Matius 5:3
- “Berbahagialah orang yang
miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Kemiskinan
seringkali diidentikan dengan hal materi. Orang yang miskin artinya orang yang
kekurangan secara materi. Orang miskin adalah orang yang sulit memenuhi
kebutuhan dasar (makanan dan bukan makanan). Yang menurut perhitungan di
Indonesia itu yang penghasilannya 200-300rb per bulan. Dan ini hal yang paling
kita sadari. Semua orang menghindari untuk menjadi miskin. Semua orang tidak
ingin hidup kekurangan.
Kita selalu ingin untuk berkecukupan dalam segala hal. Selain itu, kemiskinan
sering disejajarkan dengan kejahatan.
Semakin tinggi angka kemiskinan, semakin tinggi angka kejahatan. Kenapa
seseorang mencuri, merampok, menipu, menculik? Pasti karena dia kekurangan
uang.
Di dalam
alkitab sendiri tidak dikatakan bahwa orang kaya itu orang yang dekat Tuhan
atau orang miskin itu dekat dengan Tuhan. Alkitab mencatat bahwa ada pemuda
kaya yang datang kepada TUhan Yesus yang menyatakan bahwa dirinya sudah
melakukan hukum Taurat sejak kecilnya. Memang orang Yahudi diajarkan dari kecil
mulai membaca alkitab, mengerti arti alkitab dan berbagian dalam ritual-ritual
keagamaan. Tapi ketika pemuda kaya tersebut diperintahkan oleh Tuhan Yesus
untuk menjual segala miliknya agar memberikannya kepada orang miskin dan
mengikut TUhan Yesus. Ternyata ia tidak bisa, karena ia tidak mencintai Tuhan lebih
daripada harta kekayaannya. Alkitab juga mencatat orang kaya yang cinta Tuhan misalnya Abraham, Ishak dan Yakub.
Rela mengikut Tuhan walaupun sebenarnya kehidupan mereka sudah sangat nyaman
sekali di negeri tempat tinggal mereka.
Di sisi
yang lain, alkitab juga menceritakan bahwa ada orang miskin yang adalah pencuri
kemudian ikut Tuhan Yesus tapi tetap jadi pencuri yaitu Yudas. Namun ada juga janda miskin yang tidak mempunyai apa-apa lagi
namun mencintai TUhan. Ia mempersembahkan dua peser yaitu segala yang
dimilikinya untuk Tuhan (Mark.
12:42).
Seperti
apakah yang dimaksud dengan sikap hati yang miskin di hadapan Allah?
Lemah dan
Tidak Berdaya (Helplessness)
Orang yang
miskin adalah orang yang lemah dan tak berdaya. Orang yang sangat memerlukan
pertolongan orang lain di dalam hidupnya. Orang itu tidak dikatakan miskin
kalau tidak sampai pada titik ketidakberdayaan dimana ia membutuhkan
pertolongan orang lain.
Ada orang
kelihatan miskin, tapi sebenarnya tidak miskin. Ada berita di media (kompas)
menyampaikan bahwa ada 2 warga subang, jawa barat yang berumur 54 dan 60 tahun yang sering menjadi pengemis di Pancoran,
Jakarta Selatan. Mereka berpura-pura entah lumpuh atau paling tidak
berpenampilan yang membuat orang lain menjadi kasihan kepada mereka. Mereka
biasa mengemis pada malam hari. Dan baru 15 hari mengemis sudah mendapatkan
penghasilan 25 juta. Diketahui sesudah ada petugas memeriksa pengemis tersebut,
mereka terkejut karena menemukan uang berantakan di dalam satu kantong plastik
yang dibawa pengemis berisi 7 juta. Kemudian petugas memeriksa kantong-kantong
lainnya yang totalnya sekitar 25 juta. Ini bukan orang miskin. Kelihatannya
miskin tapi tidak. Orang miskin adalah orang yang sungguh-sungguh lemah dan tak
berdaya.
Dalam
Perjanjian Lama, orang miskin digambarkan sebagai orang yang tertindas dan sengsara (Mzm 34:7, 40:18). Dan selalu
dilanjutkan dengan suatu seruan petolongan kepada Tuhan. Agar Tuhan mengingat
dan menyelamatkannya. Menjadi
miskin berarti menjadi lemah dan tidak berdaya, tidak mempunyai hak, dan tidak
mempunyai kemampuan untuk membela dan menyelamatkan diri sendiri.
Mereka adalah orang yang bangkrut di dunia ini, yang karenanya kemudian
mempercayai Tuhan sebagai satu-satunya harapan bagi perlindungan serta
pembebasan mereka.
Saya
pernah ngobrol dengan seorang pengamen di cikarang ini, saat itu
memang dengan misi penginjilan (saya bagi traktat ke dia). Dia cerita bahwa
dulu bekerja di kapal. Tapi pindah profesi jadi pengamen. Dia cerita bahwa
kalau ngamen biasanya sehari itu dapat 200-300rb. Saya agak terkejut. Kalau orang
ngamen sehari dapat segitu berarti sebulan bisa 6-9jt. Pantesan sampai sekarang
ia ngamen. Ini bukan miskin. Kelihatannya miskin karena pakaian dan gaya
hidupnya tidak begitu mewah. Ia tidak sedikit pun sebenarnya merasa lemah dan
tidak berdaya.
Ketika
kita sudah menjadi Kristen, sikap hati lemah dan tidak berdaya lama kelamaan
mulai hilang. Kalau kita ingat pertama kali kita berkomitmen untuk hidup
sebagai seorang Kristen, ada suatu kesadaran dalam diri kita bahwa kita lemah.
Tapi lama-kelamaan kesadaran itu mulai hilang. Kita dibentuk menjadi Kristen
yang kuat. Ini benar di satu sisi, tapi kita meninggalkan sisi yang lain.
Apalagi lingkungan kita sering membentuk kita menjadi strong man atau strong woman.
Semakin dewasa artinya semakin mandiri, tidak bergantung dengan orang lain.
Semakin dewasa artinya malah semakin bisa menanggung beban orang lain juga. Ini
jelas salah. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa semakin dewasa secara rohani
berarti menjadi tidak bergantung dan selalu bisa menanggung beban orang lain.
Atau dengan kata lain semakin dewasa
rohani menjadi pahlawan rohani bagi
yang lain. Ini bukanlah pandangan yang sepenuhnya tepat diajarkan oleh alkitab.
Semakin
dewasa rohani artinya semakin melihat diri lemah dan tak berdaya tanpa
pertolongan Tuhan. Semakin dewasa rohani artinya semakin bergantung pada Tuhan. Musa,
selama di Mesir menerima pendidikan yang terbaik dan pasti dididik menjadi
pemimpin bagi orang mesir. Dalam suatu film “Ten
Commandments” memperkirakan
bahwa musa pun sebenarnya pernah memimpin pasukan perang Mesir dan berhasil
memperoleh kemenangan. Juga pernah terlibat dalam pembangunan Mesir misalnya
pembangunan Piramida dll. Namun dalam satu titik di hidupnya ia merasa begitu
lemah. Sampai ketika Tuhan bertemu Musa untuk menyatakan misiNya membebaskan
orang Israel, musa menjadi begitu minder sekali. Bahkan sampai mengatakan bahwa
ia tidak bisa berkata-kata sedikit pun. Ini sebenarnya self-pity yang
berlebihan. Namun di sisi lain, sikap musa ini menyatakan bahwa ia sadar ia
lemah dan tak berdaya. Ia sadar bahwa ia perlu pertolongan daripada Tuhan.
Sebagai
orang Kristen kita tidak dibentuk untuk menjadi orang-orang kuat dan pahlawan
rohani yang selalu kelihatan baik-baik saja. Tapi sebagai orang Kristen kita
dibentuk untuk terus menyadari kelemahan dan ketidakberdayaan kita di hadapan
Allah. Dan bukan berhenti di situ saja tapi menyadari dan mengakui bahwa pengharapan kita hanya ada pada
Allah saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar