Senin, 17 Februari 2014

Kaya di Hadapan Allah

Lukas 12:13-21

Dengan kejelasan secara ilahi, Kristus melihat konflik yang terjadi diantara kita semua disebabkan oleh cinta akan uang (bandingkan 1 Timotius 6:10), meskipun Dia hidup di zaman ketika kebutuhan orang-orang sepertinya lebih mudah dipuaskan daripada di zaman kita sekarang. Faktanya, memang uang berperan dalam kehidupan kita. Pada umumnya, dengan uang kita dapat tenang menjalani hidup, tanpa uang kita akan terus gelisah dan kuatir. Mencari uang tidaklah sepenuhnya salah. Menjadi salah ketika hal tersebut memperbudak kita. Dimana membuat kita melupakan Tuhan dan aspek hidup kita yang lain (misalnya kasih kepada sesama). Maka uang berpotensi menjadi mammon (satu lagi yaitu iblis) dalam hidup kita. Uang di tangan adalah kekuatan bagi yang memilikinya. Tetapi ketika apa yang ada di dalam tangan menentukan apa yang ada di dalam hati, maka apa yang sungguh-sungguh menggerakkan kita bukan lagi uang tetapi mammon (Mendekat kepada Allah, Abraham Kuyper). Salah satunya dalam hal menentukan penilaian terhadap segala sesuatu berdasarkan uang atau untung-rugi. Dan kita pasti tidak bisa mempunyai dua tuan (Matius 6:24). Tidak seorang pun dapat tunduk kepada Allah dan sekaligus tunduk kepada mammon. Orang-orang yang menyadari dirinya adalah hamba-hamba Allah mengerti bahwa uang itu melayani kita dan Tuhan. Dan tidak mudah tergoda akan hal-hal yang bersifat material dan sementara.

Orang kaya materi dan kaya rohani – Mungkin ada, tapi harus terus minta Tuhan selidiki hatinya apakah meninggikan Tuhan atau malahan mammon. Misalnya: Abraham, Ishak, Yakub.
Orang kaya materi dan miskin rohani – Orang memiliki harta duniawi dan mungkin sangat terikat, hatinya kosong (secara rohani) karena diisi dengan hal-hal yang bersifat sementara dan tidak mencintai Tuhan. Misalnya: Orang kaya (Lukas 12:13, 16-21), Orang muda kaya (Matius 19:16-23), Ananias & Safira (Kis. 5:1-11).
Orang miskin dan miskin rohani – orang yang tidak memiliki apa pun. Melihat kehidupan hanya menawarkan sedikit kebaikan tetapi penuh dengan masalah dan kekerasan hati yang tak pernah berakhir.
Orang miskin dan kaya rohani – Orang yang tetap melihat Allah terutama walaupun kesulitan secara materi. Misalnya: Lazarus (dalam perumpamaan Yesus, Lukas 16:20-22) dan Janda Miskin (Markus 14:42-44).

“Menjadi kaya di hadapan Allah adalah memiliki Dia, menjadi bait-Nya, membawa serta di dalam hati kita sesuatu yang suci dan mulia ke mana pun kita pergi. Menjadi kaya di hadapan Allah adalah disegarkan terus-menerus oleh sumber dari segala yang baik di hati seseorang yang paling dalam. Kekayaan yang diberikan Allah tidaklah terbatas sebab Dia kekal.” - Mendekat kepada Allah, Abraham Kuyper

Mendekat kepada Allah berarti memiliki keyakinan bahwa kekayaan kita ada di dalam Tuhan dan bukan dalam hal-hal dari dunia ini – dan kemudian menjalankan prinsip tersebut. - Mendekat kepada Allah, Abraham Kuyper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar