Lukas 12:13-21
Dengan kejelasan secara ilahi, Kristus melihat
konflik yang terjadi diantara kita semua disebabkan oleh cinta akan uang (bandingkan 1 Timotius 6:10), meskipun
Dia hidup di zaman ketika kebutuhan orang-orang sepertinya lebih mudah
dipuaskan daripada di zaman kita sekarang. Faktanya, memang uang berperan dalam
kehidupan kita. Pada umumnya, dengan uang kita dapat tenang menjalani hidup,
tanpa uang kita akan terus gelisah dan kuatir. Mencari uang tidaklah sepenuhnya
salah. Menjadi salah ketika hal tersebut memperbudak kita. Dimana membuat kita
melupakan Tuhan dan aspek hidup kita yang lain (misalnya kasih kepada sesama).
Maka uang berpotensi menjadi mammon (satu lagi yaitu iblis) dalam
hidup kita. Uang di tangan adalah kekuatan bagi yang memilikinya. Tetapi ketika apa
yang ada di dalam tangan menentukan apa yang ada di dalam hati, maka apa yang
sungguh-sungguh menggerakkan kita bukan lagi uang tetapi mammon (Mendekat
kepada Allah, Abraham Kuyper). Salah satunya dalam hal menentukan
penilaian terhadap segala sesuatu berdasarkan uang atau untung-rugi. Dan kita
pasti tidak bisa mempunyai dua tuan (Matius 6:24). Tidak seorang pun dapat tunduk kepada Allah dan
sekaligus tunduk kepada mammon. Orang-orang yang menyadari dirinya adalah
hamba-hamba Allah mengerti bahwa uang itu melayani kita dan Tuhan. Dan tidak
mudah tergoda akan hal-hal yang bersifat material dan sementara.
Orang kaya
materi dan kaya rohani – Mungkin ada, tapi harus terus minta Tuhan selidiki
hatinya apakah meninggikan Tuhan atau malahan mammon. Misalnya: Abraham, Ishak, Yakub.
Orang kaya
materi dan miskin rohani – Orang memiliki harta duniawi dan mungkin sangat
terikat, hatinya kosong (secara rohani) karena diisi dengan hal-hal yang
bersifat sementara dan tidak mencintai Tuhan. Misalnya: Orang kaya (Lukas 12:13, 16-21), Orang muda kaya (Matius 19:16-23),
Ananias & Safira (Kis. 5:1-11).
Orang miskin
dan miskin rohani – orang yang tidak memiliki apa pun. Melihat kehidupan
hanya menawarkan sedikit kebaikan tetapi penuh dengan masalah dan kekerasan
hati yang tak pernah berakhir.
Orang miskin
dan kaya rohani – Orang yang tetap melihat Allah terutama walaupun
kesulitan secara materi. Misalnya: Lazarus
(dalam perumpamaan Yesus, Lukas 16:20-22) dan Janda Miskin (Markus 14:42-44).
“Menjadi kaya di hadapan Allah adalah memiliki Dia,
menjadi bait-Nya, membawa serta di dalam hati kita sesuatu yang suci dan mulia
ke mana pun kita pergi. Menjadi kaya di hadapan Allah adalah disegarkan
terus-menerus oleh sumber dari segala yang baik di hati seseorang yang paling
dalam. Kekayaan yang diberikan Allah tidaklah terbatas sebab Dia kekal.” - Mendekat
kepada Allah, Abraham Kuyper
Mendekat
kepada Allah berarti memiliki keyakinan bahwa kekayaan kita ada di dalam Tuhan
dan bukan dalam hal-hal dari dunia ini – dan kemudian menjalankan prinsip
tersebut. - Mendekat kepada
Allah, Abraham Kuyper
Tidak ada komentar:
Posting Komentar