2 Samuel 6:1-23
Secara garis besar bagian ini merupakan peristiwa
ketika Daud mau membawa tabut Allah ke
Yerusalem. Kenapa? Yerusalem akan dijadikan pusat pemerintahan maka kalau tabut
Allah di sana menyatakan bahwa pemerintahan Israel adalah pemerintahan dari
Allah. Ini merupakan hal yang positif sekali yang sebenarnya tidak terlalu
diperhatikan oleh Saul. Melalui bagian ini, saya merenungkan bagaimana
prinsip-prinsip dalam peristiwa ini menjadi prinsip-prinsip pelayanan dalam
kehidupan Kristen. Bagaimana seharusnya orang percaya melayani? Apa artinya
melayani Tuhan?
1. Hati yang suci dengan cara yang tepat (ayat
1-10)
Jelas dari pembacaan alkitab bahwa motivasi Daud
memindahkan merupakan suatu motivasi yang suci. Demikian juga motivasi Uza
ketika mengulurkan tangannya kepada tabut Allah. Dalam pelayanan sangat penting
memiliki motivasi yang murni. Dan kita harus melayani Tuhan dengan hati sungguh-sungguh
untuk kemuliaan Tuhan. Ada pengkotbah yang berkotbah dengan baik dan doktrin
yang alkitabiah namun hati dan motivasinya salah, maka itu bukan pelayanan yang
sejati. Sama seperti ketika setan mengutip firman Tuhan namun dengan tujuan
mencobai Tuhan Yesus di padang gurun setelah berpuasa 40 hari lamanya (Matius 4:1-11). Maka hati yang suci
dan motivasi yang murni pastilah penting dalam melayani Tuhan.
Tapi bagian alkitab ini menyatakan bahwa hati
yang suci diikuti dengan cara yang tepat. Ini sepertinya
berbanding lurus. Orang yang sungguh memiliki hati mau melayani Tuhan pasti
juga mengekspresikan dengan cara yang tepat. Kenapa ada orang yang memiliki
hati yang suci namun cara salah? karena dosa, kita cenderung memikirkan
cara-cara yang
kita pikir itu benar. Salah satu pengertian dosa yaitu bertindak apa yang kita
(manusia) tepat namun ternyata tidak tepat bagi Allah. Natur berdosa manusia
membawa manusia lebih memikirkan apa yang terbaik dalam pandangan manusia. Coba
saja kembali kita pikirkan tentang awal kejatuhan manusia dalam dosa. Iblis
menggoda manusia untuk berpikir atau berasumsi sendiri sehingga tidak lagi
memikirkan apa yang dipikirkan Allah atau sesuai dengan kehendak Allah (Kej. 3:1-5). Hal ini kembali juga
menjadi kecaman keras Tuhan Yesus kepada Petrus: "Enyahlah
Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa
yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (Matius
16:23).
Demikian yang dilakukan oleh Daud dan
orang-orang dalam bagian ini. Tabut Allah diangkat dengan kereta (ayat
3). Kereta ini merupakan teknologi manusia yang dibuat agar pekerjaan manusia
lebih efektif. Sampai sekarang pun kita harus setuju bahwa teknologi membawa
hidup efektif. Yang dimaksud efektif di sini yaitu mengerjakan sesuatu dengan
hasil yang maksimal sesuai harapan dengan biaya, tenaga dan waktu yang seminimal
mungkin. Sampai sekarang teknologi dikembangkan dengan salah satu tujuannya
yaitu efektifitas. Namun akhirnya
kita menjadi terjebak dengan hal ini. Kita terjebak dengan alat yang ktia
ciptakan sendiri. Seolah menjadi gaya hidup satu-satunya. Kita jadi berpikir
bahwa hidup itu harusnya dengan teknologi. Keterikatan kita dengan konsep
efektifitas dan teknologi membuat kita melupakan prinsip firman Tuhan. Demikian
yang terjadi dalam bagian ini. Apa prinsip ketika mengangkat tabut Allah? Ini
dicatat dalam Bilangan 7:9, Tetapi kepada bani Kehat tidak diberikannya apa-apa, karena pekerjaan
mereka ialah mengurus barang-barang kudus, yang harus diangkat di atas bahunya (bdk. Bilangan 3:29-31). Tuhan ingin
tabut Allah dan segala barang-barang kudus diangkat di atas bahu. Pasti ini
tidak lebih efektif jika dibandingkan dengan kereta, tapi cara ini yang Tuhan
inginkan.
Apakah Tuhan tinggal diam
Daud melakukan dengan cara yang salah? Tidak. Tuhan menegur dengan menjatuhkan
tabut tersebut. Tapi ada yang salah mengerti hal ini yaitu Uza. Coba kita
renungkan bisakah tabut Allah yang begitu Mulia dan Maha Kuasa jatuh karena
batu kecil? Ada 2 kemungkinan: (1) Batu kecil ini lebih berkuasa daripada Tuhan
Allah, (2) karena memang Tuhan Allah yang membuatnya jatuh. Kemungkinan (1) itu
sangat tidak mungkin bahwa ciptaan menjatuhkan tahta Pencipta. Maka yang
mungkin adalah kemungkinan (2) bahwa Allah memang membuatnya jatuh. Kenapa?
Karena Tuhan Allah tidak berkenan. Dari sini kita belajar betapa hati yang suci
harus diikuti cara yang tepat sesuai kehendak Tuhan dalam melayani Dia.
2. Pentingnya penyertaan/kehadiran Tuhan (ayat
11-12)
Tabut Allah merupakan lambang atau simbol sakral
akan kehadiran Tuhan. Kita harus mengerti 2 hal mengenai kehadiran Tuhan: (1)
Kehadiran Tuhan dimana Ia berkenan hadir menjadi berkat bagi sekitarnya, (2)
Kehadiran Tuhan dimana ia tidak berkenan akan mendatangkan kutuk bagi
sekitarnya. Kita salah kalau berpikir bahwa kehadiran Tuhan itu
selalu diidentikan dengan berkat. Kita bisa lihat contoh yang nyata dari 1
Samuel 5:1-12. Saat itu tabut Allah direbut oleh bangsa Filistin. Apa yang
terjadi? Patung dewa dagon hancur dan wabah penyakit mereka alami. Termasuk
juga di tempat terakhir yaitu Gat (Ekron).
Dari sini kita ketahui bahwa waktu alkitab menyebutkan “Obed-edom, orang Gat” bukan asal sebut. Bisa dikatakan bahwa “Gat” ini bukan bagian dari umat Tuhan.
Mari kita telusuri di alkitab, siapa saja yang termasuk orang Gat?
Yosua 11:22 Tidak ada lagi orang Enak
ditinggalkan hidup di negeri orang Israel; hanya di Gaza, di Gat dan di Asdod
masih ada yang tertinggal.
Yosua 13:3 … ada lima raja kota orang Filistin,
yakni di Gaza, di Asdod, di Askelon, di Gat dan di Ekron
1 Samuel 17:23 Namanya Goliat, orang Filistin dari
Gat, dari barisan orang Filistin.
2 Samuel 15:19 Lalu bertanyalah raja (Daud) kepada
Itai, orang Gat itu: "Mengapa pula engkau berjalan beserta kami? Pulanglah
dan tinggallah bersama-sama raja, sebab engkau orang asing, lagipula engkau
orang buangan dari tempat asalmu.
Gat =
orang asing = buangan = bukan bagian umat Tuhan. Tapi yang
menarik ternyata Obed-edom, orang Gat itu mendapat berkat dari kehadiran tabut
Allah. Allah lebih berkenan untuk diletak di rumah Obed-edom (1 Tawarikh 13:13-14) daripada
dipindahkan dengan cara yang tidak sesuai dengan kehendakNya.
Yang ditekankan di sini yaitu perkenanan dan kehadiran
Tuhan yang harusnya nyata dalam setiap pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada
kita. Ingat bahwa (1) Kehadiran Tuhan dimana Ia berkenan hadir
menjadi berkat bagi sekitarnya, (2) Kehadiran Tuhan dimana ia tidak berkenan
akan mendatangkan kutuk bagi sekitarnya.
3. Melayani di hadapan Tuhan (13-22)
Bagian ini sering dipakai menjadi ayat andalan
tentang tarian dalam ibadah. Tapi kalau kita telusuri lagi, pesan utama bukan
tentang tariannya tapi tentang sikap hati di hadapan Tuhan. Yang
dikenal dengan istilah coram Deo. Ini
merupakan sikap hati yang harus bagi kita yang melayani Tuhan. Kita melayani
Tuhan bukan untuk popularitas kita. Kita melayani Tuhan untuk untuk perkenanan
manusia. Kita melayani Tuhan bukan di hadapan manusia. Kita melayani Tuhan di hadapan
Tuhan.
Menarik dalam cerita ini seolah apa yang dilakukan
Daud itu catat dalam 2 sudut pandang dari luar Daud yaitu hadapan Tuhan dan
Mikhal. Daud melakukan dengan sikap hati di hadapan Tuhan sehingga ia tidak
lagi memandang manusia. Hal ini jelas dicatat berkali-kali ayat 14, 16, 17 dan
21. Hal paling sederhana menangkap fokus pesan suatu tulisan yaitu pengulangan.
Kata atau frase atau kalimat yang sering diulang dalam suatu bagian yang sama
menandakan bahwa
hal tersebut penting untuk diperhatikan pembaca tulisan. Demikian juga di sini “di hadapan Tuhan” diulang berkali-kali.
Jadi fokusnya bukan tarian tapi sikap hati. Dan ini juga dilakukan dengan sadar
seperti diungkapkan Daud dalam ayat 21, "Di hadapan
TUHAN, yang telah memilih aku dengan menyisihkan ayahmu dan segenap keluarganya
untuk menunjuk aku menjadi raja atas umat TUHAN, yakni atas Israel, di hadapan
TUHAN aku menari-nari, …” Ini penting bahwa Daud melakukannya dengan
kesadaran penuh. Jadi jangan samakan ini seperti “transcend” atau “self-deception”.
Banyak peristiwa-peristiwa dalam ibadah yang mengidentikan “transcend” atau “self-deception”
merupakan sikap ibadah yang tepat.
Berapa banyak kita menyaksikan ibadah dimana
para jemaatnya “tidak terkendali”, tanpa kesadaran penuh. Dan sering
diidentikan itulah artinya kepenuhan roh kudus, kehilangan kesadaran diri.
Ketika ibadah selesai, mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Ini salah dan
tidak alkitabiah. Ini lebih pada pengertian “transcend”
mistis. Alkitab jelas menyatakan bahwa Daud dengan kesadaran penuh di hadapan
Tuhan.
Ada seorang pemuda cerita bahwa dalam suatu
ibadah semua temannya menangis histeris tapi dia sendiri tidak. Sang pengkotbah
mengetahui hal tersebut sehingga ia mengatakan “jangan keraskan hati, ingat
kerja keras orang tua, dan bagaimana kita sudah menyakiti atau mengecewakan
orang tua”. Dalam hal ini sang pengkotbah mencoba menimbulkan “self-deception” (penipuan diri).
Sehingga respon yang muncul bukan lagi “di hadapan Tuhan”.
Sikap hati di hadapan Tuhan memang bukan hal
yang mudah tapi bukan berarti tidak mungkin. Ini tidak mudah karena memang kita
selalu tergoda untuk lebih mementingkan pandangan manusia. Saya membayangkan
suatu adegan dimana Daud menari dan ia tidak lagi melihat manusia tapi menari
di hadapan Tuhan. Suatu hal yang begitu luar biasa dan agung sekali. Secara
pribadi, saya beberapa kali mengalami hal ini. Salah satu contoh paling jelas
yaitu ketika menjadi soloist baritone dalam suatu konser Kristen. Saat itu
merupakan pertama kali menjadi soloist. Dan terjadilah moment begitu unik saat
saya menyanyi di depan 1000an penonton. Saya menyanyi di hadapan Tuhan. Apakah
saya melihat Tuhan? Tidak secara langsung. Namun hati saya tertuju kepada
Tuhan. Saya sadar sepenuhnya bahwa pujian itu untuk Tuhan. Saya tidak lagi
memikirkan apa tanggapan orang entah pujian atau hinaan. Saya menyanyi serta
berdoa dalam hati seperti: “Tuhan terimalah pujian saya ini”. Moment dimana
saya merasa secara pribadi bernyanyi di hadapan Tuhan.
Biarlah kita terus merenungkan prinsip-prinsip
ini dalam melayani Tuhan. Bukan hanya ketika melayani Tuhan di gereja tapi juga
melayani Tuhan di keseharian kita. Dari hal-hal sederhana sampai yang kompleks.
Dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Kiranya Tuhan semakin dipermuliakan melalui
kita yang terbatas ini. Sehingga orang lain turut serta mempermuliakan Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar