Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 12:13
Akhir kata dari segala yang didengar ialah takutlah akan Allah dan
peliharalah perintah-perintah-Nya, karena inilah kewajiban setiap orang.

Kesia-siaan, siapa yang mau? Dalam mitologi Yunani ada kisah
menggambarkan kesia-siaan. Sisyphus adalah
raja Ephyra (Korintus) yang tamak dan licik. Ia menantang para dewa dan
mengikat Kematian (Hades, dewa kematian) sehingga tidak ada manusia yang perlu
mati. Ketika dewa kematian terikat, manusia semakin menderita karena yang sakit
dan tua tidak dapat mati sehingga mereka menderita terus-menerus. Ketika dewa kematian
akhirnya dibebaskan dan tiba waktunya bagi Sisyphus sendiri untuk mati, dia
mengarang tipuan yang membuatnya melarikan diri dari dunia bawah. Setelah
akhirnya menangkap Sisyphus, para dewa memutuskan bahwa hukumannya akan
berlangsung selama-lamanya. Dia harus mendorong batu ke atas gunung; setelah
mencapai puncak, batu akan berguling kembali, meninggalkan Sisyphus untuk
memulai kembali. Ini yang dia lakukan selama-lamanya. Hukuman Sisyphus adalah
melakukan sesuatu yang tidak berguna dan tanpa ada harapan. Hukumannya adalah
Kesia-siaan.
Bukankah kita juga
tidak ingin hidup sia-sia? Banyak orang tidak mau hidup sia-sia. Tidak mau
menjadi Sisyphean. Sebagaimana dinyatakan oleh Peter Kreeft, “Ketakutan
terbesar di masa modern, bukanlah ketakutan akan kematian (yang merupakan
ketakutan terdalam manusia zaman kuno), atau ketakutan akan dosa atau rasa
bersalah atau Neraka (yang merupakan ketakutan terdalam manusia di abad
pertengahan), namun ketakutan akan ketidakberartian.”
Kitab Pengkhotbah
mungkin tampak seperti buku yang aneh, tetapi ini relevan sampai sekarang.
Terlalu banyak dari kita yang mengejar angin, mencari kepuasan dalam pekerjaan,
keluarga, dan kesuksesan. Semua hal yang baik, namun semua hal yang pada
akhirnya tidak memuaskan. Akan cukup buruk jika kita hanya gelisah,
berkelok-kelok sepanjang hidup, dan menjadi pengecut. Kita seringkali telah
spiritualisasi kegelisahan dan sikap pengecut kita, membuatnya terasa seperti
kesalehan. Kita tidak hanya menjalani kehidupan yang sia-sia; hasrat kita akan
Tuhan seringkali tidak lebih dari hasrat untuk memiliki Tuhan supaya melakukan
kehendak kita.
Selain, keberdosaan
diri (keraguan, ketakutan, kesombongan, egois, dll), dunia berdosa memberikan
banyak tantangan bagi kita. Peter Kreeft menyebut beberapa jalan dunia
menyembunyikan realita: pengalihan (diversion), propaganda palsu,
indifference (pengabaian), pengejaran kebahagiaan (the pursuit of happiness),
dan subjektivisme. Ada banyak hal di dunia ini berusaha mengalihkan
fokus kita lepas dari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (mis. kerja, keluarga,
materi, dll). Propaganda palsu seperti ajaran-ajaran seolah benar
dan menyenangkan untuk dijalani (mis. tradisi, self-love, kebebasan, agama,
toleransi, cinta uang, hedonism, materialisme, dll) – Lihat juga Kol. 2:8; 2
Ptr. 1:16; 2:3. Lalu, dunia membawa kita untuk mengabaikan
kebenaran. Seseorang berkata: “ada Tuhan”, tapi respon kita mengantuk dan tidak
peduli. Selain itu, kita didorong untuk mengejar kebahagiaan. Hal
ini sepertinya tidak salah, namun jadi jebakan untuk membuat kita tidak melihat
realita secara utuh dan kritis. Kalau Tuhan dan ajaran alkitab tidak membuat
kita bahagia (menurut pikiran dan standar dunia), maka kita mencari kebahagiaan
apa yang diberikan oleh dunia. Terakhir, subjektivisme yang
menekankan bahwa yang penting adalah “kebenaran menurutku.”
Kita mendapat
tekanan dari dalam diri dan dari dunia. Untuk dapat memaknai hidup kita, apa yang
harus kita lakukan?
Tuhan tidak
menempatkan kita dalam labirin, mematikan lampu, dan memberi tahu kita, “Keluar
dan semoga berhasil.” Di satu sisi, kita percaya pada kehendak Tuhan sebagai
rencana kedaulatan-Nya untuk masa depan kita. Dalam arti lain, kita menaati
kehendak Tuhan, firman-Nya yang baik untuk hidup kita.
Kehendak Tuhan
untuk hidup kita lebih sederhana, lebih sulit, dan lebih mudah dari itu. Lebih
sederhana, karena tidak ada rahasia yang harus kita temukan. Lebih sulit,
karena menyangkal diri sendiri, hidup untuk orang lain, dan menaati Tuhan lebih
sulit daripada mengambil pekerjaan baru dan banyak hal-hal sehari-hari dalam
hidup kita. Lebih mudah, karena Tuhan berdaulat, Ia memerintahkan apa yang Dia
kehendaki dan mengabulkan apa yang Dia perintahkan.
Dengan kata
lain, Tuhan memberi anak-anak-Nya keinginan untuk berjalan di jalan-Nya—bukan
dengan mengungkapkan serangkaian langkah berikutnya yang terselubung dalam
bayang-bayang, tetapi dengan memberi kita hati untuk menyenangi hukum-Nya.
Jadi
akhir dari masalahnya adalah: Hiduplah untuk Tuhan. Taati Firman-Nya.
Pikirkan orang lain sebelum diri kita sendiri. Hiduplah kudus. Cintai Yesus.
Dan saat kita melakukan hal-hal ini, lakukan apa pun yang kita suka, dengan
siapa pun yang kita suka, di mana pun kita suka, dan kita akan berjalan dalam
kehendak Tuhan. Maka, hidup kita tidaklah sia-sia.