Sisyphus (1548-49) oleh Titian
Sisyphus adalah raja Ephyra (Korintus) yang tamak dan licik. Ia menantang para dewa dan mengikat Kematian (Hades, dewa kematian) sehingga tidak ada manusia yang perlu mati. Ketika dewa kematian terikat, manusia semakin menderita karena yang sakit dan tua tidak dapat mati sehingga mereka menderita terus-menerus. Ketika dewa kematian akhirnya dibebaskan dan tiba waktunya bagi Sisyphus sendiri untuk mati, dia mengarang tipuan yang membuatnya melarikan diri dari dunia bawah. Setelah akhirnya menangkap Sisyphus, para dewa memutuskan bahwa hukumannya akan berlangsung selama-lamanya. Dia harus mendorong batu ke atas gunung; setelah mencapai puncak, batu akan berguling kembali, meninggalkan Sisyphus untuk memulai kembali. Ini dia lakukan selama-lamanya. Hukuman Sisyphus adalah melakukan sesuatu yang tidak berguna dan tanpa ada harapan. Hukumannya adalah Kesia-siaan. Oleh karena itu orang yang melakukan kegiatan yang sia-sia atau tanpa akhir kadang-kadang digambarkan sebagai “Sisyphean.”
Kitab Pengkhotbah dikategorikan sebagai kitab hikmat. Terdapat beberapa kesalahpahaman terhadap kitab pengkhotbah. Pertama, kitab yang menunjukkan kesia-siaan hidup tanpa Tuhan. Kenyataannya adalah ini hanya salah satu yang diajarkan dalam Pengkhotbah dan tidak berhenti di sini. Kitab Pengkhotbah mengantar kita pada makna hidup yang sejati di dalam Kristus. Kedua, Kitab yang merupakan pemikiran orang yang jauh dari Tuhan. Kenyataannya, ini adalah Firman Tuhan yang mewahyukan kebenaran secara monolog melalui sudut pandang penulis yang dipimpin oleh Roh Kudus. Ketiga, kitab yang mengajarkan bahwa pengalaman dunia hanya akan menuju pada pesimisme. Kebenarannya, pesimisme hanya bagi yang hidup di bawah matahari.
Apa tema utama dari Kitab Pengkhotbah?
Pesan kitab Pengkhotbah dapat diringkas: “hidup itu sulit dan kemudian engkau mati.” Istilah “sia-sia” (meaningless) diulang lebih dari empat puluh kali. Kesia-siaan dimaksud adalah ketiadaan tujuan paling pokok (ultimat) dari hidup. Pengkhotbah menunjukkannya melalui usahanya mencari makna hidup dalam pekerjaan (2:18-23; 4:4-6), kenikmatan (2:1-11), kekayaan (5:10-6:9), hikmat (2:12-17), dan kuasa (4:13-16). Setiap kali dia menyimpulkan Kesia-siaan. Kematian (12:1-7), ketidakmampuan membedakan waktu yang tepat melakukan tindakan yang tepat (3:1-15), dan ketidakadilan (3:16-22; 7:15-18; 8:10-15) merupakan alasan mengapa hidup itu sia-sia. Kita hidup di bawah matahari, yang penuh dgn dosa dan ketidakadilan di mana manusia harus bekerja dengan susah payah kemudian mati (bdk. Kej. 3:17-19). Sia-sia berarti kefanaan, kerapuhan, dan ketidakpastian. Sia-sia berarti tidak mempunyai tujuan bernilai kekal karena hanya di bawah matahari.
Jadi, apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam hidupnya yang sia-sia?
Carpe diem! (“Seize the day!”). Enam kali dalam kitab ini, Pengkhotbah menganjurkan kesenangan kecil seperti makan dan minum untuk mengalihkan diri dari kenyataan hidup yang keras dan kematian yang tak terhindarkan (2:24-26; 3:12-14, 22; 5:18-20; 8:15; 9:7-10). Dan lebih daripada itu, takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya, (Pengkhotbah 12:13) dan nikmatilah hidup ini karena ini adalah pemberian Allah, (Pengkhotbah 2:24, 3:12-13, dll).
Bagaimana kitab yang mengajarkan kesia-siaan hidup (the meaningless of human life) menjadi sangat bermakna (meaningful)?
Kesia-siaan tidak dapat dikenali atau disadari begitu saja, hanya orang berhikmat yang menyadari kesia-siaan hidup “di bawah matahari.” Hal ini sama seperti hanya orang berhikmat yang tahu apa itu kebodohan. Hanya yang kenal terang yang menyadari apa itu kegelapan. Pascal, dalam Pensées, mengatakan: “Anyone who does not see the vanity of life must be very vain indeed.”
Pengkhotbah mengantar kita pada Yesus Kristus. Pengorbanan-Nya di salib berarti mematikan Kesia-siaan. Kristus mati kemudian bangkit berarti awal pengharapan manusia untuk hidup baru di dalam Dia. Yesus Kristus mati di kayu salib, mengalami kematian di mana kematian menjadi salah satu sebab hidup itu sia-sia menurut Pengkhotbah. Namun Tuhan Yesus Kristus menang atas kematian sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya juga mengalami kemenangan itu (1 Kor. 15:50-57). Dalam Kristus, yang telah mengalahkan kematian oleh kebangkitan-Nya, kita tahu bahwa “dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor. 15:58).
“Psalms teach us how to worship; Proverbs, how to behave; Job, how to suffer; Song of Solomon, how to love; Ecclesiastes, how to live.”
- J. I. Packer -