ini yang menyadari
bahwa dunia perlu penyelamat karena kejahatan begitu merajalela. Namun penyelamat
itu bukanlah manusia biasa. Penyelamat itu mestilah “yang lain” entah itu seperti Superman atau pun Batman. Penyelamat itu
harus memikirkan kepentingan dan keselamatan dunia (termasuk orang lain) lebih
besar dari dirinya. Dengan kata lain, penyelamat itu mestinya tidak berpusat
pada diri, minimal seorang altruist. Penyelamat itu mesti memiliki visi dan
cita-cita yang luhur tidak peduli dengan cara yang dijalaninya: membuat dunia
lebih baik dan meminimalisir kejahatan. Entah seperti superman yang mendapat
kekuatan dari terang atau pun batman yang menggunakan kegelapan sebagai
kekuatan.
Kesadaran
akan “penyelamat” digambarkan para penulis tokoh ikon superhero. Walaupun mereka
tidak terlalu menelusuri lebih jauh tentang konsep penyelamat ini. Tapi saya
percaya kesadaran ini memang tertanam di setiap kita. Kita semua butuh
penyelamat. Satu-satunya sumber terpercaya mengenai penyelamat yang dibutuhkan
manusia yaitu alkitab. Alkitab mencatat mengenai Juruselamat yang begitu agung,
bukan khayalan seperti superman dan batman. Seorang Juruselamat yang lebih
agung daripada apa yang pernah dipikirkan dan diharapkan manusia yaitu Tuhan
Yesus Kristus. Ia menjalani hidupNya dengan integritas penuh berdasarkan
firmanNya. Ia menyelamatkan manusia sampai mati disalib. Dan menyatakan
kuasaNya dalam kebangkitanNya bahwa maut sudah dikalahkan. Di dalam Kristus,
manusia mempunyai harapan sejati. Dan suatu kali nanti, Ia akan datang untuk mengambil
kembali dan menyempurnakan dunia ciptaan. Ia datang kembali sebagai Hakim dan
Raja. Saat itulah, semua lidah mengaku dan lutut bertelut menyembah Dia, Anak
Domba Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar